Ekonomi

Setop Daging Impor dan Mulai Kembangkan Industri Sapi Lokal


Sampai tahun 2026, Indonesia masih mengandalkan kebutuhan daging sapi dengan mengimpor hingga 30% sampai 40%.
 

Ilustrasi gading impor, Bapanas mengumumkan bahwa impor daging sapi sudah masuk ke Indonesia sebanyak 145.000 ton dan sapi hidup sebanyak 36.000 ekor. (Ist/Bulog)

PADA 17 April 2024 lalu, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengumumkan bahwa impor daging sapi sudah masuk ke Indonesia sebanyak 145.000 ton dan sapi hidup sebanyak 36.000 ekor. 

 

Tujuan dari importasi tersebut dimaksudkan sebagai buffer stock untuk menjaga kestabilan harga daging sapi. 

 

Namun, beberapa hari lalu, Sekretaris Badan Pangan Nasional (Bapanas), Sarwo Edhy mengatakan persetujuan impor (PI) terbaru mencapai 219.244 ton dan yang terealisasi sebanyak 51.363 ton atau sekitar 23%. 

 

Baca juga: DPR: Serap Sapi Lokal Dulu Sebelum Bapanas Impor 50 Ribu Ton Jelang Iduladha

 

Artinya, pembatasan impor yang dicanangkan pada April lalu tidak terealisasi dan pemerintah tetap bergantung pada impor tinimbang menggenjot lebih serius industri sapi lokal. 

 

Meskipun jumlah PI ditingkatkan 50% dari rencana pembatasan, bila dikalkulasikan dengan proyeksi produksi daging sapi lokal dalam Peternakan Dalam Angka 2023 yang dikeluarkan BPS dan ditotalkan dengan realisasi impor, pemenuhan kebutuhan daging baru menyentuh angka 528.583 ton. 

 

Angka tersebut masih belum mampu memenuhi kebutuhan daging sapi potong masyarakat Indonesia yang berada di angka 720.375 ton. 

 

Baca juga: Jelang Iduladha, Pemkot Bandung  Pemeriksa Hewan Kurban dengan Inovasi Teknologi

 

Selisih yang menyentuh 191.792 ton itu,  walau pun PI telah dipenuhi, artinya masih ada kekurangan sebanyak 23.911 ton. 

 

Terlepas dari itu, nilai impor daging sapi untuk memenuhi kebutuhan domestik sangat fantastis. 

 

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea Cukai yang diolah Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2023 Indonesia mengimpor daging sejenis lembu (sapi, kerbau, dan sejenisnya) sebanyak 238,43 ribu ton dengan nilai transaksi sebesar USD834,27 juta atau Rp 13,55 triliun (asumsi kurs Rp 16,244/USD pada pukul 8.30 WIB, Kamis (13/06)).

 

Rekam Jejak Importasi Daging Berjenis Lembu

 

Volume Impor Daging Berjenis Lembu pada Tahun 2023

 

Sumber: BPS

Data divisualisasikan: Fajar Ramadan

 

Dilihat berdasarkan negara pemasoknya, pada tahun 2023, total impor daging berjenis lembu dari berbagai negara mencapai 238.433,6 ton. 

 

Sebagian besar impor ini berasal dari dua negara utama, yaitu Australia dan India. 

 

Australia menjadi pemasok terbesar dengan jumlah impor mencapai 112.601,0 ton, yang mencakup 47,23% dari total impor. 

 

India berada di posisi kedua dengan jumlah impor sebesar 104.204,1 ton atau 43,70% dari total impor. 

 

Selain itu, Brasil menyumbang 12.303,2 ton atau 5,16%, sementara Amerika Serikat mengirimkan 6.361,8 ton yang setara dengan 2,67%.

 

Baca juga: Mentan Amran Ajak Pengusaha Peternakan Jawa Barat Wujudkan Swasembada Daging

 

Impor dari Selandia Baru mencapai 525,7 ton atau 0,22%, sedangkan Spanyol mengimpor 48,3 ton atau 0,02%. 

 

Negara-negara lainnya berkontribusi sebesar 2.389,5 ton atau 1,00%. 

 

Data ini menunjukkan dominasi Australia dan India sebagai pemasok utama daging sapi ke Indonesia pada tahun 2023, dengan kedua negara tersebut menyumbang lebih dari 90% dari total impor. 

 

Persentase impor dari negara-negara lain relatif kecil dibandingkan dengan dua negara utama tersebut, menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada Australia dan India dalam memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri.


