Kemdiktisaintek, ITB dan Jepang Jajaki Kerja Sama Strategis di Bidang Energi Bersih dan Teknologi Industri

ITB paparkan kapasitas risetnya di bidang biofuel, Sustainable Aviation Fuel, dan bioavtur, termasuk pengembangan berbasis minyak nabati dan biomassa nonpangan.

Author Oleh: Rosmery C Sihombing
09 Januari 2026
<p>Kunjungan delegasi Kemdiktisaintek, NEDO, dan PT TMMIN di Ruang Rapim A, Gedung Rektorat ITB,  Kamis, 8 Januari 2026. (Dok. ITB)</p>

Kunjungan delegasi Kemdiktisaintek, NEDO, dan PT TMMIN di Ruang Rapim A, Gedung Rektorat ITB,  Kamis, 8 Januari 2026. (Dok. ITB)

SOKOGURU, BANDUNG- Dalam rangka pengembangan energi bersih dan teknologi industri berkelanjutan, Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memperkuat penjajakan kerja sama strategis dengan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) Jepang, dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Kolaborasi Indonesia–Jepang itu diarahkan pada pengembangan proyek-proyek strategis berskala besar yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri dan agenda hilirisasi teknologi.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, M. Fauzan Adziman, dalam keterangan resmi ITB, Jumat, 9 Januari 2026.

Baca juga: Bersinergi Bangun Ekosistem Sains di Platform Digital, Kemdiktisaintek, ITB dan TikTok Gelar Workshop

Penjajakan kerja sama tersebut berlangsung melalui kunjungan delegasi Kemdiktisaintek, NEDO, dan PT TMMIN di Ruang Rapim A, Gedung Rektorat ITB, pada Kamis, 8 Januari 2026.

Sebelumnya, delegasi Kemdiktisaintek dan NEDO juga melakukan Kunjungan ke ITB Innovation Park, Summarecon, Bandung.

Kegiatan itu menjadi ruang dialog untuk mempertemukan kebijakan pemerintah, kapasitas riset perguruan tinggi, dukungan lembaga riset internasional, dan kebutuhan industri dalam menjawab tantangan transisi menuju industri rendah karbon..

Baca juga: DKST ITB Gelar Innovibes Edisi Dua, Tunjukkan Masa Depan Transportasi dan Energi Berkelanjutan

Pada pertemuan itu, Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan dan peluang kolaborasi yang terbangun. 

Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghasilkan solusi nyata bagi pembangunan.

“ITB menyambut baik kolaborasi ini sebagai upaya bersama untuk mempertemukan riset, kebijakan, dan kebutuhan industri. Sinergi dengan Kemdiktisaintek, NEDO, dan mitra industri diharapkan dapat menghasilkan teknologi yang relevan dan berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.

Baca juga: ITB Gandeng Industri Kembangkan Kendaraan Otonom AVA, Buktikan Indonesia Bisa Jadi Produsen Teknologi

Dalam sesi pemaparan, ITB memperkenalkan kapasitas risetnya di bidang biofuel, Sustainable Aviation Fuel (SAF), dan bioavtur, termasuk pengembangan berbasis minyak nabati dan biomassa nonpangan. 

ITB juga menampilkan pengembangan demo plant Bioavtur J100 serta penguasaan teknologi katalis sebagai elemen kunci untuk meningkatkan efisiensi proses dan kesiapan implementasi di skala industri.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., menjelaskan, seluruh aktivitas riset tersebut dirancang dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
"Kami tengah mengembangkan ekosistem kolaboratif yang menghubungkan riset dasar, pengembangan teknologi, hingga hilirisasi bersama industri. Dengan pendekatan ini, hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat ditransformasikan menjadi solusi yang siap dimanfaatkan,” jelasnya.
Executive Director of Technology and Innovation Strategy NEDO, Kikuo Kishimoto, menekankan, riset dan pengembangan harus berkontribusi langsung pada penyelesaian persoalan sosial.
“Dalam pengembangan industri, kita perlu menjawab tantangan energi, lingkungan, dan kesejahteraan hidup. Karena itu, riset dan pengembangan seharusnya berkontribusi ke arah tersebut. Kami melihat peluang untuk membangun perkembangan baru bersama Indonesia,” ujarnya.
Di sisi lain, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, memaparkan, pendekatan dekarbonisasi melalui bauran teknologi, mulai dari biofuel, synthetic fuels (e-fuels), bioetanol generasi lanjut, hingga hidrogen. 

Pendekatan itu dipandang sebagai solusi transisi untuk menurunkan emisi sektor transportasi dan industri, sekaligus menyiapkan kesiapan teknologi jangka panjang.
Ke depan, para pihak sepakat untuk menindaklanjuti penjajakan ini melalui penyusunan peta jalan kolaborasi, pembentukan konsorsium riset terapan, serta perumusan proyek bersama yang menghubungkan kapasitas riset ITB, dukungan kebijakan Kemdiktisaintek, keunggulan teknologi NEDO, dan kebutuhan industri.
Kolaborasi itu diharapkan dapat mempercepat pengembangan energi bersih berbasis sains dan teknologi, sekaligus memperkuat kemitraan strategis Indonesia–Jepang dalam mendorong industri yang berkelanjutan dan berdaya saing. (SG-1)