SOKOGURU, JAKARTA- Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus berkomitmen memperkuat perdagangan Indonesia di tengah tantangan perdagangan global.
Penguatan tersebut dilakukan dengan mendorong perdagangan baik di dalam maupun luar negeri.
Hal itu disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso (Mendag Busan) pada dialog kebijakan (policy dialogue) Indonesia Economic Summit 2026 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.
Baca juga: Bidik Ritel Inggris, Kemendag Bawa UMKM Perempuan Manfaatkan Spring Fair 2026 di Birmingham
“Kondisi perdagangan saat ini menghadapi banyak dinamika. Pasar luar negeri memiliki banyak eskalasi tantangan yang harus kita hadapi. Kita juga perlu memikirkan faktor di dalam negeri seperti peningkatan daya saing produk lokal untuk mengisi pasar dalam negeri sekaligus mendorong ekspor,” ujarnya, seperti dikutip keterangan resmi Kemendag, Rabu, 4 Februari.
Turut mendampingi Mendag Busan, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan dan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kemendag, Johni Martha.
Lebih lanjut, Busan menyampaikan, respons Kemendag terhadap dinamika global adalah adanya program- program prioritas yang mendukung kinerja perdagangan nasional, baik terkait perdagangan dalam negeri maupun luar negeri.
Baca juga: Kemendag Dorong Perluasan Pasar Produk Halal, Indonesia Posisi Ketiga Indikator Ekonomi Islam Global
Terkait pasar dalam negeri, sambungnya, pihaknya terus mendorong pelaku usaha lokal agar dapat meningkatkan kualitas produk. Hal itu untuk memastikan produk lokal mampu bersaing dan menguasai pasar dalam negeri.
“Kita memiliki pasar yang besar, mari kita isi dengan produk-produk dalam negeri. Syaratnya, produk kita harus mempunyai daya saing. Dengan berdaya saing, kita mampu membendung produk asing,” imbuh Busan.
Menurutnya, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga terus difasilitasi Kemendag untuk mendapatkan tempat di ritel modern. Kemendag telah memfasilitasi berbagai penjajakan bisnis (business matching) antara UMKM dan ritel modern.
Baca juga: Kemendag Gandeng Jetro Gelar Business Matching, Buka Jalan 30 UMKM Indonesia Ekspor ke Jepang
“Saat ini, 80% ritel modern sudah diisi produk UMKM. Hal ini menunjukkan kalau produk-produk UMKM kita mempunyai daya saing,” tambahnya.
Kemendag juga turut mendorong konsumsi produk dalam negeri melalui berbagai program belanja nasional.
Tiga program belanja
Sepanjang 2025, tiga program belanja telah dilaksanakan, yakni Every Purchase Is Cheap (EPIC) Sale dengan total transaksi mendekati Rp55 triliun, Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) Rp36,4 triliun, serta Belanja di Indonesia Aja (BINA) Great Sale Indonesia 2025 Rp31 triliun.
Kemudian, Mendag Busan menyampaikan, sepanjang 2025, kementeriannya berhasil menyelesaikan 5 perjanjian untuk membuka jalan bagi produk lokal di pasar dunia.
Terdapat Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (I-EU CEPA), Indonesia-Canada CEPA, Indonesia-Peru CEPA, Indonesia- Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia-EAEU FTA), dan Indonesia-Tunisia Preferential Trade Agreement (PTA).
Secara keseluruhan, sebanyak 20 perjanjian dagang telah diimplementasikan, 15 perjanjian dalam proses ratifikasi, dan 11 perjanjian masih dalam proses perundingan.
Mendag Busan menekankan bahwa fasilitasi ekspor bagi pelaku UMKM didukung 46 perwakilan dagang RI di 33 negara.
Sepanjang 2025, Program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor telah memfasilitasi business matching yang diikuti oleh 1.217 pelaku usaha. Tercatat, total transaksi sepanjang 2025 mencapai USD 134,87 juta.
“Kami ingin agar pelaku ekspor bukan hanya (pelaku usaha) yang besar. Pelaku usaha menengah dan kecil juga harus bisa ekspor,” ujar Mendag Busan.
Komitmen memajukan ekspor juga dilakukan di desa melalui Desa BISA Ekspor. Sepanjang 2025, telah terkurasi sebanyak 741 desa yang dinilai siap melakukan ekspor.
Selain itu, Campuspreneur yang digagas Kemendag akan memfasiltasi mahasiswa, pengusaha, dan pemerintah daerah untuk belajar ekspor. Kegiatan ini dilakukan dengan program magang di kantor Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di luar negeri.
Pada kesempatan yang sama, CEO Indonesian Business Council (IBC), Sofyan A. Djalil, mengapresiasi dialog yang diadakan.
“Dialog terbuka merupakan kesempatan yang baik untuk kita manfaatkan. Harapannya, lewat dialog, kita bisa memacu gerak ekonomi kita, khususnya terkait industri dan perdagangan,” ujarnya.
Acara dilanjutkan dengan diskusi Mendag Busan bersama perwakilan kementerian, dunia usaha, asosiasi, dan akademisi. Acara ditutup dengan penyerahan policy brief dari IBC kepada Mendag Busan (SG-1)