SOKOGURU - Kabar tentang darurat cuaca kembali mencuat setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan bahwa wilayah Indonesia kini tidak sepenuhnya aman dari lintasan siklon tropis.
Perkembangan ini ditandai dengan kemunculan Bibit Siklon Tropis 95B yang kemudian menguat menjadi Siklon Tropis Senyar di perairan Selat Malaka.
Fenomena ini menegaskan dinamika atmosfer Nusantara yang semakin bergejolak dan memperkuat tren lima tahun terakhir, di mana badai tropis semakin mendekat dan bahkan memasuki kawasan maritim Indonesia.
Senyar, saat ini, diperkirakan bergerak menuju wilayah Aceh dan berpotensi memicu hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrim, angin kencang, serta risiko banjir dan tanah longsor.
Baca Juga:
Dari Bibit Menjadi Badai
Senyar bermula dari sistem tekanan rendah, atau yang biasa disebut Bibit Siklon 95B, yang terdeteksi di perairan hangat Selat Malaka, tepatnya di timur Aceh.
Dalam waktu yang tergolong singkat, sistem ini mengalami evolusi menjadi siklon tropis.
Evolusi terjadi karena adanya suplai energi panas yang signifikan dari permukaan laut, yang berfungsi sebagai "bahan bakar."
Suplai energi ini memicu pembentukan awan konvektif raksasa dan putaran atmosfer yang kuat, menandai transisi dari bibit siklon menjadi sistem badai tropis yang terstruktur.
Secara struktur, pusat Senyar tercatat berada di sekitar koordinat 5 derajat Lintang Utara dan 98 derajat Bujur Timur.
Tekanan minimumnya mencapai 998 hPa dengan kecepatan angin maksimum sekitar 43 knot atau setara dengan 80 km/jam.
Angka-angka ini menempatkan Senyar dalam kategori siklon tropis berkekuatan sedang, namun kedekatannya dengan daratan seperti Aceh dan Sumatera Utara menjadikannya ancaman hidrometeorologis yang serius.
Lokasi yang Langka dan Berisiko Tinggi
Yang membuat Siklon Tropis Senyar menjadi perhatian khusus adalah lokasi pembentukannya.
Berbeda dengan badai tropis pada umumnya yang sering terjadi di perairan terbuka seperti Samudra Hindia, Senyar terbentuk di Selat Malaka, perairan yang sangat dekat dengan aktivitas masyarakat dan pelayaran.
Secara teoritis, siklon tropis membutuhkan gaya Coriolis yang cukup untuk memutar sistem, yang biasanya hanya memadai pada lintang 5 hingga 20 derajat dari garis khatulistiwa.
Daerah yang terlalu dekat dengan ekuator seharusnya tidak mendukung pembentukan badai karena gaya Coriolisnya sangat lemah.
Namun, kemunculan Senyar di lokasi ini membuktikan bahwa realitas atmosfer saat ini tidak lagi mengikuti "pakem" atau teori lama.
BMKG secara khusus menyebut bahwa meningkatnya suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature/SST) di perairan Indonesia menjadi pemicu utama perubahan ini.
Perairan yang semakin menghangat menyediakan "bahan bakar" yang lebih mudah untuk pembentukan badai tropis, yang merupakan indikator penting dari perubahan iklim global.
Dampak dan Kewaspadaan Lanjutan
Dampak yang ditimbulkan oleh Senyar diperkirakan meluas. Selain potensi hujan ekstrem, sistem siklon ini dapat memicu:
1. Angin kencang.
2. Banjir bandang dan banjir pesisir (rob).
3. Tanah longsor dan pohon tumbang.
4. Gelombang tinggi antara 2,5 hingga 4 meter di Selat Malaka bagian utara, perairan Aceh, dan Samudera Hindia barat Aceh hingga Nias.
Ancaman ini tidak hanya ditujukan kepada masyarakat daratan, tetapi juga sangat berbahaya bagi sektor pelayaran dan nelayan.
Meskipun diproyeksikan melemah menjadi depresi tropis dalam kurun waktu 48 jam ke depan, Senyar tetap menyisakan potensi bahaya lanjutan.
Pelemahan sistem atmosfer tidak berarti ancaman langsung hilang. Kelembapan tinggi dan sisa energi dari badai dapat memicu curah hujan ekstrem hingga dua atau tiga hari setelah pusat siklon meredup.
Oleh karena itu, wilayah Aceh, Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Riau, dan Sumatra Barat tetap berada dalam status kewaspadaan tinggi.
Mitigasi yang Efektif
BMKG menegaskan bahwa upaya mitigasi menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) tidak dapat digunakan untuk menangani siklon tropis.
Hal ini disebabkan oleh skala badai yang terlalu besar, pergerakan yang cepat, dan risiko keselamatan yang sangat tinggi bagi tim operasi.
Satu-satunya pendekatan yang diakui paling efektif adalah:
1. Kesiapsiagaan masyarakat.
2. Perencanaan respons di tingkat daerah.
3. Literasi publik terhadap tanda-tanda dan informasi peringatan dini.
Ex-Siklon Tropis Senyar Melemah dan Menjauhi Indonesia
Berdasarkan pemantauan pada pukul 07.00 WIB, Kamis (27/11/2025), Siklon Tropis Senyar telah mengalami pelemahan intensitas dan diklasifikasikan menjadi EX-Siklon Tropis Senyar.
Pusatnya terpantau di sekitar wilayah daratan timur Aceh (sekitar 3.7 derajat LU, 99.2 derajat BT), dengan kecepatan maksimum yang menurun menjadi 30 knot (56 km/jam), dan tekanan udara minimum 1001 hPa.
Prediksi BMKG menunjukkan bahwa kecepatan maksimum dari EX-Siklon Tropis Senyar akan terus menurun dalam 24 jam ke depan dan akan bertransisi menjadi Tropical Depression/Low, dengan pergerakan menjauhi wilayah Indonesia ke arah Timur. (*)