SOKOGURU - Awas Rugi Bandar! Ini Kesalahan Fatal UMKM Saat Pasang Harga Jualan Takjil Ramadan.
Momen Ramadan 2026 sudah di depan mata, saatnya para pelaku UMKM bersiap mendulang cuan dari fenomena berburu takjil yang selalu meriah.
Banyak pedagang dadakan mulai bermunculan, namun ada satu hal krusial yang sering terlupa di tengah semangat berjualan, yakni cara menentukan harga.
Baca Juga:
Jangan sampai niat hati mencari untung demi baju lebaran, malah berakhir buntung karena salah langkah dalam menetapkan label harga pada produk.
Mengutip edukasi dari akun TikTok @tips.bisnis.pemula berjudul "Awas Hati-Hati Kesalahan Fatal saat Menentukan Harga Jual", banyak pebisnis terjebak dalam satu pola.
Kesalahan yang paling sering ditemukan adalah menentukan harga hanya dengan satu cara instan: "Lihat berapa harga yang dipasang oleh kompetitor."
Padahal, menyamakan harga dengan tetangga sebelah tanpa perhitungan matang bisa menjadi awal dari kehancuran bisnis kecil yang baru Anda rintis.
Salah satu poin penting yang disoroti adalah kebiasaan ikut harga pasar tanpa menghitung Modal atau Harga Pokok Penjualan (HPP) secara detail.
Jika HPP Anda ternyata lebih tinggi sementara harga jual dipaksa sama dengan saingan, margin keuntungan akan menipis atau bahkan minus tanpa disadari.
Sebagai gambaran sederhana, jika kompetitor menjual satu porsi kolak seharga Rp10.000, Anda mungkin tergiur untuk memasang harga yang persis sama.
Namun, jika biaya bahan baku Anda mencapai Rp8.500, maka sisa Rp1.500 tentu sangat riskan untuk menutup biaya operasional lain yang tidak terduga.
Kesalahan kedua yang kerap menghantui pelaku UMKM adalah rasa takut jika produk yang ditawarkan dianggap kemahalan oleh calon pembeli di pasar kaget.
Baca Juga:
Banyak pedagang sengaja memasang harga lebih murah agar dagangannya cepat luntur, padahal strategi ini justru bisa membuat Anda merasa sangat lelah.
Menjual murah memang menarik minat, namun Anda harus menjual dalam jumlah yang jauh lebih banyak hanya untuk mendapatkan profit yang setara.
Hal ini seringkali tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, terutama saat kondisi tubuh sedang berpuasa dan membutuhkan efisiensi kerja.
Selain itu, banyak pebisnis pemula yang abai terhadap biaya tersembunyi seperti kemasan estetik, plastik, hingga biaya transportasi saat belanja bahan.
Waktu dan tenaga Anda sendiri sebagai pemilik usaha seringkali dianggap "gratis", padahal itu adalah aset yang memiliki nilai ekonomi dalam hitungan bisnis.
Tanpa adanya target profit yang jelas, harga ditentukan asal laku saja tanpa dasar perhitungan berapa keuntungan bersih yang ingin dicapai setiap harinya.
Penentuan harga jual sejatinya bukan soal ikut-ikutan tren pasar, melainkan tentang strategi dan perhitungan angka yang benar-benar presisi dan detail.
Jadi, sebelum Anda mulai menggelar lapak takjil sore nanti, coba cek kembali apakah harga yang tertera sudah menutupi semua pengeluaran operasional.
Pastikan setiap suap makanan yang terjual memberikan margin yang sehat agar usaha UMKM Anda bisa bertahan lama hingga hari kemenangan tiba nanti.
Sekarang coba jujur, selama ini Anda menentukan harga berdasarkan apa? Apakah hanya ikut harga pasar atau sudah punya hitungan detail di atas kertas? (*)