Sukses Berbisnis Hijab Hingga Melenggang ke Pasar Global

Baik Kami Idea maupun Honey Habbit tidak ingin terlibat dalam perang harga dengan produk impor. Pelaku usaha hijab lokal ini lebih memilih bersaing  di kualitas dan desain yang menjadi faktor penentu.
 

Author Oleh: Rosmery C Sihombing
19 Februari 2025
Dok. Kami Idea

MEMBUKA usaha atau berbisnis hijab memang masih memberi peluang cukup besar. Pasalnya, Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

 

Menurut Data World Economic Forum (WEF), yang dikutip dari laman texco.co.id,  sejak  2022 pasar hijab di Indonesia sudah mencapai 1,02 miliar  per tahun, dengan nilai transaksi mencapai sekitar USD6,09 miliar atau setara Rp91,135 triliun.

 

Masih menurut texco.co.id yang mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) 2013 jumlah perusahaan yang bergerak di sektor fesyen Muslim mencapai 1.107.955 unit.

 

Baca juga: Menambah Koleksi Hijab Jelang Ramadan

 

Sekitar 10% adalah perusahaan besar, 20% menengah, dan 70% merupakan usaha kecil. Setelah 12 tahun sejak data itu dilansir, jumlah tersebut tentu saja bertambah.

 

Salah satu pelaku usaha modest fashion ternama, Kami Idea juga memulai usahanya dengan berjualan hijab. 

 

Awalnya, tiga sahabat  yakni Istafiana Candarini (Irin), Nadya Karina (Karin), dan Afina Candarini memulai usaha tersebut di sebuah workshop kecil di rumah pada 2009.

 

Baca juga: Hari Hijab Sedunia: Menjaga Aurat, Kebebasan Berekspresi Hingga Pelengkap Fesyen

 

Dengan modal Rp15 juta dan satu karyawan, ketiganya meluncurkan Kami Idea, sebuah brand fesyen lokal yang awalnya hanya fokus pada aksesoris tie-dye. 

 

Kini, setelah 16 tahun, brand mereka berhasil mencuri perhatian di New York Fashion Week 2024.

 

Awalnya, Irin, Karin dan Afina yang merupakan adik kandung Irin, hanya membuat aksesoris tie-dye, seperti kalung dan scarf, yang dijual di pameran-pameran lokal. Namun, permintaan pasar justru mengarahkan ke produk hijab. 

 

Baca juga: Yuk Berburu Fesyen di Hijab Expo Indonesia, Trans Studio Mall, Bandung !

 

"Kami tidak sengaja masuk ke hijab. Awalnya membuat scarf untuk mode di leher, tapi ternyata permintaan tertinggi justru untuk hijab," kata Irin kepada Sokoguru baru-baru ini.

 

Dari 1 karyawan ke 27 Outlet

Melihat fakta itu, mulailah tiga perempuan tangguh itu memproduksi hijab secara kecil-kecilan dengan dibantu seorang karyawan. Produk pertama mereka adalah scarf tie-dye, yang langsung mendapat sambutan positif dari pasar. 

 

"Kami mulai ikut pameran di mana-mana, dari festival hingga acara-acara lokal. Perlahan, permintaan meningkat, dan kami pun menambah karyawan," tambah Irin.

 

Tahun 2012 menjadi momentum penting bagi Kami Idea dengan diluncurkannya website resmi. Tiga tahun kemudian, mereka membuka toko pertama. 

 

Kini, brand Kami Idea telah memiliki 27 outlet yang tersebar dari Aceh hingga Palopo, Sulawesi Selatan dan mempekerjakan sekitar 120 karyawan dengan omset mencapai miliaran rupiah.

 

Kami Idea bahkan hadir di sejumlah mal papan atas di kota-kota besar di Indonesia.

 

"Kami tidak menyangka bisa berkembang secepat ini. Dari satu toko, sekarang kami memiliki puluhan outlet," ujarnya.

 

Produk Kami Idea pun terus berkembang dan tidak hanya memproduksi hijab. Mereka kini menawarkan berbagai produk modest fesyen, scarf dengan berbagai motif, blus, rok panjang, celana panjang yang diperuntukkan buat pria maupun wanita. 

 

Bahkan produksi modest fesyen melampau hijab yakni 70%, sedangkan hijab hanya 30%. Semua hijab Kami Idea dijual dengan harga mulai Rp99 ribu hingga Rp429 ribu per pcs.

 

Kualitas dan desain yang selalu diperbarui menjadi kunci utama Kami Idea dalam bersaing di pasar yang semakin ketat.


Produk Premium 

Irin mengakui pasar hijab Indonesia, yang nilainya mencapai Rp91 triliun itu, didominasi oleh produk impor, terutama dari Cina, bahkan impor mencapai 75%. Hanya 25% produk lokal

 

"Kami hanya mengambil porsi kecil dari pasar tersebut, sekitar 0,09%. Persaingan semakin ketat, terutama di segmen harga bawah," imbuhnya.

 

Namun, sambungnya, Kami Idea memilih untuk tetap fokus pada kualitas dan desain premium. Dan untuk segmen premium, memakai brand Kami.

 

"Kami tidak ingin terlibat dalam perang harga. Kami lebih memilih bersaing di segmen menengah ke atas, di mana kualitas dan desain menjadi faktor penentu," jelasnya.


 

Irin mengatakan pandemi covid -19 menjadi ujian besar bagi banyak pebisnis, termasuk Kami Idea. Mereka harus menutup toko fisik di Kuala Lumpur, yang sebelumnya menjadi langkah awal ekspansi internasional mereka. 

 

Namun, pandemi juga memaksa mereka untuk beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen yang semakin bergerak ke arah digital.

