SOKOGURU - Fenomena sepinya aktivitas Koperasi Merah Putih mulai menjadi sorotan publik.
Padahal, koperasi ini baru saja diluncurkan Presiden Prabowo Subianto lebih dari sebulan lalu sebagai program prioritas untuk mendorong pemberdayaan masyarakat desa.
Sayangnya, sejumlah koperasi justru dilaporkan tidak berjalan sesuai harapan, bahkan ada yang terpaksa tutup karena minimnya aktivitas.
Baca Juga:
Menanggapi kondisi ini, Menteri Perdagangan sekaligus Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan atau Zulhas, menegaskan bahwa koperasi tidak boleh dipahami sekadar sebagai tempat pembagian bantuan.
Menurutnya, inti dari keberadaan Koperasi Merah Putih adalah pemberdayaan ekonomi warga desa.
Karena itu, ia mendorong agar para pengurus bekerja lebih keras, aktif mencari solusi, dan menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah.
Dalam kunjungannya ke Koperasi Merah Putih Desa Candirejo, Magelang, Zulhas menilai tantangan adalah hal wajar dalam membangun lembaga ekonomi berbasis masyarakat.
Namun, ia mengingatkan bahwa hambatan tersebut harus segera diatasi agar koperasi benar-benar bisa memberi manfaat bagi warga sekitar.
Program Prioritas yang Belum Optimal
Koperasi Merah Putih dirancang sebagai program strategis pemerintah untuk memperkuat ekonomi desa.
Kehadiran koperasi ini diharapkan mampu menyediakan kebutuhan pokok, layanan kesehatan, hingga fasilitas penunjang lain bagi warga.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa beberapa koperasi justru sepi peminat.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar terkait efektivitas pengelolaan dan daya tarik koperasi bagi masyarakat.
Sepi Aktivitas hingga Tutup
Laporan media menyebutkan, sejumlah koperasi tampak lengang meski lokasinya strategis.
Misalnya di Desa Hambalang, Bogor, Jawa Barat, koperasi yang berada tidak jauh dari kediaman Presiden Prabowo terlihat nyaris kosong.
Rak sembako minim barang, klinik apotek terkunci dan berdebu karena belum pernah beroperasi, kios pupuk sepi pembeli, bahkan pangkalan LPG tak berjalan akibat tabung kosong.
Seorang pengelola mengakui masalah utama adalah ketiadaan modal dan kurangnya sosialisasi ke masyarakat.
Akibatnya, keberadaan koperasi sulit dikenal warga dan manfaatnya pun belum dirasakan secara nyata.
Dorongan dari Pemerintah dan Pengurus
Menanggapi situasi tersebut, Zulhas meminta pengurus koperasi agar tidak menyerah.
Ia menyarankan setiap hambatan segera dikomunikasikan kepada bupati atau wali kota sebagai ketua satgas percepatan koperasi.
Dengan begitu, permasalahan bisa cepat ditangani melalui dukungan pemerintah daerah.
Selain itu, pengurus diharapkan lebih kreatif dalam mengelola koperasi.
Misalnya dengan memperluas jaringan mitra, meningkatkan transparansi pengelolaan, serta aktif melakukan promosi agar masyarakat mengetahui dan mau memanfaatkan layanan yang tersedia.
Pemberdayaan sebagai Inti
Menurut Zulhas, koperasi bukanlah tempat membagikan bantuan atau subsidi langsung, melainkan wadah pemberdayaan ekonomi.
“Koperasi kita ini bukan bagi-bagi uang. Ini intinya pemberdayaan,” tegasnya saat meninjau koperasi di Magelang.
Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan koperasi tidak hanya bergantung pada modal, tetapi juga pada semangat kerja sama, pengelolaan yang transparan, dan keterlibatan aktif masyarakat desa.
Jika dikelola dengan baik, Koperasi Merah Putih bisa menjadi instrumen nyata dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan. (*)