SOKOGURU - Banyak pengamat cemas daya beli ambruk, padahal realitasnya ekonomi digital Indonesia justru melonjak. Transaksi AI dan tren "Seleping" jadi bukti perilaku pasar geser total.
Guru Besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) dan pendiri Rumah Perubahan, Prof Rhenald Kasali mengungkap fenomena unik saat berbincang dengan bos Google Indonesia di Cafe Breezy. Ia melihat statistik lama tak lagi mampu memotret anomali belanja.
Host YouTube Channel, Prof Rhenald Kasali dalam wawancara dai kanal Youtubenya berjudul Google Bongkar yang Tidak Dilihat Ekonom: Perilaku Orang Indonesia Sudah Berubah TOTAL #IntrigueRK, menyebut ada faktor emosional kuat di balik pola konsumsi baru masyarakat kita saat ini. Hasrat belanja atau willingness to spend kini jauh lebih menentukan dari sekadar daya beli.
"Banyak orang jualan memang terasa makin susah, tapi lihat kenyataannya: penjualan produk non-primer seperti makanan kucing justru melonjak 15% tahun ini," ujar pakar Manajemen dan Strategi Bisnis.
Fenomena hobi dan gaya hidup seperti konten kucing ikonik memicu perputaran uang yang masif. Para pemilik jenama kini harus jeli membidik pasar dari sisi psikologis marketing yang tepat.
Country Director Google Indonesia, Veronika Utami membedah data Southeast Asia e-Conomy Report yang sangat mengejutkan. Laporan resmi ini memproyeksi nilai ekonomi digital kita tembus US$ 100 miliar di 2025.
Baca Juga:
"Ini tumbuh 14% dari tahun ke tahun. Sebuah angka yang luar biasa cepat, bahkan jauh lebih pesat dari yang kita perkirakan 10 tahun lalu," ungkap Veronika.
Video Commerce menjadi primadona baru dengan mencatat lebih dari 2,6 miliar transaksi. Konsumen lokal kini lebih mantap belanja lewat kurasi video para kreator yang mereka percaya.
Sektor gaming dan hiburan pun ikut meledak dengan dominasi unduhan mencapai 40 persen di ASEAN. Dunia digital kita benar-benar sedang berada pada titik didih yang sangat tinggi.
Baca Juga:
Gaya hidup nirkabel kian mapan dengan angka 60 persen warga yang kini lebih nyaman bertransaksi cashless. Kehadiran QRIS sukses mengubah cara kita membayar apa pun di lapangan.
Paling spektakuler adalah lompatan pendapatan aplikasi berbasis kecerdasan buatan atau AI di Indonesia. Angka pertumbuhannya menyentuh 127 persen karena publik mengejar efisiensi kerja.
"Ini artinya orang Indonesia bukan cuma pakai AI buat iseng, mereka willing to pay (bersedia membayar) untuk mendapatkan servis AI yang membantu produktivitas mereka," jelasnya.
Rhenald mengingatkan agar pengusaha segera beradaptasi dengan teori disrupsi jika ingin selamat. AI bukan ancaman, melainkan asisten cerdas yang belajar sangat cepat setiap harinya.
Kunci bertahan di era ini bukan sekadar mengejar pembeli kaya, tapi menciptakan relevansi. Bisnis harus masuk ke ekosistem yang bergerak secepat kilat agar tetap punya daya pikat.
Pilar Utama & Proyeksi Makro 2025
-
Target $100 Miliar: Perekonomian digital Indonesia diproyeksikan mencapai nilai US$ 100 miliar pada tahun 2025 dengan laju pertumbuhan 14% (YoY).
-
Dominasi E-Commerce: Sektor ini tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi sebesar US$ 70 miliar, tumbuh konsisten di angka 14%.
-
Media Online & Gaming: Sektor konten (streaming & game) tumbuh 16%. Indonesia mendominasi ASEAN dengan 40% total unduhan mobile game dan 35% pendapatan regional.
-
Layanan Finansial Digital (DFS): Menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat mencapai 27%, mencakup pembayaran online, pinjaman (lending), hingga investasi.
Pergeseran Perilaku Konsumen & Pembayaran
-
Ledakan Video Commerce: Terjadi 2,6 miliar transaksi melalui konten video (seperti YouTube Shopping) dengan pertumbuhan raksasa sebesar 90%.
-
Revolusi Cashless: Saat ini masyarakat Indonesia sudah 60% menggunakan transaksi non-tunai, sementara penggunaan uang tunai menyusut tinggal 40%.
-
Efek QRIS: Standarisasi QRIS menjadi pendorong utama percepatan adopsi pembayaran digital hingga ke level pedagang kecil dan taksi.
-
Willingness to Spend: Munculnya fenomena ekonomi hobi (contoh: kenaikan 15% penjualan makanan kucing) membuktikan bahwa keinginan belanja masyarakat tetap tinggi pada sektor non-primer yang memiliki kedekatan emosional. (*)