SOKOGURU, JAKARTA- Ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat pada periode Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Hasil pemantauan lapangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Satgas Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan menunjukkan, dinamika harga yang terjadi pada sejumlah komoditas bersifat musiman dan mulai menunjukkan tren terkendali.
Hal itu dikatakan Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, dalam keterangan resmi Bapanas, Selasa, 24 Februari 2026.
Baca juga: Kepala Bapanas Amran: Pelaku Usaha jangan Mainkan Harga Pangan dan Manfaatkan momentum Ramadan
Menurutnya, kenaikan harga yang terjadi pada beberapa komoditas lebih dipengaruhi faktor cuaca dan kelancaran distribusi dari daerah produsen, bukan karena keterbatasan stok maupun produksi nasional.
“Memasuki Ramadan, kebutuhan masyarakat memang meningkat dan biasanya diikuti tekanan harga pada komoditas tertentu. Namun hasil pemantauan kami di lapangan menunjukkan pasokan tersedia, distribusi terus berjalan, dan harga mulai kembali menyesuaikan,” ujar Maino.
Lebih lanjut, ia memaparkan hasil pemantauan di Pasar Way Batu, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung pada Senin, 23 Februari. Ia mencatat mayoritas komoditas berada pada level stabil.
Baca juga: Bapanas Lipat Gandakan Pengawasan, Bidik Produsen dan Distributor Nakal Pembuat Anomali Harga Pangan
Beras medium terpantau Rp13.500/kg sesuai HET, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Rp12.000/kg di bawah HET, bawang merah Rp40.000/kg, bawang putih Rp35.000/kg, daging ayam ras Rp40.000/kg, telur ayam ras Rp29.000/kg, serta Minyakita Rp15.500/liter yang masih di bawah HET.
Harga daging sapi tercatat Rp140.000/kg dan tetap berada dalam rentang acuan pemerintah.
Di Pasar Sukaraja, Kabupaten Pesawaran, Lampung, imbuh Maino, harga beras medium terpantau Rp13.500/kg, beras SPHP Rp12.500/kg, daging ayam ras Rp35.000/kg, telur ayam ras Rp28.500/kg, gula pasir Rp17.500/kg, dan Minyakita Rp15.700/liter.
Baca juga: Program Intervensi Pangan Terbukti Ampuh, Bapanas: Tren inflasi Pangan Melandai Jelang Ramadan
Secara umum, harga komoditas berada sesuai atau di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) maupun Harga Eceran Tertinggi (HET).
Komoditas cabai rawit merah sempat mengalami kenaikan pada kisaran Rp60.000–Rp65.000/kg akibat curah hujan di wilayah sentra produksi yang memengaruhi panen dan distribusi.
Namun seiring masuknya pasokan baru ke pasar, harga mulai bergerak turun dan diperkirakan kembali stabil dalam waktu dekat.
Sementara di wilayah pesisir dengan keterbatasan akses logistik, beberapa komoditas tercatat relatif lebih tinggi. Kondisi tersebut, ujarnya, lebih dipengaruhi karena ketergantungan pasokan dari luar daerah, bukan disebabkan kelangkaan barang.
Maino menambahkan, pemerintah juga terus memperkuat distribusi minyak goreng rakyat melalui jaringan resmi agar menjangkau masyarakat hingga wilayah dengan akses terbatas.
Bersama pemerintah daerah dan Satgas, langkah stabilisasi juga dilakukan melalui Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) guna memastikan masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau sepanjang Ramadan hingga Idulfitri.
“Yang kita jaga bukan hanya ketersediaan, tetapi juga kelancaran distribusi supaya masyarakat bisa mendapatkan pangan dengan mudah dan harga tetap wajar selama Ramadan sampai Idulfitri,” pungkas Maino.
Secara terpisah, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan, pemerintah tidak akan mentoleransi praktik yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk memainkan harga.
Ia meminta seluruh pelaku usaha mematuhi HAP dan HET serta menjaga stabilitas pasokan di tingkat distribusi maupun ritel.
“Ramadan adalah momentum ibadah dan penguatan solidaritas sosial. Jangan ada yang memanfaatkan situasi dengan memainkan harga pangan. Pemerintah akan bertindak tegas,” tegasnya yang juga Menteri Pertanian.
Stok pangan Papua aman
Dari Papua Bapanas juga melaporkan ketersediaan dan distribusi pangan berjalan dan terjaga hingga wilayah terluar.
Pemerintah memastikan ketersediaan dan stabilitas pasokan pangan di wilayah Papua tetap terjaga pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Hal itu disampaikan Kepala Biro Keuangan, Pengadaan, dan Umum Badan Pangan Nasional, E. Rini Yusniana yang turut turun langsung ke lokasi di Papua Pegunungan, Senin, 23 Februari.
“Peninjauan langsung ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok, kelancaran distribusi, serta stabilitas harga pangan benar-benar dirasakan masyarakat Papua Pegunungan. Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi lintas sektor agar pasokan pangan tetap aman, terutama menjelang Idulfitri,” ujarnya.
Berdasarkan koordinasi dengan Perum Bulog wilayah Papua, stok beras di Jayapura saat ini mencapai sekitar 2.000 ton dan dinilai mencukupi kebutuhan hingga tiga bulan ke depan.
Untuk semakin memperkuat cadangan, tambahan pasokan sebanyak 775 ton sedang dalam perjalanan menuju Papua.
Ketersediaan minyak goreng rakyat MinyaKita juga tetap terjaga. Di Gudang Bulog Argapura Jayapura tercatat stok MinyaKita sebanyak 7.200 liter yang diprioritaskan untuk pedagang di pasar pantauan guna menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Sementara itu, bantuan pangan periode Oktober–November 2025 di wilayah Papua juga menunjukkan capaian positif di mana realisasi penyalurannya telah mencapai 97,5 persen. Pemerintah terus menuntaskan distribusi hingga daerah yang memiliki tantangan geografis dan keamanan tinggi, termasuk wilayah pegunungan.
Adapun pada tahun 2026, alokasi penerima bantuan pangan di wilayah Tanah Papua tercatat mencapai 838.696 penerima yang tersebar di enam provinsi: Papua sebanyak 118.076 penerima, Papua Barat 74.044 penerima, Papua Barat Daya 78.965 penerima, Papua Pegunungan 265.356 penerima, Papua Selatan 73.601 penerima, dan Papua Tengah 228.654 penerima. (SG-1)