PENGGUNAAN jargon ‘Asian Values’ dan diterjemahkan sebagai ‘Budaya Asia’ tengah viral dan trending topic di Indonesia.
Baru-baru istilah Asian Value telah dimanfaatkan sebagai alat pembelaan oleh sekelompok orang yang membela kekuasaan yang mengabaikan nilai demokrasi dan keadilan,.
Bukan berarti Asian Value tak baik namun tak sedikit ‘Asian Value’ yang tidak selaras dengan nilai-nilai demokrasi dan Pancasila dan dapat mengakibatkan konflik nilai dan interpretasi yang salah.
Misalnya, Asian Value yang menekankan ‘otoritarianisme' dengan mendukung kepemimpinan yang anti-kritik dan tak taat perundang-undangan dapat bertentangan dengan prinsip demokrasi yang menekankan partisipasi dan keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.
Baca juga: Menyongsong Era UMKM Hijau: Tantangan dan Harapan
Sementara itu, demokrasi mengutamakan kebebasan berekspresi, hak untuk berpendapat, dan proses pemilihan yang adil.
Asian Value lain adalah ‘konformitas sosial’ yang menekankan kepatuhan dan keseragaman tanpa ruang untuk perbedaan pendapat dapat menghambat kebebasan individu yang dijamin oleh demokrasi dan Pancasila.
Demokrasi menghargai keragaman dan perbedaan pendapat sebagai bagian dari proses pembangunan bangsa.
Tinggalkan dulu jargo Asian Value yang terkait politik. Ternyata ada beberapa nilai Budaya Asia (Asian Values) yang mungkin tidak cocok atau menghambat pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Beberapa di antaranya adalah:
Pertama. Hierarki dan Struktur Kaku: Banyak budaya Asia sangat menghargai hierarki dan struktur organisasi yang kaku.
Hal ini dapat menghambat kreativitas dan inovasi di UMKM yang membutuhkan fleksibilitas dan adaptabilitas.
Kedua.Konformitas Sosial: Nilai konformitas yang tinggi dapat menghambat individu untuk berpikir di luar kotak dan mengambil risiko yang diperlukan dalam mengembangkan bisnis UMKM.
Baca juga: Hari UMKM Internasional: Angkat Peran Vital UMKM di Tengah Krisis Global
Ketiga. Kepatuhan Tanpa Pertanyaan.: Budaya yang menekankan kepatuhan kepada otoritas tanpa mempertanyakan dapat mengurangi inisiatif dan kreativitas di kalangan karyawan UMKM, yang seharusnya berkontribusi pada pengembangan bisnis.
Keempat. Ketergantungan pada Hubungan Pribadi: Sementara hubungan pribadi penting, terlalu mengandalkan mereka dapat menghambat objektivitas dan profesionalisme dalam bisnis UMKM, mengarah pada praktik nepotisme dan mengabaikan meritokrasi.
Baca juga: Pengawasan E-Commerce, Kunci Pertahanan Produk UMKM Lokal
Kelima. Rasa Malu dan Takut Gagal: Budaya yang menekankan rasa malu dan takut gagal dapat menghambat pengusaha UMKM untuk mengambil risiko yang diperlukan dalam bisnis, menghambat inovasi dan pertumbuhan.
Keenam. Kolektivisme yang Berlebihan: Meskipun kerja sama dan harmoni penting, terlalu banyak menekankan kolektivisme dapat menghalangi inisiatif individu dan ide-ide baru yang bisa mendorong perkembangan UMKM.
Mengatasi hambatan ini memerlukan keseimbangan antara menghargai nilai-nilai budaya dan mengadopsi praktik-praktik bisnis modern yang mendukung inovasi, kreativitas, dan pertumbuhan. (SG-2)