Kementan Bekali Penyuluh dan Petani Strategi Tanam Cerdas dalam Hadapi Hujan Ekstrem

Penguasaan ilmu klimatologi penting dalam strategi tanam. Pemanfaatan data dan prediksi cuaca jadi kunci dalam mengantisipasi risiko iklim di sektor pertanian.

Author Oleh: Rosmery C Sihombing
26 Januari 2026
<p>Perubahan iklim yang memicu hujan ekstrem dan meningkatkan risiko banjir menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian. (Dok. Kementan)</p>

Perubahan iklim yang memicu hujan ekstrem dan meningkatkan risiko banjir menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian. (Dok. Kementan)

SOKOGURU, MANOKWARI- Cuaca ekstrem merupakan ancaman serius bagi produktivitas pertanian karena memicu ketidakpastian musim tanam, kekeringan, dan banjir, yang berpotensi meningkatkan risiko gagal panen.

Perubahan iklim yang memicu hujan ekstrem dan meningkatkan risiko banjir menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian, khususnya dalam menjaga stabilitas produksi padi nasional. 

Kondisi itu menuntut langkah yang lebih adaptif dan terukur untuk menekan risiko gagal panen.

Baca juga: Kementan Perkuat Hilirisasi Perkebunan di Timur Indonesia, Tinjau UPH Sagu Halmahera Barat

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menagaskan itu dalam beberapa kesempatan, seperti dirilis Kementerian Pertanian (Kementan), Senin, 26 Januari 2026.  

“Kita harus melakukan mitigasi risiko agar dampaknya tidak mengganggu ketahanan pangan,” ujarnya.

Sejalan dengan Mentan Amran, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan, perubahan iklim ekstrem meningkatkan risiko gagal panen akibat fluktuasi suhu, perubahan pola curah hujan, dan kejadian cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi.

“Fenomena ini menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian Indonesia, sehingga sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian diperlukan penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap iklim,” ujarnya.

Baca juga: Kementan Perkenalkan Inovasi Terbaru pada Inside di INAGRITECH

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari, Papua Barat, menggelar Millennial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 4 bertema Antisipasi Banjir dan Perubahan Iklim: Strategi Tanam Cerdas untuk Meningkatkan Produksi Padi.

Forum yang menjadi wadah peningkatan literasi iklim serta penguatan kapasitas penyuluh, petani, dan generasi muda pertanian dalam merespons risiko cuaca ekstrem itu digelar, Sabtu, 24 Januari lalu.

Webinar itu diikuti oleh dosen dan mahasiswa, penyuluh pertanian, serta petani dari berbagai daerah. 

Para peserta diharapkan mampu mengaplikasikan strategi tanam cerdas berbasis iklim di lapangan guna meminimalkan dampak hujan ekstrem dan potensi banjir terhadap produksi pangan.

Baca juga: Tanpa Menunggu Panen Raya Usai, Kementan Tancap Gas Memulai Pertanaman di Indramayu dan Subang

Untuk memperkaya perspektif strategi adaptasi, forum menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, dan pelaku lapangan, antara lain Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Papua,Prof. Dr. Antonius Suparno, M.P. ; Pengamat Meteorologi dan Geofisika Penyelia, Fadri Prasetya, S.Tr., Met., dan Sekretaris Brigade Pangan Sejahtera 1, Feri Irawan. 

Antonius menekankan pentingnya penguasaan ilmu klimatologi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam strategi tanam. Menurutnya, pemanfaatan data dan prediksi cuaca menjadi kunci dalam mengantisipasi risiko iklim di sektor pertanian.

“Dengan memahami prediksi cuaca, petani dan pemerhati pertanian dapat melakukan antisipasi dini. Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan fenomena nyata yang sudah dan sedang terjadi,” jelasnya.

Sementara itu, Fadri Prasetya menjelaskan, mitigasi perubahan iklim perlu dilakukan secara terpadu, mulai dari pembangunan infrastruktur pengendali banjir, normalisasi sungai, penerapan sistem peringatan dini, hingga adaptasi berbasis alam.

“Perubahan iklim adalah threat multiplier. Karena itu, kesiapsiagaan dan perubahan perilaku terhadap alam merupakan investasi mutlak bagi keselamatan dan keberlanjutan pertanian di masa depan,” paparnya.

Berbagi pengalaman lapangan, Feri mengajak petani untuk menerapkan strategi adaptasi melalui percepatan pengolahan lahan dan ketepatan waktu tanam sebagai kunci menjaga produktivitas padi di tengah cuaca ekstrem.

Ia menuturkan bahwa dukungan pemerintah melalui penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta keterlibatan pihak swasta, telah mempercepat proses pengolahan lahan dibandingkan metode konvensional, sehingga petani tidak kehilangan momentum masa tanam yang krusial.

Menutup kegiatan, Kepala Pusat Pendidikan, Muhammad Amin, menegaskan, tema yang diangkat relevan dengan kondisi curah hujan tinggi di berbagai wilayah serta mendukung mitigasi risiko terhadap program strategis Kementerian Pertanian.

“Swasembada pangan harus bersifat berkelanjutan dan didukung strategi adaptif. Banjir dan iklim ekstrem tidak boleh menghentikan produksi. Jika satu lokasi terkendala, potensi lahan lain harus dioptimalkan agar produktivitas tetap terjaga,” ujarnya. (SG-1)