Pemerintah Intensifkan Pasokan Daging Sapi hingga Idulfitri 1447 H, Harga Stabil di Kisaran Rp140 Ribu Per Kg

Satgas Saber Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan terus perkuat pengawasan di seluruh rantai pasok, mulai dari feedloter, RPH, hingga pasar rakyat.

Author Oleh: Rosmery C Sihombing
04 Maret 2026
<p>Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengatakan Pemerintah memastikan stabilitas pasokan dan harga daging sapi tetap terjaga selama Ramadan 1447 H. (Dok. Bapanas)</p>

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengatakan Pemerintah memastikan stabilitas pasokan dan harga daging sapi tetap terjaga selama Ramadan 1447 H. (Dok. Bapanas)

SOKOGURU, BANDUNG- Hingga Selasa 3 Maret 2026, pasokan dan harga daging sapi tetap terjaga. Berdasarkan hasil pemantauan di Pasar Kosambi Bandung, Jawa Barat  harga daging sapi terpantau relatif stabil.

Harga paha depan terpantau berada di kisaran Rp140.000 per kilogram (kg) dan paha belakang Rp130.000 per kg.

Demikian disampaikan Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa, dalam keterangan resmi Bapanas, Rabu, 4 Maret 2026.

Baca juga: Tinjau Langsung Pasar di Lampung dan Papua, Bapanas Sebut Pasokan Pangan Aman pada Ramadan

“Kami pastikan Satgas Saber bekerja optimal menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan hingga Lebaran nanti. Pemerintah hadir memastikan harga tetap wajar dan pasokan aman bagi pelaku usaha maupun masyarakat,” tegasnya yang meninjau langsung kios-kios penjual daging di Pasar Kosambi.

Menurut Ketut, Pemerintah memastikan stabilitas pasokan dan harga daging sapi tetap terjaga selama Ramadan 1447 H. Melalui Satgas Saber Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan, pengawasan terus diperkuat di seluruh rantai pasok, mulai dari feedloter, Rumah Potong Hewan (RPH), hingga pasar rakyat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, stabilitas harga di tingkat konsumen sejalan dengan harga di tingkat feedloter dan RPH yang masih berada dalam kisaran Harga Acuan Pemerintah (HAP). Dengan demikian, struktur harga dari hulu hingga hilir tetap terkendali dan transparan.

Baca juga: Kepala Bapanas Amran: Pelaku Usaha jangan Mainkan Harga Pangan dan Manfaatkan momentum Ramadan

“Untuk harga karkas di pasar, paha depan Rp130 ribu per kilogram dan paha belakang Rp140 ribu per kilogram. Jika diminta tanpa lemak atau tetelan sehingga menjadi daging murni, tentu terdapat perbedaan harga. Namun secara umum masih dalam batas kewajaran sesuai HAP,” imbuhnya.

Dalam kunjungan ke RPH Ciroyom pada Senin malam, Ketut juga menemukan, harga daging sapi berikut lemak dan tetelannya tercatat berkisar Rp105.000 per kg di tingkat RPH. 

Kondisi itu menunjukkan struktur margin distribusi masih dalam batas normal hingga sampai ke konsumen akhir. 

Baca juga: Program Intervensi Pangan Terbukti Ampuh, Bapanas: Tren inflasi Pangan Melandai Jelang Ramadan

Sementara pada kunjungan ke feedloter PT Sapi Liar, harga sapi hidup saat ini stabil di Rp55.000/kg. 

Ketut mengatakan Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi lintas kementerian/lembaga, pemerintah daerah, serta pelaku usaha guna memastikan distribusi berjalan lancar dan stok mencukupi hingga Idulfitri. Masyarakat juga diimbau berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan.

Dengan pengawasan intensif dan dukungan seluruh pemangku kepentingan, stabilitas harga dan pasokan pangan strategis diharapkan tetap terjaga sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan dan merayakan Idulfitri dengan tenang.

“Harga di Pasar Kosambi relatif stabil dan pasokannya sangat cukup. Masyarakat dapat berbelanja dengan tenang,” tutup Ketut.

Salah satu pedagang di Pasar Kosambi, Hani, mengakui, harga paha depan berada di kisaran Rp140.000 per kg, sementara paha belakang Rp130.000 per kg. 

Harga tersebut kembali stabil pascakesepakatan bersama asosiasi pelaku usaha daging sapi pada 22 Januari 2026, dengan harga sapi hidup sebesar Rp55.000 per kilogram (berat hidup).

“Harga relatif stabil. Paha belakang Rp140 ribu itu masih termasuk lemak atau tetelan. Kalau pembeli minta dibersihkan jadi daging murni atau dipotong macam-macam, tentu ada penyesuaian harga,” ujarnya.

Secara umum, paha depan lebih banyak dimanfaatkan untuk olahan berkuah atau dimasak dalam waktu lama seperti rendang, semur, dan sop karena kandungan jaringan ikatnya membuat cita rasa lebih kuat setelah proses pemasakan. 

Sementara paha belakang yang teksturnya lebih padat dan relatif minim lemak kerap digunakan untuk olahan seperti dendeng, empal, abon, maupun irisan tipis untuk tumisan. 

Perbedaan karakteristik potongan tersebut turut memengaruhi preferensi konsumen dan struktur harga yang ada di pasar. (SG-1)