SOKOGURU, JAKARTA- Masjid sejak masa Rasulullah bukan sekadar tempat salat, melainkan pusat peradaban dan juga pemberdayaan umat.
Fungsi masjid masa kini perlu dikembalikan pada peran historisnya sebagai ruang ibadah, pendidikan, pelayanan sosial, dan kegiatan yang fokus terhadap keberkahan umat.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan hal itu dalam Peringatan Isra’ Mi’raj yang digelar di Masjid As-Syifa Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Kamis, 15 Januari 2026.
Baca juga: Masa Libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026, Kemenag Siapkan 6.919 Masjid Ramah Pemudik
“Masjid, pada masa Rasulullah hanya sekitar 10%-15% digunakan untuk ibadah ritual. Selebihnya bisa menjadi, balai musyawarah, pusat pendidikan, pengadilan, tempat pemberdayaan keterampilan, hingga sekretariat negara. Masjid adalah jantung peradaban umat Islam,” ujarnya, seperti dikutip keterangan resmi Kementerian Agama (Kemenag).
Pada kegiatan yang diselenggarakan oleh Divisi Bedah Saraf, Departemen Neurologi, beserta jajaran staff itu, Nasaruddin menyampaikan gagasan tentang Pemberdayaan Umat Melalui Masjid.
Menag menilai, semangat itulah yang perlu dihidupkan kembali, termasuk di lingkungan rumah sakit seperti Masjid As-Syifa RSCM, yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang penguatan spiritual bagi tenaga kesehatan, pasien, dan keluarga.
Baca juga: Kementerian Agama Segera Salurkan Bantuan KIP Kuliah 25.964 Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan
Menag juga menjelaskan kata masjid berasal dari akar kata sajada, yang berarti sujud. Namun sujud sejati, menurutnya, bukan sekadar meletakkan kepala ke lantai, melainkan menghadirkan totalitas diri yakni pikiran, hati, dan jiwa di hadapan Allah.
“Banyak dari kita hanya sajad, menundukkan kepala, tapi belum sujud secara utuh. Sujud adalah puncak penghambaan, ketika seluruh diri berserah kepada Allah,” imbuhnya.
Menag mengutip makna ayat “Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin”, bahwa shalat dan seluruh hidup manusia seharusnya berorientasi penuh kepada Allah. Dari sinilah, lanjutnya, masjid menjadi simbol perjalanan spiritual manusia dari penghambaan menuju pembersihan diri.
Jadi ruang transformasi umat
Lebih jauh, Menag mendorong agar masjid tidak berhenti sebagai bangunan ritual semata, melainkan menjadi pusat transformasi sosial.
Baca juga: Tokoh Lintas Agama Hadiri Peringatan Isra Mikraj di Bekasi, Wujud Praktik Baik Toleransi
Ia mencontohkan bagaimana masjid di masa Rasulullah berperan mengidentifikasi warga yang kekurangan, mengelola dana umat, hingga mendistribusikan bantuan.
“Masjid harus memberdayakan umat, bukan sebaliknya umat hanya memberdayakan masjid. Jika potensi dana umat seperti zakat, wakaf, infak, dan sedekah dikelola optimal melalui masjid, umat Islam bisa mandiri secara ekonomi dan sosial,” tegasnya.
Menurut Nasaruddin, itulah semangat yang perlu dibangun menjelang Ramadhan: menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, pusat pembelajaran, dan pusat kepedulian sosial.
Menutup tausiyahnya, Menag mengajak jamaah mempersiapkan diri menyambut Ramadhan sejak bulan Rajab dan Sya’ban, melalui taubat, peningkatan kualitas shalat, serta memperdalam Al-Qur’an.
“Ramadhan akan bermakna jika kita datang dengan hati yang sudah disucikan. Mari menjadikan masjid sebagai rumah bagi jiwa-jiwa yang ingin kembali kepada Allah,” pungkas Menag.
Tabligh Akbar 1447 H di Masjid As-Syifa RSCM berlangsung khidmat dan diakhiri dengan doa bersama, sebagai ikhtiar spiritual seluruh keluarga besar RSCM menyambut bulan suci dengan hati yang bersih dan semangat pelayanan yang lebih kuat. (SG-1)