SOKOGURU, JAKARTA- Kehadiran Asian Trade, Tourism, and Economics Council (ATTEC) dapat menjadi platform praktis untuk mempertemukan pelaku usaha, mempermudah arus investasi, serta mempercepat realisasi ekspor, khususnya antara Indonesia dan negara-negara di Asia.
Hal itu disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam keterangan resmi Kementerian Perdagangan (Kemendag), Selasa, 20 Januari 2026.
Menurutnya, komunikasi bisnis antarpelaku usaha dalam aktivitas business-to-business (B2B) sangat penting untuk perdagangan maupun investasi.
Baca juga: Kemendag Gelar Jejaring Bisnis untuk Ekspor, Perkuat Akses Pasar Global ke Enam Negara Mitra
Untuk itu, Mendag Busan mengapresiasi kehadiran ATTEC sebagai forum kolaborasi yang sekaligus memperkuat ekspor Indonesia.
“Komunikasi bisnis antarpelaku usaha sangat mendukung keberhasilan komunikasi antarpemerintah. ATTEC hadir sebagai wadah yang mempermudah pelaku usaha untuk langsung menemukan mitra, baik untuk ekspor maupun investasi,” imbuhnya saat meresmikan Kantor Pusat ATTEC di Jakarta, Senin, 19 Januari 2026.
Ia pun berharap, kantor ATTEC di Jakarta dapat menjadi lokasi strategis untuk penyelenggaraan business matching secara berkelanjutan.
Baca juga: Kemendag Dorong Desa Binaan di Jawa Timur Mendunia, 171 Desa Siap Ekspor
Terkait investasi, Mendag Busan menyampaikan, persepsi terhadap Indonesia selama ini kerap berkutat pada kurangnya pemahaman dan arus komunikasi yang belum optimal.
Padahal, sambungnya, kegiatan usaha dan investasi di Indonesia relatif mudah dilakukan dari segi regulasi.
“Kami harap kehadiran wadah seperti ATTEC dapat menjadi sarana untuk memberikan informasi yang jelas kepada para investor. Selain itu, juga untuk mempermudah pelaku usaha dalam memahami mekanisme investasi di Indonesia,” tambah Mendag Busan.
Sementara itu, Ketua Umum ATTEC, Budihardjo Iduansjah, mengungkapkan, salah satu tantangan utama bagi investor asing selama ini adalah keterbatasan pemahaman terhadap regulasi, bahasa, serta prosedur perizinan di Indonesia.
Untuk menjawab tantangan tersebut, lanjutnya, ATTEC hadir sebagai wadah pendampingan yang menjembatani komunikasi antara pelaku usaha asing, asosiasi, dan pemerintah.
Menurut Budihardjo, melalui ATTEC, pelaku usaha akan difasilitasi dalam proses legalitas dan perizinan agar kegiatan investasi dan perdagangan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Melalui ATTEC, Indonesia akan membawa dan memperjuangkan kepentingan nasional terbaik di kawasan Asia. Indonesia Emas 2045 menjadi momentum strategis sekaligus peluang besar bagi mitra internasional untuk berinvestasi dan berkolaborasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya yang juga sebagai Ketua Umum Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo).
Dalam acara peresmian kantor ATTEC itu hadir pula President ASEAN-Korea Business Centre Moon Ki Bong; Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Hendry Panjaitan; serta Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah Provinsi DKI Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo.
Turut mendampingi Mendag Busan, yaitu Sekretaris Jenderal Isy Karim, Diretur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi, dan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Iqbal S. Shofwan.
Perkuat konektivitas bisnis di kawasan Asia
Di tempat yang sama, Moon Ki-bong menilai, peresmian kantor pusat ATTEC adalah momentum untuk memperkuat konektivitas bisnis di kawasan Asia.
Menurutnya, ATTEC berperan sebagai penghubung efektif antara pelaku usaha Asia dan Indonesia. Keberadaan kantor pusat baru ini akan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di bidang investasi, perdagangan, dan pariwisata antara Indonesia dan negara-negara Asia, termasuk Korea Selatan.
ATTEC merupakan organisasi regional yang berperan sebagai platform kerja sama bisnis lintas negara di kawasan Asia. Organisasi tersebut difokuskan pada fasilitasi kolaborasi antar pelaku usaha, peningkatan perdagangan dan investasi, serta penguatan daya saing ekonomi Asia di tingkat global.
Melalui jaringan strategis yang menghubungkan dunia usaha, investor, dan para pemangku kepentingan lintas sektor, organisasi ini bertujuan untuk membangun ekosistem kemitraan yang berkelanjutan, inklusif, dan saling menguntungkan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan. (SG-1)