Data Bicara: 90% Kinerja UMKM Ditentukan Cara Berpikir, Bukan Bantuan Pemerintah

Inovasi UMKM Riset terbaru mengungkap 3 faktor krusial penyebab UMKM sulit berkembang. Bukan soal modal, tapi cara berpikir dan strategi yang sering diabaikan.

Author Oleh: Cikal Sundana
08 Januari 2026
<p>Mengapa banyak UMKM gagal naik kelas meski dibantu pemerintah? Studi ini membongkar peran inovasi, risiko, dan orientasi belajar pelaku usaha. Fakta mengejutkan dari riset UMKM Indonesia: strategi bisnis dan pola belajar lebih menentukan kinerja dibanding bantuan dana semata.</p>

Mengapa banyak UMKM gagal naik kelas meski dibantu pemerintah? Studi ini membongkar peran inovasi, risiko, dan orientasi belajar pelaku usaha. Fakta mengejutkan dari riset UMKM Indonesia: strategi bisnis dan pola belajar lebih menentukan kinerja dibanding bantuan dana semata.

PElAKU UMKM di bayak daerah sering diperlakukan seperti tanaman yang dianggap hanya butuh pupuk. 

Setiap masalah—entah omzet turun, daya saing lemah, atau produk sulit menembus pasar—jawabannya nyaris selalu sama: tambah modal, tambah bantuan, tambah subsidi. 

Padahal, seperti tanaman yang salah ditanam di tanah dan iklim yang keliru, modal saja tidak cukup jika cara merawatnya salah.

Sebuah riset terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Innovation in Business and Economics memberi pesan penting: kesuksesan UMKM tidak hanya ditentukan oleh apa yang mereka miliki, tetapi bagaimana mereka berpikir dan belajar. 

Temuan ini relevan bukan hanya bagi pelaku usaha, tetapi juga bagi pembuat kebijakan yang selama ini terjebak pada pendekatan “bagi-bagi alat” tanpa membangun kapasitas berpikir.

Orientasi Kewirausahaan: Mesin, Bukan Aksesori

Penelitian ini membedah apa yang disebut Entrepreneurial Orientation (EO), atau orientasi kewirausahaan. 

EO bukan jargon akademik kosong, melainkan pola sikap yang mencakup tiga hal: inovasi, proaktif, dan berani mengambil risiko.

Agar mudah dipahami, bayangkan UMKM sebagai pengendara motor di jalanan kota. Inovasi adalah kemampuan mengganti rute saat macet. Proaktif adalah kebiasaan melihat lampu lalu lintas dari jauh, bukan ngerem mendadak. 

Sementara keberanian mengambil risiko adalah keputusan menyalip di saat yang tepat—berisiko, tapi bisa membuat sampai lebih cepat.

Riset ini menunjukkan bahwa ketiga sikap tersebut memang penting, tetapi tidak otomatis membuat UMKM sukses. Di sinilah temuan krusialnya: dampak orientasi kewirausahaan baru terasa kuat jika dimediasi oleh orientasi pembelajaran dan strategi bisnis yang jelas.

Orientasi Belajar: Aset Tak Kasat Mata yang Sering Diabaikan

Orientasi pembelajaran (learning orientation) adalah nilai dan kebiasaan organisasi dalam mencari, menyerap, dan menggunakan pengetahuan. 

Ini mencakup kesediaan mengevaluasi kegagalan, memperbarui cara kerja, dan membuang praktik lama yang sudah tidak relevan.

Dalam bahasa sederhana, orientasi belajar adalah kesadaran bahwa “cara lama belum tentu cocok untuk masalah baru.” Banyak UMKM sebenarnya rajin bekerja, tetapi jarang belajar. Mereka mengulang pola yang sama sambil berharap hasilnya berubah.

Riset ini membuktikan bahwa orientasi belajar memiliki pengaruh paling kuat terhadap kinerja UMKM, bahkan lebih besar dibanding strategi bisnis. Artinya, UMKM yang mau belajar cenderung lebih adaptif, inovatif, dan tahan krisis.

Dampak sosialnya besar. UMKM dengan budaya belajar yang baik bukan hanya bertahan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja yang lebih stabil. Mereka tidak mudah tumbang saat terjadi krisis, seperti pandemi atau perubahan tren digital. Dalam jangka panjang, ini berkontribusi pada ketahanan ekonomi lokal.

