Kerajinan

Kemenkop Dukung Pengembangan UMKM Furnitur dan Kerajinan Ramah Lingkungan

Indonesia berpotensi besar untuk menjadi pusat pengembangan dan produksi furnitur terbesar di dunia.

Menkop UKM Teten Masduki mengatakan sebanyak 84% pelaku usaha (termasuk di sektor UMKM) tertarik pada bisnis ramah lingkungan. (Ist/Kemenkop UKM)

SEIRING dengan pertumbuhan wirausaha ramah lingkungan yang terus meningkat dari waktu ke waktu, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah  (Kemenkop UKM) berkomitmen mendukung pertumbuhan wirausaha baru yang ramah lingkungan terutama di bidang furnitur dan kerajinan.

 

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki mengatakan, hasil riset Kemenkop UKM dan UNDP tahun 2021 menunjukan bahwa sebanyak 84% pelaku usaha (termasuk di sektor UMKM) tertarik pada bisnis ramah lingkungan. 

 

Sebanyak 58% pelaku usaha memulai bisnis untuk memperbaiki lingkungan dan 56% memproduksi pakaian ramah lingkungan, produk rendah karbon, dan sistem pengurangan limbah.

 

Baca juga: Kemenperin Lanjutkan Program Restrukturisasi Mesin untuk Majukan Industri Furnitur

 

"Kami berkomitmen untuk terus mendukung industri perabot (furnitur) dan kerajinan agar dapat berkembang secara berkelanjutan,” jelas Teten sebagaimana dilansir situs Kemenkop UKM, Rabu (28/2) . 

 

“Kami percaya bahwa kerja sama antara pemerintah, industri, dan lembaga terkait akan membawa kita menuju masa depan yang lebih baik," kata Menkop UKM saat memberi sambutan pada acara Annual General Meeting Asminda (Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia), Tangerang, Selasa (27/2).

 

Menkop UKM menjelaskan, kinerja UMKM di sektor furnitur pada 2021 - 2023 mencapai 2,8 miliar dolar AS dengan jumlah serapan tenaga kerja langsung sebanyak 805 ribu. 

 

Baca juga: Miliki Bahan Baku Berlimpah, Indonesia Berpeluang Besar Dongkrak Industri Furnitur

 

Namun untuk kinerja sektor kerajinan tangan masih belum mampu mengungguli kinerja subsektor kuliner atau fesyen.

 

Salah satu dukungan yang diberikan Kemenkop UKM untuk mendukung wirausaha berkelanjutan di sektor furnitur dan kerajinan yaitu dengan membangun Rumah Produksi Bersama (RPB) komoditas rotan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. 

 

RPB ini bertugas mengolah bahan baku rotan menjadi bahan baku setengah jadi (fitrit, poles) dan furnitur.

 

Selain itu juga dibangun RPB di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memproduksi bambu laminasi sebagai bahan pengganti kayu. 

 

Baca juga: Produk Furniture Dan Kerajinan Indonesia Kian Diminati Banyak Negara

 

Bersama Pemerintah Daerah NTT, Kemenkop UKM telah membudidayakan bambu di lahan seluas 100 ribu hektare.

 

"Bersama Pemda kita akan kembangkan menjadi sekitar 100 ribu hektare lahan (untuk budidaya bambu). Ini potensi yang sangat besar untuk mengembangkan dan memproduksi timber untuk furnitur," kata Teten.

 

Kendati potensi ekonomi dari produk furnitur dan kerajinan ramah lingkungan sangat tinggi, namun ternyata masih ada berbagai kendala yang menghadang. 

 

Permasalahan jaminan ketersediaan bahan baku dan biaya logistik yang tinggi menjadi permasalahan yang harus dituntaskan.

 

Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, Menkop UKM mengajak seluruh pemangku kepentingan berupaya mencari solusi bersama demi kelangsungan dan pertumbuhan sektor ini.

 

Sementara itu untuk permasalahan pemasaran, pemerintah secara aktif memfasilitasi dan mendukung pameran Industri Furniture IFFINA oleh Asmindo, Kriyanusa oleh Dekranas, IFEX oleh HIMKI, dan SAEXPO 2023. 

 

Kemudian dilakukan inisiasi pengembangan Indonesia Trading House (ITH) di China dan Singapura untuk mengembangkan pasar internasional.

 

"Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjamin ketersediaan bahan baku, memperkuat pasar dalam negeri dan meningkatkan ekspor yang pada gilirannya akan berkontribusi pada pendapatan daerah dan devisa negara," kata Teten.

 

Sementara itu Ketua Umum Asmindo Dedy Rochimat membenarkan bahwa permintaan produk furnitur dan kerajinan ramah lingkungan di pasar internasional terus meningkat. Tahun 2022, permintaan furnitur ramah lingkungan mencapai 51,02 miliar dolar AS.

 

Meskipun angka ini baru mencapai 6,7% jika dibandingkan dengan permintaan furnitur secara keseluruhan, yakni sebesar 766 miliar dolar AS, namun pada 2060, permintaan furnitur ramah lingkungan diperkirakan mencapai lebih dari 25 persen dari keseluruhan permintaan furnitur. 

 

"Indonesia berpotensi besar untuk menjadi pusat pengembangan dan produksi furnitur terbesar di dunia. Kita punya kekayaan alam berlimpah di 17 ribu pulau terutama terkait dengan ketersediaan bahan baku furnitur yang berkelanjutan," kata Dedy.

 

Menurut Dedy, permintaan furnitur di Kawasan Asia diperkirakan mencapai 179,20 miliar dolar AS pada tahun 2024 dimana sebesar 5,23 persen atau 9,37 miliar dolar AS disumbang oleh permintaan furnitur ramah lingkungan. 

 

Besarnya potensi pasar ini harus direspons dengan membuat pusat-pusat riset dan produksi furnitur ramah lingkungan di kawasan-kawasan industri, termasuk kawasan industri di Indonesia.

 

"Kita perlu menyusun target bersama dan menyusun langkah-langkah kerja nyata untuk menghasilkan nilai ekspor furnitur dan kerajinan ke pasar global sebesar 1 persen dari pasar dunia atau sekitar 7 miliar dolar AS per tahun. Kata kuncinya adalah sinergi dan kolaborasi semua stakeholder," ucapnya.

 

Chairman of Council of Asia Furniture Associations (CAFA) Xu Xiangnan menambahkan bahwa menjalankan usaha berkelanjutan menjadi keharusan demi masa depan umat manusia. 

 

Oleh sebab itu CAFA siap menjalin kemitraan dengan lembaga pemerintah, organisasi industri, dan perusahaan komersial untuk tumbuh bersama di kawasan Asia Pasifik.

"Kami berupaya mewujudkan gagasan pembangunan ramah lingkungan dan rendah karbon untuk menjadikan industri furnitur Asia sebagai contoh yang baik dalam menerapkan inisiatif bambu sebagai pengganti plastik," katanya. (SG-2)