SOKOGURU, WASHINGTOND.C.- Produk-produk makanan dan minuman (mamin), furnitur, kerajinan, serta berbagai produk tekstil dan fesyen Indonesia paling diminati Buyer Amerika Serikat (AS).
Atase Perdagangan (Atdag) RI Washington D.C., Ranitya Kusumadewi, mengatakan hal itu dalam keterangan resmi, Jumat, 28 November 2025.
“Hal itu terungkap pascamisi dagang Asian American Chamber of Commerce (AACC) ke Indonesia pada 11-18 Oktober 2025,” ujarnya.
Baca juga: Delegasi RI ke AS pada 16-23 April 2025, Dapat Kesempatan Pertama Diundang ke Washington DC
Selain itu, sambung Ranitya, delegasi AACC juga menandatangani sejumlah Letter of Intent (LoI) dan nota kesepahaman (MoU) sebesar USD21,65 juta pada pameran dagang Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 pada 15-19 Oktober 2025.
Ia pun mengapresiasi misi dagang yang difasilitasinya itu dan optimistis, sebab hal itu ni menunjukkan gairah ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam.
“Capaian misi dagang AACC dapat menjadi langkah lanjutan dalam mendorong peningkatan ekspor nonmigas Indonesia dan memperkuat hubungan ekonomi Indonesia-AS melalui kolaborasi sektor swasta yang lebih intensif. Kami memastikan setiap peluang dari misi ini terus bergerak hingga berkontribusi pada peningkatan ekspor Indonesia ke AS,” imbuh Ranitya.
Baca juga: Adakan Pertemuan dengan Usindo di Washington DC, Presiden Dorong Investasi Perusahaan AS
Produk-produk Indonesia yang paling diminati delegasi AACC dari misi dagang, antara lain, kopi dan minuman siap konsumsi, makanan olahan dan bumbu rempah, furnitur dan dekorasi rumah; tekstil, fesyen, modest wear, produk gaya hidup sehat (wellness), herbal, dan aromaterapi.
Produk-produk tersebut dinilai memiliki daya saing dari sisi kualitas, keberlanjutan produksi, dan nilai tambah yang sesuai dengan tren permintaan pasar AS.
Misi dagang AACC ke Indonesia dipimpin Presiden AACC, Cindy Shao, dan diikuti 17 peserta dari kalangan pelaku usaha, investor, asosiasi, serta lembaga keuangan AS.
Beberapa agenda dalam misi dagang termasuk kunjungan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Bali; kunjungan ke KEK BSD City Tangerang, Banten; forum bisnis; serta partisipasi pada Trade Expo Indonesia 2025.
Rangkaian kegiatan misi dagang turut didukung Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia di New York.
Di sisi lain, para pelaku usaha Indonesia juga menunjukkan kesiapan untuk menjalin kerja sama dengan buyer AS dalam berbagai kesempatan selama berlangsungnya misi pembelian.
Ranitya meyakini, saat ini pelaku usaha Indonesia dapat menjadi mitra dagang para buyer AS dan menjalin kerja sama jangka panjang. “Pelaku usaha Indonesia telah menunjukkan kesiapan tinggi untuk mempromosikan produk dan menjalin komunikasi dengan calon mitra AS, dan telah memahami regulasi dan standar ekspor ke AS,” ujarnya lagi.
Sementara itu, produk-produk Indonesia yang berpeluang besar di AS adalah yang kuat dalam hal keunikan produk, penjenamaan, serta penceritaan (storytelling)nya baik.
Fasilitasi UMKM
Lebih lanjut, Ranitya menegaskan, komitmen perwakilan perdagangan RI di AS untuk terus memfasilitasi pelaku usaha Indonesia, termasuk para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dalam hal itu, aspek-aspek penting seperti pemenuhan informasi kebutuhan pasar di AS, persyaratan standar produk, hingga diseminasi strategi efektif untuk masuk ke pasar AS akan terus diperkuat.
“Kami akan terus memperkuat dukungan bagi UMKM dan eksportir Indonesia agar mampu bersaing dan mengoptimalkan peluang ekspor di pasar AS yang sangat potensial,” tambahnya.
Salah satu UMKM wellness dan skincare Ayu Nature asal Bali, Komang Yati, menyampaikan, apresiasi atas inisiasi misi dagang yang mempertemukan buyer dan produsen Indonesia, khususnya pada sesi Round Table Breakfast Meeting di Anvaya Resort Hotel Bali.
Ia menilai misi dagang ini membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas jejaring, mempromosikan produk, dan mengembangkan usaha.
“Terima kasih kepada Atase Perdagangan Washington D.C. atas kesempatan yang diberikan,” ujar Komang.
Di sisi lain, Cindy Shao juga mengapresiasi Atase Perdagangan Ranitya. Ia pun akan menindaklanjuti rencana kolaborasi yang terjalin dari kegiatan misi dagang.
"Kami sangat menghargai kolaborasi bersama Atase Perdagangan Washington D.C. yang membuat misi dagang AACC begitu berkesan. Kami antusias untuk melanjutkan kemitraan ini guna memperkuat hubungan dengan Indonesia di masa mendatang,” ungkapnya.
AACC merupakan asosiasi bisnis yang menaungi lebih dari 300 anggota perusahaan lintas sektor di kawasan Washington D.C., Maryland, dan Virginia.
Dengan jaringan kuat ke pelaku usaha diaspora Asia di AS serta kedekatan dengan korporasi besar AS, asosiasi ini berperan strategis sebagai jembatan bisnis bagi pengembangan kemitraan perdagangan Indonesia-AS.
Pada Januari—September 2025, total perdagangan Indonesia dan AS mencapai USD 32,58 miliar atau tumbuh 15 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.
Indonesia surplus terhadap AS sebesar USD 13,48 miliar. Sementara itu, pada 2024, total nilai perdagangan Indonesia dan AS tercatat mencapai USD 38,56 miliar atau tumbuh 11,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia membukukan surplus sebesar USD 14,52 miliar.
Produk ekspor Indonesia ke AS di antaranya adalah mesin dan peralatan listrik, barang-barang rajutan, alas kaki, pakaian jadi bukan rajutan, serta lemak dan minyak hewani atau nabati.
Sementara itu, impor Indonesia dari AS di antaranya adalah mesin-mesin dan pesawat mekanik, biji- bijian berminyak, ampas atau sisa industri makanan, mesin dan peralatan listrik, serta bahan bakar mineral. (SG-1)