SOKOGURU, PURWOKERTO- Mahasiswa diajak untuk mengembangkan jiwa wirausaha sejak dini dan berorientasi menjadi eksportir. Untuk itu, mahasiswa bisa memanfaatkan program Kementerian Perdagangan (Kemendag) ‘Dari Lokal untuk Global’ mulai tahun ini.
Salah satu kegiatan dalam program tersebut adalah Campuspreneur, sebuah inisiatif strategis Kemendag untuk memperkuat kapasitas wirausaha sekaligus membuka akses ke pasar global.
Menteri Perdagangan Budi Santoso (Mendag Busan) menyampaikan ajakan tersebut dalam pembukaan simposium Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (BEM PTMA) secara daring di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jawa Tengah, Jumat, 16 Januari 2026.
Baca juga: Mendag Budi Minta Para Wisudawan Universitas Sahid Tangkap Peluang Berwirausaha
Dalam acara yang mengusung tema Redefinisi Peran Mahasiswa PTMA: Mengawal Konsolidasi Demokrasi dan Kedulatan Menuju Indonesia Emas 2045 itu, Mendag menjelaskan, Campuspreneur menjadi salah satu dari empat klaster kegiatan yang ada dalam program Kemendag.
“Sementara ketiga lainnya, yaitu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor); Desa Bisa Ekspor; dan Kemitraan UMKM,” ujarnya, seperti dikutip Keterangan resmi Kemendag, Sabtu, 17 Januari.
“Untuk memunculkan dan melatih jiwa kewirausahaan, Kemendag memiliki program Campusprenuer, yakni sebuah bentuk kerja sama dengan universitas dalam bentuk pelatihan ekspor dan pendampingan desain produk,” imbuh Mendag Busan.
Baca juga: Kementerian UMKM Jalin Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi untuk Kembangkan UMKM
Campuspreneur, sambungnya, merupakan upaya kerja sama pemerintah dengan institusi pendidikan untuk melahirkan generasi muda yang memiliki jiwa wirausaha.
Program itu berfokus pada pengembangan produk ekspor, pengembangan pelaku usaha ekspor, dan pengembangan pasar ekspor. Campuspreneur terbuka untuk umum sehingga tepat untuk dimanfaatkan mahasiswa yang berminat berwirausaha.
Sementara itu, menanggapi pentingnya peran wirausahawan dalam percepatan pertumbuhan ekonomi nasional, Mendag Busan berpendapat, kolaborasi institusi pendidikan dan pemerintah menjadi penting.
Baca juga: Kembangkan UMKM BISA Ekspor, Kemendag Gandeng Perguruan Tinggi dan Kemen UMKM
Menurutnya, sinergi antara dunia pendidikan dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menciptakan inovasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta merespons tantangan perekonomian global.
“Program pemerintah memiliki kesamaan dengan visi dan misi Muhammadiyah untuk Islam yang berkemajuan,” katanya lagi. Busan juga memaparkan sejumlah program prioritas Kementerian Perdagangan yang membuka ruang bagi kontribusi akademisi dan mahasiswa.
Sementara itu, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (BEM KM UMP), Yugo Dwi Yuwono, menyambut baik, program kerja sama pengembangan kewirausahaan yang dimiliki oleh Kementerian Perdagangan.
Menurutnya, simposium ini menjadi wadah untuk membicarakan masa depan Indonesia khususnya Islam yang berkemajuan.
“Selain itu, Program Campuspreneur yang dimiliki Kementerian Perdagangan sejalan dengan visi misi Muhammadiyah menciptakan Islam yang berkemajuan khususnya menciptakan peluang generasi muda yang mandiri melalui kewirausahaan,” jelasnya.
Pilar Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Di hadapan para mahasiswa, Mendag Busan memaparkan performa positif neraca perdagangan Indonesia. Pada November 2025 Indonesia mencatat surplus sebesar USD2,66 miliar.
Pencapaian itu menopang capaian kumulatif Januari–November 2025 yang sebesar USD38,54 miliar. Struktur ekspor masih didominasi oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 80,27%.
Selain itu, Mendag Busan menyoroti tantangan global seperti proteksionisme, ketegangan geopolitik, dan isu perubahan iklim yang mulai memengaruhi kebijakan perdagangan internasional.
Merespons hal itu, kata Busan, pemerintah menyiapkan strategi komprehensif seperti penguatan kerja sama perdagangan internasional, deregulasi impor bahan baku, upaya mendorong substitusi impor dengan produk dalam negeri untuk memperkuat daya tahan ekonomi nasional, dan upaya memelopori reformasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
“Banyak negara yang memberlakukan kebijakan proteksionis dan ini tidak sesuai dengan aturan WTO. Indonesia dan beberapa negara mempertanyakan eksistensi WTO dan sepakat untuk memelopori agenda reformasi WTO pada bulan Maret nanti di Afrika (KTM ke-14 WTO di Kamerun),” pungkas Mendag Busan. (SG-1)