 

Output image

Sumber: BPS

Data divisualisasikan: Fajar Ramadan

 

Pada tahun 2023, total impor daging sapi dari berbagai negara mencapai 238.433,6 ton, mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 

 

Pada tahun 2022, total impor daging sapi tercatat sebesar 208.350,7 ton. 

 

Dengan demikian, terjadi kenaikan impor sebesar 14,43% dari tahun 2022 ke tahun 2023. 

 

Peningkatan ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan dan permintaan daging sapi di Indonesia, serta ketergantungan yang tinggi pada impor untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 

 

Data ini menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan dalam impor daging sapi di Indonesia.

 

Stagnasi Produksi Sapi Lokal 

 

Ketergantungan untuk pemenuhan permintaan daging sapi selalu dilakukan dengan jalan pintas, yakni melakukan impor. 

 

Melihat perkembangan produksi sapi lokal, mengacu kembali pada data BPS, peningkatan produksi daging sapi di Indonesia menunjukkan tren yang menjanjikan pada 2021 hingga 2022 yakni sebesar 2,28%. 

 

Sayangnya, meskipun tren positif berlanjut, akan tetapi peningkatan tersebut menurun pada tahun 2023 ke angka 0,92%. 

 

Artinya, pada 2022 total produksi mencapai 498.923,14 ton sedangkan pada 2023  produksi daging sapi hanya meningkat menjadi 503.506,8 ton. 

 

Baca juga: Kerja Sama RI-Uruguay: Meningkatkan Kualitas Daging dan Susu Ternak Indonesia

 

Sementara itu, produksi daging sapi di Indonesia dari tahun 2021 hingga 2023, Provinsi Jawa Timur masih memegang posisi tertinggi dalam produksi daging lokal.

 

Pada tahun 2023, Jawa Timur mencatatkan produksi sebesar 91.302 ton, sedikit mengalami penurunan dari 92.500 ton pada tahun 2022. Penurunan ini sebesar 1,30% dibandingkan tahun sebelumnya.


 

Sumber: BPS

Data divisualisasikan: Fajar Ramadan

 

Mirisnya produksi sapi mengalami penurunan di 16 provinsi pada tahun 2023, di antaranya Jambi mengalami penurunan sebesar 14,57%, Sumatera Selatan 21,27%, Jawa Barat 10,21%, Jawa Timur 7,46%, dan Bali sebesar 13,17%. 

 

Nusa Tenggara Barat juga mengalami penurunan sebesar 9,64%, Kalimantan Barat 7,26%, Kalimantan Tengah 2,12%, serta Kalimantan Utara sebesar 0,44%. 

 

Penurunan paling tajam terjadi di Sulawesi Utara dengan 35,88%, Sulawesi Tengah 8,29%, Sulawesi Selatan 0,59%, dan Sulawesi Barat sebesar 21,26%. 

 

Sementara itu, Maluku Utara mencatat penurunan sebesar 28,05%, Papua Barat 74,79%, dan Papua sebesar 56,02%. 

 

Penurunan ini mengindikasikan adanya tantangan signifikan dalam upaya mempertahankan produksi daging sapi di berbagai provinsi di Indonesia.

 

Belum lagi dalam dalam kurun waktu 2026 Indonesia menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan daging sapi domestik. Berdasarkan laporan dari Outlook Daging Sapi dan Kerbau 2022, defisit daging sapi diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. 

 

Pada tahun 2023, defisit diproyeksikan mencapai ribu ton. Angka ini diperkirakan meningkat signifikan menjadi 285,67 ribu ton pada tahun 2024. 

 

Tren ini terus berlanjut dengan defisit sebesar 291,28 ribu ton pada tahun 2025. 

 

Puncaknya, pada tahun 2026, defisit daging sapi diproyeksikan mencapai angka yang mengkhawatirkan, yaitu 307,32 ribu ton.

 

Kondisi ini menekankan pentingnya strategi dan kebijakan yang lebih efektif untuk meningkatkan populasi sapi potong dalam negeri. 

 

Selain itu, diperlukan peningkatan efisiensi dalam distribusi dan pengolahan daging sapi agar ketergantungan pada impor dapat dikurangi. 

 

Demam Swasembada Daging Sapi

 

Stagnasi produksi daging sapi lokal yang hanya mampu menyentuh angka 60 % saja dari tahun ke tahun masih jauh untuk mencapai swasembada pangan dalam sektor daging sapi. 

 

Meskipun begitu, upaya untuk meningkatkan produksi juga telah dilakukan melalui berbagai program seperti Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan) dan Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting (Upsus Siwab).

