SOKOGURU - Adopsi teknologi kecerdasan buatan atau AI di Indonesia kini memasuki fase krusial dengan pertumbuhan yang sangat masif di Asia Tenggara.
Sebagai negara dengan optimisme teknologi yang tinggi, masyarakat Indonesia mulai bergeser dari sekadar penonton menjadi pengguna aktif fitur produktivitas digital.
Kecepatan evolusi ini menciptakan standar baru dalam dunia kerja, di mana pencarian informasi kini jauh lebih instan dibandingkan metode riset konvensional.
Dahulu, proses belajar atau riset memerlukan waktu yang cukup lama karena harus dilakukan secara manual melalui literatur fisik di perpustakaan.
Namun, kini akses informasi menjadi sangat praktis melalui platform berbasis AI yang mampu memberikan data secara akurat dalam hitungan detik.
Fenomena ini mencerminkan betapa cepatnya perubahan lanskap teknologi, terutama dalam setahun terakhir sejak kembalinya kepemimpinan baru di Google Indonesia.
Kecanggihan teknologi ini tidak hanya berhenti pada teks, tetapi telah merambah ke sektor visual dengan kualitas yang jauh lebih mumpuni.
"Yang tadinya video generation itu belum ada, belum bagus sampai sekarang jadi bagus banget," ungkap Country Director Google Indonesia, Veronika Utami dalam wawancara di Youtube Prof Rhenald Kasali berjudul Google Bongkar yang Tidak Dilihat Ekonom: Perilaku Orang Indonesia Sudah Berubah TOTAL #IntrigueRK.
Baca Juga:
Perubahan radikal dalam teknologi video ini memberikan peluang besar bagi industri kreatif di Tanah Air untuk bersaing global.
Indonesia kini tercatat sebagai salah satu pengguna tertinggi di dunia untuk platform inovatif seperti Gemini dan generator gambar Nano Banana.
Antusiasme masyarakat ini dibuktikan dengan lonjakan signifikan pada pendapatan aplikasi yang mengintegrasikan fitur kecerdasan buatan dalam layanannya.
Hal ini menunjukkan bahwa pengguna lokal memiliki kesediaan tinggi untuk membayar demi mendapatkan layanan digital yang premium dan solutif.
Kenaikan pendapatan aplikasi berbasis AI di pasar lokal tercatat menembus angka 127 persen, sebuah indikator kuat adanya monetisasi yang sukses.
Baca Juga:
"Artinya kan orang Indonesia willing untuk membayar untuk mendapatkan servis AI tersebut," kata Veronika Utami.
Fakta tersebut menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan instrumen ekonomi yang mulai menghasilkan nilai komersial nyata.
Meskipun adopsi di sisi konsumen sangat tinggi, tantangan besar justru muncul di sisi pengembangan atau ekosistem startup teknologi lokal.
Saat ini, jumlah startup yang fokus pada pengembangan AI di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura.
Upaya kolektif sangat dibutuhkan untuk mendorong talenta muda Indonesia agar lebih produktif dalam menciptakan solusi teknologi asli dari dalam negeri.
Berdasarkan data terbaru, Indonesia saat ini hanya memiliki sekitar 45 startup AI, jumlah yang cukup kontras jika dibandingkan Singapura.
"Tapi kalau kita lihat Singapura 495. Oh, dan sebagian anak Indonesia juga jangan-jangan di bisa jadi memang tapi mereka buka kantornya di sana," tutur Veronika Utami.
Kondisi ini menjadi alarm bagi pemangku kepentingan untuk segera memperbaiki regulasi dan dukungan ekosistem bagi pengembang lokal.
Kesenjangan ini terasa semakin nyata saat membandingkan posisi Indonesia dengan Malaysia dalam hal kuantitas perusahaan rintisan berbasis teknologi cerdas.
"Oh enggak, kita lebih sedikit. Kita masih kalah dengan Malaysia. Iya. Kita masih kalah," tegas Veronika Utami saat menyoroti perlunya percepatan inovasi.
Oleh karena itu, ajakan bagi generasi muda untuk mulai membangun startup menjadi sangat relevan guna mengejar ketertinggalan regional.
Dari sisi pendanaan, investor kini menerapkan standar yang jauh lebih ketat dengan fokus pada keberlanjutan bisnis dan profitabilitas jangka panjang.
Pola investasi "growth at all cost" sudah ditinggalkan, berganti menjadi seleksi ketat terhadap model bisnis yang memiliki bukti monetisasi kuat.
Di tengah tantangan tersebut, AI sebenarnya hadir sebagai alat bantu yang dapat mempercepat proses kreasi produk teknologi yang efisien. (*)