Ngeri! Bahaya Waste Bahan Baku Hantui UMKM, Pantas Saja Tabungan Tak Pernah Nambah Meski Rame

Jangan sepelekan sayur layu! Terungkap alasan kenapa banyak pedagang makanan yang terlihat laris tapi sulit kaya. Ternyata bocor halusnya ada di bagian ini.

Author Oleh: Cikal Sundana
13 Februari 2026
<p>Strategi Ramadan - Jangan sepelekan sayur layu! Terungkap alasan kenapa banyak pedagang makanan yang terlihat laris tapi sulit kaya. Ternyata bocor halusnya ada di bagian in</p>

Strategi Ramadan - Jangan sepelekan sayur layu! Terungkap alasan kenapa banyak pedagang makanan yang terlihat laris tapi sulit kaya. Ternyata bocor halusnya ada di bagian in

SOKOGURU - Pernahkah Anda merasa heran mengapa omzet jualan kuliner terlihat sangat besar, namun saat dihitung bersih ternyata hanya tersisa sedikit saja?

Fenomena ini sering membuat pelaku UMKM pemula garuk kepala, terutama saat menghadapi lonjakan pesanan yang sangat tinggi di momen bulan suci Ramadan.

Mengutip akun TikTok @tips.bisnis.pemula dalam konten "Bedah Bisnis Kuliner, Ternyata Begini Realita Sisa Uang Bisnis Kuliner", margin keuntungan memang cukup unik.

Banyak orang luar melihat bisnis makanan sangat menggiurkan, misalnya modal ayam Rp15 ribu dijual Rp25 ribu, lalu dikira untung bersihnya Rp10 ribu.

Padahal kenyataannya, di balik sepiring hidangan lezat yang tersaji, ada deretan biaya tersembunyi yang seringkali tidak kasatmata jika kita kurang teliti.

Mari kita bedah pelan-pelan. Dari harga jual, porsi untuk modal bahan baku atau HPP biasanya sudah memakan jatah besar sekitar 35 persen hingga 45 persen.

Angka tersebut belum termasuk biaya operasional harian seperti gas, listrik, air, sewa tempat, hingga kemasan yang harganya kini semakin merangkak naik.

Hal yang paling sering dilupakan oleh pemilik usaha adalah mengalokasikan gaji untuk karyawan dan yang tak kalah penting gaji untuk diri sendiri.

Baca Juga:

Tantangan terberat di dunia kuliner adalah adanya waste atau bahan terbuang, seperti sayuran layu, daging kurang segar, hingga kesalahan saat memasak.

Semua faktor risiko tersebut secara perlahan "memakan" jatah laba bersih Anda, sehingga pengelolaan stok menjadi kunci utama agar bisnis tetap sehat.

Jika di akhir bulan Anda masih bisa mengantongi untung bersih sebesar 20 persen sampai 30 persen, maka bisnis tersebut sebenarnya sudah berjalan benar.

Oleh karena itu, di bisnis kuliner kita tidak bisa hanya mengandalkan rasa enak saja, namun wajib memiliki strategi pemasaran yang cerdas dan efisien.

Perputaran barang yang cepat adalah kunci, karena jika bahan baku hanya menumpuk lama di dalam kulkas, maka keuntungan Anda akan habis menguap di sana.

Jangan berkecil hati jika angka bersih tak sesuai ekspektasi orang awam, sebab kuncinya adalah memaksimalkan volume penjualan untuk menutup margin tipis.

Bagi Anda yang merasa jualan masih sepi meski margin sudah pas, mungkin strategi psikologi marketing perlu diterapkan agar pembeli merasa produk Anda sangat layak.

Tentu ini menjadi tantangan menarik bagi para pejuang UMKM yang sedang berburu berkah Ramadan agar dapur tetap ngebul dan bisnis bisa terus berkembang pesat. (*)