 

"Kami harus cepat beradaptasi dengan tren belanja online. Kami memperkuat kehadiran di marketplace dan meningkatkan layanan pengiriman," jelasnya.

 

Meski menghadapi tantangan besar, mereka berhasil bertahan dan bahkan menemukan peluang baru di tengah krisis. Salah satu kunci kesuksesan Kami Idea adalah kemampuan mereka untuk terus berinovasi dan mendengarkan kebutuhan konsumen. 

 

Mereka membangun komunitas loyal yang disebut KamiPeople. Komunitas itu  tidak hanya menjadi pelanggan setia, tetapi juga bagian dari proses pengembangan produk.

 

"Kami selalu berusaha memenuhi kebutuhan konsumen. Kami mendengarkan masukan mereka dan mengadakan acara rutin untuk menjaga kedekatan," ujar lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini lagi.

 

Grup WhatsApp per daerah juga menjadi sarana komunikasi efektif antara brand dan konsumen. 

 

Irin mengaku puncak prestasi Kami Idea datang ketika mereka diundang untuk tampil di New York Fashion Week. 

 

"Saat itu adalah momen yang sangat membanggakan. Kami dipilih bersama beberapa UKM lain untuk mewakili Indonesia di kancah global," cerita Irin.

 

Sebelumnya, brand ini juga telah mencatatkan namanya di berbagai ajang fesyen ternama, seperti Jakarta Fashion Week, Indonesian Fashion Week, dan Fashion Kode 2018 di Seoul.

 

Keberhasilan itu  tidak hanya membuktikan kualitas produk mereka, tetapi juga menunjukkan potensi besar fesyen lokal Indonesia di pasar global.

 

Meski belum memiliki target spesifik, Kami Idea berencana untuk terus berekspansi ke pasar internasional. 

 

"Kami ingin memperkenalkan Kami Idea lebih luas lagi, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain," ujar Irin lagi.

 

Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, ketiga pendiri Kami Idea membuktikan bahwa modal kecil dan latar belakang non-bisnis bukanlah halangan untuk meraih sukses. 

 

Di tengah persaingan global yang semakin ketat, kata Irin, Kami Idea terus membuktikan bahwa fesyen lokal Indonesia memiliki tempatnya sendiri, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional. 

 

Irin juga tidak bisa menyalahkan masuknya hijab impor, terutama dari Cina. Pasalnya, jenis tekstil mereka lebih beragam, karena mesin-mesinnya baru. Sementara mesin-mesin tekstil di Indonesia yang masih buatan tahun 1980-an tidak bisa menghasilkan kain-kain yang inovatif.

 

“Ini tantangan buat pemerintah dan pelaku industri tekstil di tanah air,” ujarnya.

 

Kini Kami Idea termasuk salah satu produk modest fesyen yang menduduki papan atas merek-merek busana muslim di tanah air.


Hijab Printing Honey Habbit

Pelaku usaha hijab yang juga memulai usaha dengan modal kecil adalah Hani Handayani, 40. 

 

Pemilik jenama Honey Habbit, yang produknya sudah dipasarkan hingga Amerika Serikat itu memulai perjalanannya pada akhir 2019.

 

Koleksi Honey Habbit

 

Kala itu seorang temannya menyukai desain yang dibuat oleh Hani. Sang teman juga tak melanjutkan usahanya karena pandemi covid-19.  Hani pun disarankan untuk mencoba mencetak karya desainnya dengan mesin DTG pada kain-kain sisa yang ada di perusahaan temannya. 

 

“Jadi pengusaha itu, bukan direncanakan, dari situ ternyata hasilnya bagus, kebetulan waktu itu lagi tren hijab printing, dan saya penasaran mencoba” ungkapnya pada Sokoguru.

 

Bermodal Rp6 juta dan tekad kuat, Hani menjelajahi dunia bisnis yang awalnya sama sekali asing baginya. Modal itu ia gunakan untuk membeli bahan dan mencetak hijab. 

 

Tanpa platform e-commerce atau strategi pemasaran matang, pada 2020 Hani mulai menjual hijabnya dengan cara sederhana yakni mengirim foto produk ke 100 kontak WhatsApp. 

 

Hasilnya mengejutkan. Dalam tiga minggu, semua hijab terjual habis. 

 

"Responnya  bagus, banyak yang nanya stok lagi," kenangnya.

 

Dari penjualan mulut ke mulut, Honey mulai membangun jaringan reseller. Ia mengadopsi sistem mirip multi-level marketing (MLM), di mana satu reseller mengajak reseller lainnya. 


 

Setelah jampir lima tahun berjalan, kini, Honey Habbit memproduksi 800-an pcs hijab yang dipasarkan lewat 150 reseller. Dan lewat reseller itulah, hijab Hani sampai ke Amerika Serikat dan Taiwan.

Dengan harga jual Rp90 ribu hingga Rp125 ribu per pcs, Honey Habbit bisa meraup omset hingga Rp500 an juta hingga Rp800 -an juta per bulan

 

"Saya juga menerima makloon yang datang dari beberapa daerah. Ada dari Surabaya, Batam, Bekasi, dan bahkan Papua,” imbuhnya.

 

Tantangan terbesar Honey Habbit saat ini adalah persaingan dengan produk impor murah, terutama dari Cina. 

 

"Bahan printing dijual Rp15.000 di Shopee, padahal HPP saya saja lebih tinggi dari itu," keluhnya. 

 

Untuk bertahan, akhirnya Hani memilih fokus pada kualitas dan keunikan desain. Ia juga mengembangkan strategi white labeling, yaitu menjual produk tanpa merek ke pihak ketiga. 

 

"Ini cara saya menambah omset tanpa harus capek branding," ujarnya. (Fajar Ramadan/Ros/SG-1) Tulisan terakhir dari dua tulisan