SOKOGURU, SERANG- Apakah jurnalisme masih relevan di tengah gempuran media sosial dan kecerdasan buatan (artificial Intelligence/AI)?
Pertanyaan itu dilontarkan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria untuk memantik diskusi dalam forum Google News Initiative (GNI) Update.
Menurutnya, jurnalisme itu penting dan memang harus ada manusia yang melakukannya.
“Kenapa?” pertanyaannya selanjutnya.
Baca juga: Di Hari Pers Nasional, Ini Pesan Menkomdigi: Kepercayaan Publik Tak Boleh Kalah oleh Algoritma
Keberadaan mesin pencari, media sosial dan AI, sambung Nezar, membuat informasi mudah didapat.
Alhasil, banyak konten sintetis yang membanjiri banyak platform media sosial, juga lanskap industri komunikasi.
“Lalu, bagaimana kita bisa membuktikan informasi itu otentik atau sekadar rekayasa atau hoaks?” tanyanya lagi, seperti dikutip keterangan resmi Dewan Pers, Senin, 9 Januari 2026.
Nezar mengatakan konten yang sintetis itu sekarang sudah hampir, sangat mirip dengan aslinya. Bahkan masyarakat sulit membedakan.
Baca juga: Hari Pers Nasional: Deklarasi Pers 2026 Desak Negara Harus Hadir Jaga Media dan Demokrasi
“Di tengah hal demikian, kita merindukan jurnalisme. Kenapa? Karena jurnalisme punya satu disiplin yang kita sebut dengan disiplin verifikasi. Saya kira ini yang apa ya, ketaatan, disiplin dengan verifikasi,” tambah Nezar.
Lebih lanjut, ia mengatakan, satu saat ChatGPT bisa melakukannya atau mesin-mesin kecerdasan buatan, generatif AI bisa melakukannya. Namun demikian, Nezar meyakini verifikasi yang mendalam dan otentik itu tetap membutuhkan yang namanya manusia.
Sebab itu, pers pun harus kreatif dan inovatif. Salah satunya, tidak boleh menurunkan kualitas konten/produk jurnalisme. Misalnya, pers tidak boleh ikut-ikutan latah membuat judul clickbait.
Baca juga: Sejarah Hari Pers Nasional: Mengapa Jatuh pada 9 Februari
“Tetap dijaga kualitas kontennya. Karena itu adalah core dari jurnalisme,” kata Nezar.
GNI kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem jurnalisme berkualitas di Indonesia. Forum yang berlangsung di Serang, Banten, Minggu, 8 Februari itu menjadi ajang pemaparan perkembangan terbaru sekaligus investasi strategis Google bagi media di Tanah Air.
Forum mengusung tajuk GNI Update: Untuk Ekosistem Berita Berdaya di Indonesia itu dihadiri oleh pemangku kepentingan utama dalam ekosistem pers, termasuk pemerintah, Dewan Pers, serta mitra media.
Sementara itu, Ketua Dewan Pers Republik Indonesia, Prof Komaruddin Hidayat, mengungkit soal penyebaran informasi sangat cepat pada zaman ini.
Walaupun, kata dia, terkadang ‘terasa’ sama, lantaran sumbernya sama. Layanan informasi dari mesin pencari seperti Google, sebagian diambil dari karya-karya tulis dan karya jurnalistik.
Sehingga, lanjut dia, ada berapa wartawan yang bekerja keras melakukan investigative report, eksklusif, tapi kemudian begitu masuk ke Google, orang lain dengan mudahnya meng-copy-paste. Oleh karena itu, lanjut dia, publisher right menjadi penting. Jika tidak, akan menurunkan semangat jurnalis untuk melakukan investigative report.
“Karena dia capek-capek kerja, tidak ada insentifnya, dan tidak ada royaltinya, dan ini negatif. Positifnya, jangan tanya lah, saya hanya memberi catatan hal-hal yang ke depan perlu kerja sama yang baik,” ujarnya.
Masalah itu, sambung Komaruddin, perlu dibicarakan bersama antara Pers dan Google, di samping uji kompetensi wartawan.
“Saya senang sekali, tapi juga ada beberapa agenda kerja sama yang perlu dibicarakan lebih lanjut. Salah satunya, kemungkinan bagaimana publisher right itu bisa dibicarakan, sehingga ada win-win solution bersama-sama, dan kemudian juga beberapa kerja sama yang lain,” imbuhnya.
“Sehingga Google tetap berkembang, tapi dunia pers juga berkembang, riset keilmuan juga berkembang, kerja sama ini perlu kita cepatkan bersama,” ujarnya.
Di sisi lain, Head of News Partnerships Southeast Asia, Adeel Farhan, memaparkan, visi regional GNI di Asia Tenggara.
Ia menyoroti komitmen jangka panjang Google dalam mendukung inovasi media melalui program-program yang disesuaikan dengan konteks lokal, termasuk Indonesia.
Sesi dilanjutkan dengan paparan News Partner Manager Southeast Asia, Yos Kusuma, yang mengulas berbagai kemitraan strategis GNI di Indonesia.
Acara juga diisi dengan dua sesi diskusi panel yang menghadirkan alumni Project Sigma Indonesia dan Revenue Growth Lab Indonesia. Dua program GNI terbaru di Indonesia.
Para panelis berbagi pengalaman transformasi digital, khususnya dalam menjangkau audiens Generasi Z serta mengembangkan strategi monetisasi berbasis data dan eksperimen nyata.
Ada enam panelis dalam dua sesi diskusi tersebut, yakni Kepala Pemasaran Pertumbuhan dan CRM di TEMPO, Erwin Daniel; Manajer Digital di Kompas TV, Haris Mahardiansyah; Managing Editor di GoodStats, Iip Muhammad Aditiya; Kepala Pengembangan Produk di Indozone, Chrisna Samuel; Produser & Host di Liputan6, Ratu Annisaa Suryasumirat (Tentatif); Priskila Ifke Goni dan Arif Ahmadsyah dari Anymind, Mitra Pelaksana untuk Proyek Sigma Indonesia dan Revenue Growth Lab Indonesia.
Project Sigma Indonesia merupakan program intensif 10 minggu yang berfokus pada inovasi format dan pemanfaatan data untuk meningkatkan keterlibatan audiens muda.
Sementara itu, Revenue Growth Lab Indonesia dirancang selama delapan minggu untuk membantu penerbit memperkuat keberlanjutan digital melalui optimalisasi periklanan dan pengelolaan pendapatan pembaca.
Melalui GNI Update, Google berharap dapat memperkuat hubungan antara perusahaan teknologi, regulator, dan industri media, sekaligus membuka peluang kolaborasi baru demi terciptanya ekosistem informasi digital yang sehat dan berdaya di Indonesia. (SG-1)