Pemkot Bandung Bertekad Urai Masalah di Kawasan Dago, Antara Pusat Aktivitas Pariwisata dan Permukiman Warga

Bagaimana aktivitas industri pariwisata di Dago dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar, tanpa mengabaikan lingkungan dan kenyamanan warga.

Author Oleh: Rosmery C Sihombing
31 Januari 2026
<p>Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dalam Siskamling Siaga Bencana ke-80 di Kelurahan Dago, Jumat 30 Januari 2026. (Dok. Diskominfo Kota Bandung)</p>

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dalam Siskamling Siaga Bencana ke-80 di Kelurahan Dago, Jumat 30 Januari 2026. (Dok. Diskominfo Kota Bandung)

SOKOGURU, BANDUNG- Kelurahan Dago menghadapi tantangan berlapis, meskipun secara wilayah relatif kecil. Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berkomitmen mengurai berbagai persoalan kompleks di kawasan Dago, yang memiliki karakter unik. 

Pasalnya, Dago menjadi pusat aktivitas pariwisata sekaligus kawasan permukiman warga.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan hal itu dalam Siskamling Siaga Bencana ke-80 di Kelurahan Dago, Jumat, 30 Januari 2026.

Baca juga: Inflasi Kota Bandung 2025 Terendah Kelima di Jawa Barat, BPS Sebut Wisata dan Hotel Terus Menguat

“Siskamling hari ini masalahnya sangat kompleks di Kelurahan Dago yang kecil ini, tapi di sinilah pusat industri pariwisata di Kota Bandung,” ujarnya, seperti dikutip Diskominfo Kota Bandung.

Menurut Wali Kota Farhan, tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana aktivitas industri pariwisata dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar, tanpa mengabaikan aspek lingkungan dan kenyamanan warga.

“Permasalahannya adalah bagaimana industri pariwisata ini kemudian bisa bersentuhan dan memberikan manfaat langsung kepada warga masyarakat,” imbuhnya.

Baca juga: Perkuat Pengelolaan Air Limbah Domestik, Kota Bandung Jalin Kolaborasi dengan Kota Kawasaki Jepang

Farhan menyebutkan, persoalan yang muncul mencakup kemacetan, kebersihan, hingga daya dukung lingkungan yang harus menjadi perhatian bersama.

Lebih lanjut, ia berpendapat, penanganan persoalan di kawasan Dago membutuhkan pendekatan saling menyesuaikan antara industri dan masyarakat.

“Kita akan mencari titik tengah untuk saling menyesuaikan, baik industri maupun masyarakat harus saling menyesuaikan,” ujarnya.

Baca juga: Kota Bandung Aktifkan 1.597 RW Tangani Sampah, Berkolaborasi dengan Kewilayahan dan Dunia Usaha

Dalam kesempatan tersebut, Farhan juga menyinggung pentingnya peran warga dalam menjaga lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko melalui kegiatan siskamling.

Menurutnya, keterlibatan aktif masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi kompleksitas persoalan di kawasan perkotaan.

“Ini semua mesti kita tangani bersama,” tuturnya. (SG-1)