SokoLokal

Bentuk Pengelola Sampah Tingkat Kelurahan, Pemkot Bandung-IATL ITB Uji Coba di dua Kelurahan

Hasil riset selama 1,5 tahun menemukan adanya ‘missing link’ dalam sistem pengelolaan sampah di tingkat paling bawah. Pengumpulan sampah dI RT/RW masih lemah.

By Rosmery C Sihombing  | Sokoguru.Id
28 Agustus 2025
<p>Pemkot Bandung dan Pespa IATL ITB membentuk Pengelola Sampah Tingkat Kelurahan (PSTK)  yang akan diuji coba di Kelurahan Nyengseret dan Panjunan. (Dok. Diskominfo Kota Bandung)</p>

<p> </p>

Pemkot Bandung dan Pespa IATL ITB membentuk Pengelola Sampah Tingkat Kelurahan (PSTK)  yang akan diuji coba di Kelurahan Nyengseret dan Panjunan. (Dok. Diskominfo Kota Bandung)

 

SOKOGURU, BANDUNG- Untuk menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah di Kota Bandung, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bersama Pespa Ikatan Alumni Teknik Lingkungan (IATL) ITB mengambil langkah nyata. 

Salah satu solusi yang dilakukan adalah pembentukan Pengelola Sampah Tingkat Kelurahan (PSTK) yang akan diuji coba di Kelurahan Nyengseret dan Panjunan.

Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, menyampaikan hal itu di Hotel Ammarosa, Rabu, 27 Agustus 2025

Baca juga: Wali Kota Farhan Gerak Cepat! TNI dan Swasta Turun Tangan Atasi Krisis Sampah Bandung

“Kelembagaan ini dirancang untuk menjadi ujung tombak pengelolaan sampah di level komunitas, agar pengelolaan, terutama sampah makanan, bisa dilakukan langsung dari sumbernya,” ujarnya dalam keterangan resmi Diskominfo Kota Bandung.

Sebagian besar sampah yang dihasilkan warga Bandung, sambung Iskandar,  merupakan sampah organik, termasuk sisa makanan yang seharusnya masih bisa diminimalkan.

“Kita perlu mengubah cara pandang dalam mengelola sampah makanan. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga menyangkut budaya hidup bijak dan tidak boros,” imbuhnya.

Baca juga: Unik! ITB Ajak Mahasiswa Berburu Sampah Jadi Karya Seni di Dies Natalis ke-66

Menurut Iskandar, pengurangan food waste adalah isu lintas sektor. Selain mengurangi volume sampah, pengelolaan yang baik dapat mengubah sisa makanan menjadi pupuk atau pakan ternak yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami yakin hasil riset ini bisa direplikasi ke seluruh kelurahan di Kota Bandung. Tapi kuncinya ada di kolaborasi. Pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Kita butuh sinergi dengan akademisi, swasta, komunitas, dan masyarakat,” bebernya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum IATL ITB, Chitra Ratna, menjelaskan, hasil riset selama 1,5 tahun terakhir menemukan adanya ‘missing link’ dalam sistem pengelolaan sampah di tingkat paling bawah.

“Sering kali kita tidak sadar bahwa pengumpulan sampah dari RT atau RW masih lemah. Ini adalah mata rantai yang hilang tapi krusial dalam sistem,” ungkapnya.

Baca juga: Revolusi Sampah Kota Bandung! TPST Babakan Sari Siap Ubah Limbah Jadi Energi dan Biogas

Menurut Chitra, kelemahan pada sistem pengumpulan itu menjadi penyebab utama mengapa banyak sampah tidak terkelola dengan baik hingga akhirnya menumpuk di TPS dan TPA.

“Kalau link yang hilang itu bisa kita ubah jadi inovasi, maka hasilnya akan sangat terasa. Bandung sudah punya modal bagus seperti program Kang Pisman dan Buruan SAE. Ini bisa jadi contoh nasional,” tambahnya.

Uji coba skema kelembagaan tingkat kelurahan tersebut dianggap sebagai langkah awal yang menjanjikan.

Selain mendorong budaya tanam di rumah (urban farming), program itu juga menunjukkan bahwa sisa makanan yang telah diolah bisa dimanfaatkan kembali, mengurangi beban lingkungan, dan memberi nilai tambah ekonomi bagi warga.  (SG-1)