Strategi Bisnis: Jembatan antara Ide dan Dampak

Strategi bisnis dalam penelitian ini dipahami sebagai rencana jangka panjang untuk memanfaatkan sumber daya secara optimal. Strategi bukan sekadar target omzet, tetapi pilihan sadar: mau bersaing lewat harga, kualitas, diferensiasi, atau inovasi.

Temuan pentingnya, strategi bisnis efektif ketika digerakkan oleh inovasi dan keberanian mengambil risiko, tetapi tidak selalu berhasil jika hanya mengandalkan sikap proaktif. Ini menarik, karena selama ini proaktif sering dianggap kunci utama.

Baca Juga:

Artinya, aktif memantau pasar saja tidak cukup jika tidak diikuti kemampuan belajar dan perencanaan matang. Banyak UMKM rajin ikut tren—jualan kopi kekinian, dessert box, atau frozen food—namun tanpa pemahaman mendalam, strategi mereka rapuh dan mudah ditinggalkan pasar.

Bagi pembuat kebijakan, ini sinyal penting: pelatihan UMKM tidak boleh berhenti pada “cara membaca peluang”, tetapi harus masuk ke bagaimana mengubah peluang menjadi strategi yang berkelanjutan.

Risiko: Bukan Nekat, Tapi Terukur

Salah satu temuan paling konsisten dalam riset ini adalah peran keberanian mengambil risiko. Risiko di sini bukan nekat, melainkan keputusan sadar untuk memilih ketidakpastian demi peluang lebih besar.

Analogi sederhananya seperti menabung versus investasi. Menyimpan uang di tabungan aman, tapi nilainya tergerus inflasi. Investasi berisiko, tapi membuka peluang tumbuh. UMKM yang terlalu takut risiko cenderung stagnan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa keberanian mengambil risiko berdampak positif pada kinerja UMKM, terutama jika didukung orientasi belajar dan strategi bisnis. Ini penting dalam konteks Indonesia, di mana banyak UMKM enggan berubah karena trauma kegagalan atau minimnya literasi bisnis.

Implikasi kebijakannya jelas: negara perlu menciptakan ekosistem yang membuat risiko menjadi terkelola, bukan dihindari. Misalnya lewat pendampingan, inkubasi bisnis, atau perlindungan hukum yang jelas.

Menggeser Paradigma Kebijakan UMKM

Selama ini, banyak program UMKM berfokus pada output jangka pendek: jumlah peserta, jumlah dana tersalurkan, atau jumlah sertifikat pelatihan. Riset ini menantang pendekatan tersebut.

Jika orientasi belajar adalah kunci, maka kebijakan UMKM seharusnya:

Mendorong budaya refleksi dan evaluasi, bukan hanya produksi.

Mengintegrasikan pembelajaran berkelanjutan, bukan pelatihan satu kali.

Menyambungkan UMKM dengan jejaring pengetahuan, termasuk kolaborasi eksternal dan teknologi.

Pendekatan ini mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi dampaknya lebih dalam dan berjangka panjang. UMKM tidak lagi sekadar “bertahan hidup”, melainkan naik kelas secara struktural.

Dampak Sosial yang Lebih Luas

Ketika UMKM belajar, dampaknya tidak berhenti di laporan keuangan. Ada efek sosial yang menyebar: peningkatan kualitas kerja, pengambilan keputusan yang lebih rasional, hingga berkurangnya ketergantungan pada bantuan.

UMKM yang adaptif juga lebih siap menghadapi digitalisasi dan krisis global. Dalam konteks masyarakat, ini berarti ekonomi lokal yang lebih tangguh, distribusi pendapatan yang lebih merata, dan penguatan kelas menengah produktif.

Penelitian ini secara implisit mengingatkan kita bahwa pembangunan ekonomi bukan hanya soal uang, tetapi soal cara berpikir kolektif.

Belajar sebagai Kebijakan Publik

Riset ini memberi pesan sederhana namun kuat: UMKM yang sukses bukan yang paling besar modalnya, tetapi yang paling cepat belajar. Inovasi, proaktif, dan berani risiko memang penting, tetapi tanpa orientasi belajar dan strategi yang tepat, semua itu mudah kehilangan arah.

Bagi pelaku UMKM, ini ajakan untuk berhenti mengandalkan intuisi semata dan mulai membangun kebiasaan belajar. Bagi pemerintah, ini saatnya menggeser fokus dari bantuan instan menuju pembangunan kapasitas berpikir.

Karena pada akhirnya, ekonomi yang kuat tidak dibangun oleh bantuan yang besar, melainkan oleh pelaku usaha yang terus belajar dan berani bertumbuh. (*)