Pertamina Gandeng Gapulimgi Libatkan Masyarakat Bangun Ekosistem Nasional Minyak Jelantah Berkelanjutan

Tanpa partisipasi aktif masyarakat, rantai pasok minyak jelantah nasional tidak akan optimal. Rumah tangga diarahkan salurkan lewat bank sampah atau pengepul.

Author Oleh: Rosmery C Sihombing
16 Februari 2026
<p>Pertamina dan GAPULIMGI kolaborasi bangun ekosistem minyak jelantah ( used cooking oil/UCO) nasional, libatkan warga dukung SAF. (Dok. Pertamina)</p>

Pertamina dan GAPULIMGI kolaborasi bangun ekosistem minyak jelantah ( used cooking oil/UCO) nasional, libatkan warga dukung SAF. (Dok. Pertamina)

SOKOGURU, JAKARTA- Lebih dari 60% konsumsi minyak goreng nasional berasal dari sektor rumah tangga dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), sehingga volume terbesar minyak jelantah (used cooking oil/UCO) berada di tingkat masyarakat.

Untuk itu, dalam membangun ekosistem nasional pengelolaan minyak  jelantah, partisipasi masyarakat merupakan faktor krusial dalam membangun rantai pasok nasional.

Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Gabungan Pengusaha Limbah Minyak Goreng Indonesia (Gapulimgi) Tommy Lim, dalam keterangan resmi Kementerian BUMN, Minggu, 15 Februari 2026.

Baca juga: Berkontribusi bagi Energi Terbarukan Noovoleum Ubah Minyak Jelantah Jadi Energi

Pernyataan tersebut terkait kolaborasi yang dibangun antara Pertamina  bersama Gapulimgi dalam membangun ekosistem nasional pengelolaan minyak  jelantah berkelanjutan.

“Kolaborasi dengan Pertamina ini tidak hanya memperkuat rantai pasok, tetapi juga memberikan kepastian pasar bagi pelaku pengumpulan, UMKM, dan masyarakat,” ujar Tommy.

Menurutnya, sinergi itu menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam rantai pasok bahan baku energi hijau, khususnya untuk mendukung pengembangan Austainable Aviation Fuel (SAF) .

Baca juga: Mahasiswa ITB Juara I Pertamina Energynovation Ideas Competition, Ajang Lahirnya Solusi Energi Nyata

“Tanpa partisipasi aktif masyarakat, rantai pasok UCO nasional tidak akan optimal,” imbuh Tommy.

Keterlibatan masyarakat, sambungnya,  memastikan pasokan stabil sekaligus menekan praktik ilegal seperti daur ulang minyak jelantah menjadi minyak konsumsi, serta mendukung pencapaian target energi berkelanjutan.

Untuk mendorong keterlibatan tersebut, ujar Tommy lagi, pihaknya berperan sebagai pusat edukasi dan advokasi.

Baca juga: Inacraft 2026 Ditutup, UMKM Binaan Pertamina Digemari Buyer Asing,Transaksi Tembus Rp7,5 Miliar

Upaya tersebut dilakukan melalui penyusunan materi edukasi sederhana, pelatihan, kampanye publik, serta kolaborasi dengan sekolah, komunitas, pemerintah daerah, dan pelaku usaha.

“Gapulimgi juga mendorong skema pengumpulan minyak jelantah. Upaya ini dilakukan melalui penyusunan materi edukasi sederhana, pelatihan, kampanye publik, serta kolaborasi dengan sekolah, komunitas, pemerintah daerah, dan pelaku usaha,” jelas Tommy.

Gapulimgi, lanjutnya,  juga mendorong skema pengumpulan minyak jelantah yang berlapis dan fleksibel.

"Rumah tangga diarahkan untuk menyimpan minyak jelantah dalam botol dan menyalurkannya melalui bank sampah, drop point, atau pengepul resmi,” ujarnya.

Di sisi lain, UMKM dan pelaku usaha kuliner difasilitasi melalui kemitraan dengan aggregator atau pengumpul terdaftar untuk pengambilan berkala, lengkap dengan skema insentif serta standar mutu yang jelas.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyampaikan, kolaborasi itu merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong transisi energi yang inklusif sekaligus berdampak langsung bagi masyarakat.

“Melalui kolaborasi dengan Gapulimgi, kami mendorong keterlibatan aktif masyarakat dan UMKM dalam rantai pasok energi hijau, sehingga transisi energi dapat berjalan seiring dengan penciptaan nilai sosial bagi masyarakat,” terangnya.

Baron menambahkan, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari komunitas hingga pelaku usaha, menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem UCO yang berkelanjutan dan transparan.

“Inisiatif ini mencerminkan komitmen Pertamina untuk menghadirkan solusi energi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan partisipasi publik menjadi kunci agar pengelolaan minyak jelantah dapat berkembang sebagai kebiasaan baru yang positif di Indonesia.

Pengembangan ekosistem minyak jelantah ini juga menjadi bagian dari upaya Pertamina mewujudkan visi Asta Cita pemerintah, terutama dalam mencapai swasembada energi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

​​Melalui Subholding Downstream, Pertamina menjalin kerja sama dengan GAPULIMGI dalam pengembangan ekosistem rantai pasok Used Cooking Oil (UCO).

Kolaborasi ini mencakup penjajakan penguatan rantai pasok UCO, peningkatan kapasitas pelaku usaha, penyusunan kerangka komersial, hingga advokasi kebijakan bersama pemerintah guna mendukung pertumbuhan industri biofuel nasional. (SG-1)