Perkuat Pengelolaan Air Limbah Domestik, Kota Bandung Jalin Kolaborasi dengan Kota Kawasaki Jepang

Berdasarkan hasil survei, 89% peserta mengaku pemahamannya meningkat setelah seminar dan tiga bulan kemudian, 80% mulai menerapkan perubahan perilaku.

Author Oleh: Rosmery C Sihombing
22 Januari 2026
<p>Manajer Unit Promosi Proyek Internasional, Misu Yukihiko (kiri) bersama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di Pendopo Kota Bandung, Rabu 21 Januari 2026. (Dok. Diskominfo Kota Bandung)</p>

<p> </p>

Manajer Unit Promosi Proyek Internasional, Misu Yukihiko (kiri) bersama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di Pendopo Kota Bandung, Rabu 21 Januari 2026. (Dok. Diskominfo Kota Bandung)

 

SOKOGURU, BANDUNG- Saat ini, lebih dari 80% wilayah Bandung masih mengandalkan sistem perpipaan air limbah dan septic tank. 

Namun, masih ditemukan persoalan seperti sambungan pipa yang belum terhubung dengan baik sehingga limbah rumah tangga mengalir langsung ke sungai, serta septic tank yang tidak disedot secara berkala dan berpotensi bocor.

Hal itu disampaikan Manajer Unit Promosi Proyek Internasional, Misu Yukihiko saat memaparkan tantangan utama pengelolaan air limbah domestik di Kota Bandung, di Pendopo Kota Bandung, Rabu 21 Januari 2026.

Baca juga: Siapkan Penanganan Banjir Anak Sungai Cinambo, Pemkot Bandung Gandeng Kementerian PU dan PLN

“Karena itu, kami menilai peningkatan kepedulian masyarakat menjadi poin penting yang harus dimasukkan dalam proyek Kerja sama antara Kota Bandung dan Kota Kawasaki,” katanya, seperti dikutip Diskominfo Kota Bandung.

Kota Bandung melakukan kerja sama dengan Kota Kawasaki, Jepang, dalam upaya perbaikan lingkungan air. Kerja sama tersebut  menunjukkan hasil positif. 

Misu Yukihiko, memaparkan materi terkait perjalanan dan capaian proyek kerja sama teknis yang dikenal dengan nama Bandung City and Kawasaki City Gesuido Project (BKG).

Baca juga: Kota Bandung Aktifkan 1.597 RW Tangani Sampah, Berkolaborasi dengan Kewilayahan dan Dunia Usaha

Proyek BKG, sambungnya, melibatkan sejumlah perangkat daerah di Kota Bandung, di antaranya Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Perumda Tirtawening. 

Tujuan utamanya adalah meningkatkan pengetahuan dan kapasitas staf pemerintah kota, perusahaan daerah, serta masyarakat terkait perbaikan lingkungan air, sekaligus menyebarluaskan praktik baik tersebut ke masyarakat yang lebih luas.

Selama tiga tahun pelaksanaan proyek, imbuh Misu, tercatat 13 kegiatan dilakukan di Kota Bandung dengan melibatkan 54 staf dari Pemkot Kawasaki. 

Baca juga: Pariwisata Bandung Mulai Bangkit, Wali Kota Farhan Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Stabil di Atas 5 Persen

Sebaliknya, staf dari Kota Bandung juga mengikuti lima kali pelatihan di Kawasaki dengan total 25 peserta. Secara keseluruhan terdapat sekitar 50 pertemuan yang telah dilaksanakan, baik di Bandung maupun di Kawasaki.

Berbagai output pun berhasil dicapai. 

Untuk output pertama, tim proyek menyusun material edukasi bagi staf dan masyarakat, termasuk video dan materi visual dengan karakter khusus agar pesan mudah dipahami. 

Output kedua berupa peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan pengelolaan air limbah, dengan dua kali pelatihan staf yang diikuti 172 orang. Hasilnya, sebanyak 84% peserta mengalami peningkatan pemahaman.

Sedangkan output ketiga difokuskan pada peningkatan kesadaran masyarakat. Dua kali seminar telah digelar dengan melibatkan 338 siswa sekolah dasar kelas 4 beserta orang tuanya. 

Berdasarkan hasil survei, 89% peserta mengaku pemahamannya meningkat setelah seminar dan tiga bulan kemudian, 80% di antaranya mulai menerapkan perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Terkait keberlanjutan, Misu menekankan pentingnya mekanisme berantai dalam penyebaran pengetahuan. Para kontraparti yang telah dilatih diharapkan mampu melatih staf lain, yang kemudian meneruskan edukasi kepada masyarakat luas. 

Ke depan, ada tiga fokus utama yang diharapkan terus berjalan, yakni pelatihan berkelanjutan bagi staf, penguatan kapasitas di tingkat distrik, serta penyediaan material edukasi untuk pembelajaran di sekolah dasar.

“Kami berharap mekanisme ini bisa mengakar di masyarakat Kota Bandung dan pada akhirnya menyebar ke wilayah yang lebih luas di Indonesia,” tutur Misu. (SG-1)