Miris! Biasa Mandiri Pakai Modal Sendiri, Pengurus Kopdes Kini 'Dicekoki' Mobil Impor India

Rencana BUMN Agrinas impor 105 ribu mobil India untuk Kopdes tuai kritik pedas. Mardani Ali Sera sebut kapasitas otomotif lokal mampu penuhi kebutuhan nasional.

Author Oleh: Cikal Sundana
24 Februari 2026
<p>Impor Mobil India - Ketua Kopdes Tegalmanggung ungkap kekecewaan atas rencana impor mobil India. Khawatir mentalitas 'Self-Help' koperasi hancur akibat ketergantungan fasilitas asing.</p>

Impor Mobil India - Ketua Kopdes Tegalmanggung ungkap kekecewaan atas rencana impor mobil India. Khawatir mentalitas 'Self-Help' koperasi hancur akibat ketergantungan fasilitas asing.

SOKOGURU, JAKARTA - Heboh Rencana Impor Pikap India untuk Kopdes, Mardani Ali Sera: Industri Lokal Jauh Lebih Siap!

Rencana besar BUMN Agrinas Pangan Nusantara untuk mendatangkan ribuan kendaraan niaga dari India sedang menjadi sorotan hangat publik saat ini.

Kabar mengenai impor kendaraan untuk operasional Koperasi Desa (Kopdes) ini memicu kritik pedas, salah satunya datang dari politisi senior, Mardani Ali Sera.

Anggota DPR RI dari Fraksi PKS tersebut secara tegas menyatakan dukungannya terhadap sikap Kadin yang keberatan dengan langkah impor tersebut.

Menurut Mardani, pabrikan otomotif di tanah air sebenarnya punya kapasitas yang sangat mumpuni untuk memenuhi kebutuhan kendaraan dalam negeri.

Ia menilai industri nasional tidak perlu lagi bergantung pada produk luar negeri karena fasilitas produksi kita sudah sangat maju dan modern.

“Setuju dengan Kadin. Kalau pertimbangannya kemampuan produksi, industri otomotif Indonesia bahkan punya kapasitas produksi di atas 1 juta (unit)," ujar Mardani lewat akun X miliknya, Senin, 23 Februari 2026.

Lebih lanjut, ia memaparkan data perbandingan antara kemampuan produksi nasional dengan jumlah permintaan kendaraan yang dibutuhkan oleh pihak Agrinas.

"Dengan penjualan dua tahun cuma 800 ribuan, industri otomotif dalam negeri siap dan yakin mampu memenuhi permintaan Agrinas yang cuma 105 ribuan kendaraan untuk Koperasi Desa," sambungnya.

Mardani merasa khawatir jika keputusan impor ini justru akan menjadi bumerang bagi upaya pemerintah dalam memperluas lapangan kerja bagi rakyat.

Sektor manufaktur yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi, justru bisa kehilangan momentum emas jika proyek besar ini diserahkan ke pihak asing.

Baca Juga:

“Membeli dari India bukannya malah memberi pekerjaan bagi mereka, padahal kita sedang menggencarkan perluasan lapangan pekerjaan. Khususnya sektor manufaktur, bukan hanya driver ojek online,” tegasnya.

Baginya, pengadaan kendaraan untuk program strategis nasional wajib menjadi pemicu kebangkitan industri lokal agar ekonomi masyarakat semakin tumbuh kuat.

Sebagai informasi, Agrinas rencananya akan mengimpor sekitar 105 ribu unit pikap dari India tahun ini demi mendukung mobilitas Kopdes di seluruh Indonesia.

Agrinas sendiri merupakan pelaksana utama pembangunan Kopdes Merah Putih yang ditunjuk langsung melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 17 Tahun 2025.

Langkah ini pun kini terus menuai perdebatan, apakah pemerintah akan tetap lanjut atau mulai melirik potensi besar dari karya anak bangsa sendiri.

Merusak Konsep Bung Hatta

Kritik tajam juga datang dari akar rumput, yakni Ketua Koperasi Desa Merah Putih Tegalmanggung, Rizki Laelani, yang melihat kebijakan ini dari sisi ideologis.

Menurut Rizki, langkah memborong mobil dari India tersebut sangat mencederai pemikiran mendasar dari Bapak Koperasi Indonesia, Mohammad Hatta.

Ia menekankan bahwa Bung Hatta selalu mengajarkan bahwa koperasi harus berdiri di atas kaki sendiri atau mandiri dalam segala aspek.

"Membawa masuk produk impor secara masif justru berisiko merusak mental para pengurus koperasi di tingkat desa yang sedang berjuang," ungkap Rizki.

Selama ini, para pengurus Kopdes sudah terbiasa mengeluarkan modal sendiri secara mandiri untuk menjalankan roda operasional organisasi mereka.

Ketergantungan pada fasilitas impor dianggap bertentangan dengan konsep Self-Help yang menjadi fondasi utama gerakan koperasi menurut teori Bung Hatta.

Rizki menilai, gelontoran barang dari luar negeri ini justru bisa menciptakan mentalitas ketergantungan yang merusak integritas pengurus koperasi lokal.

Padahal, semangat asli koperasi adalah swadaya masyarakat yang bersumber dari kekuatan internal untuk kemakmuran bersama, bukan dari bantuan asing. (*)