SOKOGURU, Jakarta- Farida, seorang pelaku usaha UMKM skala mikro, sejak akhir 2019 fokus menjual pempek dengan merek Pempek Nyai di Kota Sukabumi, Jawa Barat. Ia mengatakan setiap kali Ramadan tiba panen rezeki..
"Omzet bisa naik hingga tiga kali lipat. Kalau biasanya Rp30 juta-Rp40 juta per bulan, tinggal dikali tiga saja," ujarnya saat ditemui Sekretaris Kementerian (Sesmen) UMKM, Arif Rahman Hakim, di penghujung Februari 2025.
Meski pempek dianggap tak masuk dalam kategori makanan pokok, dan bukan juga makanan khas Sukabumi, penjualan Pempek Nyai justru meningkat karena menjadi salah satu kudapan favorit saat berbuka puasa hingga menjadi hampers (bingkisan) saat lebaran.
Saat pertama memulai usaha, lanjut Farida, Pempek Nyai berkomitmen untuk menyajikan pempek sesuai dengan cita rasa aslinya. Mungkin itu alasannya kenapa kudapan asal Palembang, Sumatra Selatan itu dicari banyak orang di Sukabumi.
Baca juga: Tren Baru! Pempek Panggang Laris Manis di Pasar Takjil, UMKM Kebanjiran Pesanan di Bulan Puasa
“Selain jadi menu kudapan, kami juga menyiapkan hampers untuk lebaran. Karena biasanya saat lebaran itu orang mulai cari yang segar-segar, nah kebanyakan cocok dengan cuko kami," imbuhnya seperti dikutip laman Kemen UMKM, Selasa (4/3)
Hal yang sama juga dialami Sammy, CEO Lawless Burgerbar Asia atau dikenal dengan merek dagang Lawless Burger.
Salah satu merek di ranah kuliner yang menjelma sebagai standar gaya hidup kaum urban Jakarta itu juga melemparkan pernyataan yang menguatkan hipotesis bahwa momen Ramadan saatnya meraup cuan.
"Kalau bicara bulan puasa memang ada peningkatan, meskipun enggak terlalu signifikan. Biasanya minggu kedua sampai akhir bulan puasa lebih bagus penjualannya, dibanding minggu pertama. Karena minggu pertama orang cenderung buka puasa di rumah bersama keluarga, buka di kantor atau acara lain," ujarnya.
Namun, Sammy melanjutkan, justru penjualan setelah Idulfitri biasanya meningkat pesat. Bahkan tahun-tahun sebelumnya, Lawless sampai harus mendatangkan perkerja paruh waktu untuk melayani pelanggan.
Baca juga: Ngabuburit di Kota Tua hingga Ancol, Wisata Ramadhan yang Makin Hits!
"Mungkin karena masyarakat sudah sebulan nggak bisa makan siang, terus tiba-tiba bisa makan siang. Membludaklah! Lawless sampai harus mendatangkan pekerja harian, yang biasanya kami rekrut khusus untuk akhir pekan saja," imbuh bassist band metal Seringai itu lagi.
Usaha kuliner Sammy yang dirintis sejak 2017 itu boleh dibilang sudah masuk skala sedang. Pasalnya, omzet yang dicapai di atas Rp15 miliar per tahun, membuat Sammy dan tim Lawless paham untuk selalu mengambil langkah yang efisien dalam menyambut Ramadan.
Dengan branding Lawless yang masuk dalam kategori top of mind bagi para pecinta burger, Sammy sudah tidak bermain dalam kegiatan bazar.
Dok. ninjaxpress
“Menurut saya, apa yang dilakukan kini tinggal memaintain apa yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun lalu. Untuk Ramadan tahun ini, Lawless menyiapkan menu spesial Ramadan, paket-paket buat kebersamaan. Misalnya paket buka puasa, paket buat potluck. Sisanya persiapan outlet-outlet saja," imbuhnya.
Baca juga: BSI dan BPJPH Kolaborasi Percepat Sertifikasi untuk Pelaku UMKM Makanan dan Minuman
Bulan penting bagi UMKM
Sesmen UMKM Arif Rahman Hakim, secara terpisah, mengatakan, Ramadan menjadi momentum atau bulan penting bagi pengusaha UMKM khususnya mereka yang bergerak di bidang kuliner untuk meraup cuan.
"Kita semua tahu, tahun lalu fenomena perang (war) takjil yang viral di media sosial membuat pengusaha UMKM di bidang kuliner bisa meningkatkan penghasilan," ujarnya.
Untuk itu, Arif berharap tahun ini pengusaha UMKM bisa kembali memanfaatkan momen bulan puasa sekaligus mengakses kemudahan yang diberikan oleh pemerintah.
"Kemudahan dan pelindungan yang diberikan pemerintah dalam hal izin dan legalitas usaha, alokasi khusus pada area publik, pengawasan kualitas hingga dukungan pendanaan,” imbuhnya.
Dalam hal itu, sambung Arif, pemerintah hadir untuk memastikan pengusaha UMKM dapat berjualan dengan aman dan nyaman, dan juga melakukan pengawasan kualitas makanan dan masakan yang dijual untuk memastikan aman dikonsumsi.
Dengan kemudahan-kemudahan tersebut, lanjutnya, pengusaha UMKM dapat lebih mudah berjualan dan meningkatkan penjualan mereka selama Ramadan.
Lebih lanjut, ia memaparkan data dari Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) 2020–2023 meningkat menjelang Ramadan dan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi inilah yang dimanfaatkan oleh UMKM untuk meraup pendapatan.
Jika mengutip data tunggal Kementerian UMKM, khusus untuk subsektor kuliner ada sekitar 2,9 juta pengusaha yang terjun ke bidang ini di Indonesia.
Sementara itu data Kementerian Perindustrian pada triwulan III tahun 2024, mencatat industri makanan dan minuman (mamin) bertumbuh sebesar 5,82%, di atas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 4,95%.
Hal itu membuat industri makanan dan minuman tercatat memberikan andil sebesar 40,17 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Angka ini sekaligus menjadikannya sebagai subsektor dengan kontribusi PDB terbesar.
Di sisi lain, hasil kajian Dosen Departemen Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Zahra Kemala Nindita Murad, menunjukkan, salah satu aspek perputaran uang saat Ramadan bagi UMKM datang dari momen buka puasa karena sering dijadikan ajang pertemuan kerabat, teman, saudara, hingga mitra bisnis. (SG-1)