SOKOGURU- Di tengah dominasi merek-merek besar seperti Indomie, Kapal Api, hingga Mie Sedaap yang sukses merambah pasar luar negeri, ada satu kisah inspiratif dari eksportir asal Tulungagung yang justru mencetak prestasi gemilang lewat produk sederhana: kerupuk. Lewat kanal YouTube @PecahTelur, publik disuguhkan cerita tentang seorang eksportir yang telah 24 tahun menjadi pelaku ekspor ke Malaysia.
Bukan hanya soal omzet dan kontainer yang berangkat setiap bulan, tapi bagaimana produk lokal seperti kerupuk Indonesia ternyata punya tempat istimewa di pasar Malaysia. Bahkan, berkat strategi niat dan distribusi yang rapi, produk ini bisa menyokong penghasilan para PMI (Pekerja Migran Indonesia) di sana.
Lebih hebat lagi, keberhasilan ini turut membuka jalan bagi pelaku UMKM daerah lain seperti dari Mojokerto, Malang, Kediri, hingga Trenggalek untuk ikut ekspor.
Selama 24 tahun jadi eksportir, Pak Dim, sosok di balik cerita ini, justru menemukan bahwa kerupuk khas Indonesia adalah produk yang paling konsisten laku keras di Malaysia.
Bukan mi instan, melainkan camilan tradisional seperti kerupuk udang, kerupuk rambak, dan sejenisnya yang justru paling banyak dicari.
Yang menarik, kerupuk-kerupuk ini kemudian dikemas dan dijual ulang oleh para PMI di Malaysia di lingkungan pabrik atau asrama, sehingga jadi sumber penghasilan tambahan.
Model bisnis yang dibangun sangat sederhana namun berdampak besar. Para TKI/TKW membeli kerupuk dari toko Pak Dim, kemudian dijual kembali ke sesama pekerja di pabrik. Uniknya, uang makan harian bisa didapat dari hasil jualan, sementara gaji utama mereka tetap utuh.
Ini menunjukkan bahwa ekonomi mikro dari produk lokal bisa benar-benar menopang kehidupan banyak orang, bahkan lintas negara.
Menurut Pak Dim, salah satu daya tarik menjalankan bisnis di Malaysia adalah biaya pajak kendaraan dan operasional yang sangat rendah.
Contohnya, Toyota Hilux miliknya hanya dikenai pajak tahunan sekitar RM300 atau sekitar Rp1 juta, sementara sepeda motor hanya RM2 atau Rp7.000 per tahun.
Stabilitas ekonomi dan rendahnya pajak inilah yang membuat distribusi produk ekspor Indonesia di Malaysia semakin efisien dan menguntungkan.
Tak hanya soal logistik, brand lokal seperti Xiaomi Cu juga menunjukkan keseriusan dalam penetrasi pasar. Mereka bahkan membuat akun IG, marketplace Shopee dan Lazada khusus untuk pasar Malaysia.
Barang-barangnya dikirim langsung dari Tulungagung dalam kontainer, lalu dipasarkan lewat strategi digital yang matang.
Ini membuktikan bahwa strategi branding dan digital marketing juga punya peran besar dalam suksesnya ekspor produk lokal.
Salah satu tantangan besar dalam bisnis ekspor adalah sistem konsinyasi. Pak Dim mengaku sempat dirugikan karena banyak pemilik brand lokal yang hanya menitipkan produk tanpa strategi promosi.
Akibatnya, barang tidak laku, bahkan kadaluarsa, sementara biaya kirim dan stok ditanggung eksportir. Kini, ia hanya menerima barang yang punya potensi pasar tinggi dan sudah melalui kurasi dari tim seperti Pak Basuki yang memahami pola konsumsi di Malaysia.
Visi besar Pak Dim adalah menjadi perusahaan distribusi produk Indonesia terbesar di Malaysia. Bukan hanya satu merek, tetapi lintas brand dan multiproduk, seperti yang dilakukan Kara, Kapal Api, atau Indomie.
Ia menyebut dirinya sebagai paralel importer, yang mengurus berbagai jenis produk dalam skala besar. Saat ini, dengan frekuensi kontainer tinggi setiap bulan, ia optimistis akan bisa menyerap lebih banyak produk dari UMKM di Jawa Timur dan sekitarnya.
Dalam satu bulan, ia bisa membawa produk dari berbagai wilayah, mulai dari Tulungagung, Malang, Kediri, Mojokerto, hingga Trenggalek.
Dengan jaringan yang luas dan pasar yang terbuka, ia berharap terus bisa menjadi jembatan antara UMKM Indonesia dengan konsumen Malaysia, sehingga ekspor produk lokal bisa makin luas dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Cerita sukses Pak Dim mengajarkan bahwa ekspor produk lokal tidak harus dimulai dari produk besar seperti mie instan.
Dengan konsistensi, memahami pasar, dan semangat memberdayakan UMKM daerah, produk seperti kerupuk pun bisa jadi komoditas unggulan yang menghidupi banyak pihak di luar negeri.
Harapannya, semakin banyak pelaku bisnis yang mengikuti jejaknya, dan semakin luas pasar produk Indonesia di Malaysia dan negara lainnya.(*)