 

Namun, kedua program tersebut masih belum mengatasi permasalahan karena dalam prosesnya masih belum optimal karena permasalahan yang coba diatasi hanya menyasar permasalahan ekologis saja.

 

Sementara permasalahan faktor pendukung seperti Sumber Daya Manusia (SDM), kelembagaan, teknologi, dan infrastruktur belum dipertimbangkan dalam pelaksanaannya.

 

Tak hanya itu, berjalannya program ini pun sangat dibutuhkan kolaborasi dengan perguruan tinggi yang mengevaluasi program-program tersebut di atas, sehingga solusi mengarah permasalahan urgent yang mesti diselesaikan. 

 

Katakanlah dalam penelitan Higher Education and Sustainability of Beef Cattle in the Village of South Sulawesi Indonesia menunjukan bahwa implikasi peran perguruan tinggi sangat signifikan dalam mendukung pengembangan keberlanjutan usaha sapi potong di Desa Bune, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

 

Penelitian yang dilakukan oleh Haeruddin Saleh, Muhammad Idris, dan Sri Firmiaty dari Universitas Bosowa, Makassar ini menggunakan metode kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner yang melibatkan 30 responden dari kelompok peternak sapi di desa tersebut

 

Hasilnya menunjukkan bahwa pendampingan dari perguruan tinggi secara signifikan meningkatkan kompetensi teknis, kewirausahaan, dan manajerial peternak. Kompetensi teknis memiliki pengaruh terbesar terhadap peningkatan produktivitas usaha, dengan nilai statistik 0.392. 

 

Kompetensi manajerial juga berperan penting dalam keberlanjutan usaha, dengan nilai 0.421 untuk produktivitas dan 0.384 untuk keberlanjutan. 

 

Sementara itu, dari sisi sumber daya manusia peternakan rakyat di Indonesia masih dilakukan sebagai usaha sampingan saja yang bersifat sebagai tabungan. 

 

Hal tersebut dibuktikan dalam penelitian Characteristics of Beef Cattle Farmers at Southern West Java

 

Penelitian yang dilakukan di lima kabupaten di sepanjang koridor jalan Selatan Jawa Barat tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik peternak sapi potong. 

 

Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik purposive sampling untuk mengumpulkan data dari 13 kecamatan di lima kabupaten, yaitu Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran. 

 

Data dikumpulkan dari 113 peternak melalui observasi langsung, wawancara mendalam dan terstruktur, diskusi kelompok terarah (FGD), dan studi literatur.

 

Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa sebanyak 70.8% responden mengatakan bahwa usaha ternak yang mereka jalankan hanyalah sampingan belaka. 

 

Sementara itu, populasi ternak yang mereka miliki sebanyak setengah responden hanya memiliki 1-3 ekor sapi. 

 

Fakta bahwa peternakan di Indonesia adalah masalah swasembada itu sendiri. 

 

Peternakan rakyat yang dilakukan secara mandiri dan dijalankan secara tradisional masih dianggap sebagai usaha sambilan saja, tidak digeluti untuk pengembangan lebih jauh.

 

Belum lagi minimnya industri peternakan sapi yang fokus pada upaya breeding untuk meningkatkan populasi sapi yang dapat memenuhi jangka panjang. 

 

Sebaliknya, industri peternakan mayoritas bergerak pada usaha penggemukan yang ditujukan untuk memenuhi jangka pendek semata. 

 

Berdasarkan penjelasan tersebut, pemerintah harus mulai memikirkan pengembangan peternakan rakyat yang rata-rata dilakukan secara mandiri menjadi usaha yang orientasi pasarnya baik. 

 

Dengan cara demikian tak hanya reproduksi sapi yang bisa terjaga, akan tetapi berimplikasi juga pada devisa negara. 

 

Bila 90% pasokan daging sapi lokal memenuhi kebutuhan konsumsi domestik, maka swasembada dikatakan berhasil. Indonesia tak perlu lagi mengeluarkan anggaran sebanyak Rp 13,5 T pertahunnya untuk menambal kekurangan pasokan daging sapi. 

 

Tak hanya, masalah pasokan saja, industri peternakan lokal pun bisa melangkah lebih maju lagi. 

 

Pelibatan perguruan tinggi dengan memberi ruang untuk pengabdian masyarakat atau pemanfaatan karya ilmiah mereka sangat berpengaruh pada pengembangan peternakan di indonesia. 

 

Dengan demikian, bukan hanya swasembada yang tercapai. Tapi, ikut mengubah persepsi masyarakat bahwa berternak menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan, modern, dan berdampak. (Fajar Ramadan/SG-2)