SOKOGURU - Pernahkah Anda melihat sebuah iklan produk yang tampilannya sangat estetik dan sinematik, namun anehnya produk tersebut justru sepi peminat?
Banyak pelaku usaha yang merasa sudah jago promosi, namun sayangnya mereka sering kali terjebak dalam satu kesalahan fatal yang membuat "peluru" marketing terbuang sia-sia.
Fenomena ini menjadi perbincangan hangat setelah viral tayangan video yang diunggah di akun TikTok @yogistudioid berjudul "iklannya gak jadi ditampilin" yang mengupas tuntas strategi iklan.
Dikutip dari unggahan tersebut, ternyata masalah utama sebuah iklan bukan terletak pada kualitas visualnya yang buruk atau produknya yang tidak layak.
Narasumber dalam video tersebut menjelaskan bahwa sering kali sebuah brand terlalu terpaku pada keunggulan teknis hingga lupa menyentuh sisi emosional calon pembeli.
"Gue gak bilang iklannya jelek, produknya juga kemungkinan oke, masalahnya cuma satu. Iklan ini fokus ke fitur, padahal audiensnya lagi capek mikir," ungkapnya.
Menurut penjelasan tersebut, audiens yang sedang asyik scrolling media sosial biasanya tidak ingin dipaksa untuk berpikir keras memahami detail produk.
Baca Juga:
Fitur-fitur canggih memang penting, namun hal itu lebih bersifat logika, sedangkan keputusan seseorang untuk berhenti scrolling biasanya didorong oleh emosi.
Pembeli cenderung akan lebih tertarik jika merasa produk tersebut sangat mewakili perasaan atau masalah yang sedang mereka hadapi saat itu juga.
"Fitur itu logika guys, yang bikin berhenti scroll itu emosi, dan yang bikin beli bukan detail, tapi rasa ini gue nih," jelas sang narasumber dalam video viral itu.
Ia pun memberikan contoh konkret, misalnya jika ingin mengiklankan produk pelindung mata, jangan langsung memamerkan spesifikasi lensa atau teknologi frame.
Baca Juga:
Alur yang lebih efektif adalah dengan menyentuh keresahan audiens terlebih dahulu, seperti rasa perih pada mata akibat terlalu lama menatap layar ponsel.
"Begitu emosi kena, fitur baru masuk, karena produk itu jawaban, bukan membuka, atau dijadikan sebagai pembukaan, bukan," tambahnya menegaskan urutan promosi.
Pola pikir yang terbalik inilah yang sering kali membuat anggaran iklan yang besar jadi menguap begitu saja tanpa menghasilkan konversi penjualan yang nyata.
Oleh karena itu, brand disarankan tidak hanya mencari kreator yang sekadar viral, tetapi juga mereka yang benar-benar paham cara membedah pasar yang disasar.
Edukasi singkat ini diharapkan menjadi insight berharga bagi para pemilik brand agar iklan yang mereka buat benar-benar bekerja secara maksimal dan efektif. (*)