Ekonomi

Kemenkop UKM dan Hippindo Gandeng China Majukan UMKM Berbasis Teknologi

Staf Ahli Menteri Bidang Produktivitas dan Daya Saing Kemenkop UKM, Herbert Siagian, menegaskan potensi besar dalam kerja sama ekonomi antara Indonesia dan China, terutama dalam pengembangan UMKM.

By Deri Dahuri  | Sokoguru.Id
31 Mei 2024
Kemenkop UKM bersama Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) tengah menjajaki kerja sama strategis dengan The Changsha E-Commerce Association dari China. (Dok.Kemenkop)

KEMENTERIAN Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) bersama Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) tengah menjajaki kerja sama strategis dengan The Changsha E-Commerce Association dari China.

 

Upaya ini bertujuan untuk mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia melalui integrasi teknologi.

 

Staf Ahli Menteri Bidang Produktivitas dan Daya Saing Kemenkop UKM, Herbert Siagian, menegaskan potensi besar dalam kerja sama ekonomi antara Indonesia dan China, terutama dalam pengembangan UMKM.

 

Baca juga: Dongkrak Daya Saing Produk UMKM, Kemenkop UKM Latih SDM Perajin Kulit di Garut

 

"Pertemuan ini membuka peluang bagi pemberdayaan UMKM melalui teknologi, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan dan pembangunan ekonomi," ujar Herbert saat menerima delegasi The Changsha E-Commerce Association di Jakarta.

 

Kerja sama ini diharapkan dapat mengintegrasikan UMKM Indonesia ke dalam rantai pasok global, memperluas jaringan pemasaran ekspor, serta memperkuat kemitraan bisnis.

 

"Kami telah menerapkan berbagai kebijakan untuk kemajuan UMKM, termasuk menjadikan mereka bagian dari rantai pasok global dan mengalokasikan pengeluaran pengadaan pemerintah untuk UMKM," jelas Herbert sebagaimana dilansir situs Kemenkop UKM, Rabu (29/5).

 

Baca juga: Perluas Akses Pembiayaan Startup UMKM, Kemenkop UKM Gandeng Global Venture Capital

 

Menurut data BPS 2023, total nilai ekspor Indonesia ke China mencapai 258,82 miliar dolar AS, dengan komoditas utama berupa bahan bakar mineral, lemak hewan/nabati, besi dan baja, serta mesin dan peralatan elektronik.

 

Herbert melihat peluang besar dalam kerja sama ini, mengingat kemajuan China di berbagai sektor seperti infrastruktur, manufaktur, dan pertanian.

 

Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, mengajak pelaku usaha Indonesia untuk memanfaatkan program alokasi 40% belanja pemerintah melalui LKPP.

 

"Potensi pasar yang bisa diraih oleh pelaku usaha khususnya UMKM sangat besar," kata Budihardjo.

 

Ia juga menambahkan bahwa investor China dapat memanfaatkan program ini dengan mendirikan perusahaan di Indonesia dan memenuhi aturan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri).

 

Budihardjo juga mendorong para calon investor China untuk merencanakan pembangunan pabrik di Indonesia guna memenuhi pasar domestik yang besar dan potensial untuk ekspor.

 

"Kita butuh vendor dan pabrik untuk memenuhi pasar domestik. Jika mampu memenuhi TKDN, peluangnya sangat besar," ujarnya.

 

Baca juga: Pelaku UMKM Butuh Desain Kemasan Produk Menarik, Kemenkop UKM Siap Melayani

 

Sementara itu, Presiden The Changsha E-Commerce Association, Wang Yingping, menyambut baik niat Kemenkop UKM dan Hippindo untuk bersinergi.

 

"Kedatangan kami ke sini adalah untuk berkonsultasi, belajar, mengenal, dan menggali potensi yang ada," kata Wang.

 

Ia berharap kerja sama ini dapat memperkuat hubungan bilateral dan menciptakan platform yang lebih luas untuk kolaborasi ekonomi.

 

Langkah ini, meski menjanjikan, memerlukan pengawasan dan implementasi yang serius.

 

Tantangan utama adalah memastikan kerja sama ini benar-benar memberdayakan UMKM lokal dan tidak hanya menguntungkan pihak asing.

 

Pemerintah Indonesia diharapkan dapat mengawal kerja sama ini dengan memastikan aturan TKDN dan kebijakan yang pro-UMKM benar-benar diterapkan.

 

Dengan komitmen yang tepat, kerja sama ini berpotensi besar untuk mengubah wajah UMKM Indonesia, menjadikan mereka pemain penting dalam rantai pasok global yang berbasis teknologi, sekaligus memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan China. (SG-2)