SOKOGURU - Kalahkan Indomaret dan Alfamart, Koperasi Desa Merah Putih Kini Ada 30 Ribu Unit, Tapi Kok Belum Kelihatan?
Pernahkah Anda menyadari ada jaringan ritel yang jumlahnya diam-diam sudah menyalip dominasi Indomaret dan Alfamart di pelosok negeri?
Fenomena mengejutkan ini datang dari Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang diklaim telah tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan data terbaru mengenai pertumbuhan masif lembaga ekonomi desa yang satu ini.
Baca Juga:
Melansir informasi dari akun Instagram @kanaldesacom berjudul "Jumlah Kodes Merah Putih kini Kalahkan Indomart dan Alfamart", angkanya memang cukup fantastis.
Zulkifli Hasan menyatakan bahwa saat ini Kopdes Merah Putih sudah terbentuk sebanyak 30 ribu unit di seluruh penjuru tanah air.
Angka tersebut jelas melampaui jaringan Indomaret yang tercatat punya 23.000 unit, serta Alfamart dengan total 21.000 gerai.
Secara kalkulasi, ada selisih hampir 10.000 unit lebih banyak dibandingkan gerai ritel modern yang biasa kita temui di pinggir jalan.
Baca Juga:
Logikanya, jika Indomaret atau Alfamart saja terasa ada di mana-mana, kehadiran Kopdes ini seharusnya jauh lebih mencolok di mata masyarakat.
Namun, fakta di atas kertas ini justru memancing tanda tanya besar bagi warga net yang merasa jarang melihat keberadaannya.
Banyak yang mempertanyakan apakah ribuan unit tersebut sudah beroperasi secara aktif atau baru sekadar papan nama saja di lapangan.
Eksistensi koperasi ini pun akhirnya memicu diskusi hangat di media sosial, terutama mengenai fungsi nyatanya bagi warga desa.
Baca Juga:
Suara Netizen: "Kok Lebih Sering Lihat Warung Madura?"
Meski datanya diklaim mengalahkan raksasa ritel, reaksi netizen di kolom komentar justru berbanding terbalik dengan nada skeptis yang menggelitik.
Banyak warga net yang mengaku sama sekali belum pernah melihat fisik dari koperasi tersebut meskipun jumlahnya diklaim sangat banyak.
"Jumlahnya emang ngalahin pak. Tp di desaku koperasi nya kayak g fungsi buat masyarakat. Serius..." tulis salah satu netizen dengan nada curhat.
Ada juga yang membandingkannya dengan kekuatan ekonomi rakyat lainnya yang lebih nyata terlihat di setiap sudut gang dan jalan raya.
"Hahaha formalitas doank, aslinya sepi....ramean juga warung Ucok & Madura," celoteh akun lainnya yang disambut ratusan tanda suka.
Sentimen negatif mengenai daya tahan koperasi juga muncul, dengan prediksi pedas bahwa program ini hanya akan hangat-hangat kuku saja.
"Paling lama 5 bln Bangkrut," tulis seorang netizen yang merasa pesimis dengan manajemen koperasi di tingkat akar rumput.
Bahkan, ada komentar yang mencari-cari testimoni positif namun gagal menemukannya di antara ribuan reaksi masyarakat yang meragukan.
"Nyari komen yg mendukung kok tdk ditemukan ya, knp," tanya seorang warga net sembari menyematkan emoji tertawa sedih.
Kini, tantangan besar bagi pemerintah adalah membuktikan bahwa 30 ribu unit tersebut bukan sekadar angka, melainkan manfaat yang nyata. (*)