SOKOGURU - Jangan Nekat! Buka Usaha Pakai Dana KUR Ternyata Riskan, Simak Penjelasan Pelaku UMKM Ini Agar Tak Rugi
Banyak orang tergiur membuka usaha pertama kali dengan modal pinjaman, salah satunya lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR). Namun, benarkah langkah ini aman bagi pemula?
Baru-baru ini, akun Instagram @pantauusaha membagikan pandangan menarik soal risiko besar bagi mereka yang nekat memulai bisnis dari nol menggunakan dana pinjaman bank tersebut.
Sebuah pertanyaan muncul dari netizen yang berniat meminjam nama usaha temannya agar dana KUR miliknya bisa cair untuk modal awal.
Menanggapi hal itu, praktisi UMKM ini memberikan peringatan keras.
"Oke ini POV-ku pribadi ya, ini pendapat aku pribadi selaku pelaku UMkm juga tidak direkomendasikan buat kalian yang baru mau buka usaha pakai dan akur, kenapa?" ujarnya dalam unggahan tersebut.
Menurutnya, memaksakan diri mengambil cicilan di awal bisnis sangat berisiko karena beban kredit harus dibayar saat produk belum tentu laku di pasaran.
"Karena riskan sekali nanti di ujungnya kita hanya akan menanggung beban kreditnya aja, produk belum jalan, terus kita belum bisa ukur nih omset rata-rata per bulan masuk itu berapa," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa seorang pengusaha belum tahu pasti kapan produknya akan diterima masyarakat, apakah di bulan pertama atau justru tahun depan.
"Di awal-awal bulan itu yang kosong itu penjualannya yang minim penjualan itu kita sudah harus bayar kredit kur kita nah itu kan beban buat kita UMkm," tambahnya lagi.
Lantas, kapan waktu yang tepat bagi pelaku UMKM untuk mengajukan KUR? Jawabannya adalah saat bisnis sudah berjalan stabil dan punya omzet yang jelas.
Pemerintah menyediakan fasilitas ini sebenarnya untuk memperbesar skala bisnis (scale up), seperti menambah stok barang, membeli alat produksi, hingga menambah outlet baru.
"Aasalkan produknya sudah laku, kita udah tahu sudah bisa ukur nih omset rata-rata kita berapa, laba bersih kita berapa per bulan, baru sehat kita pakai cour," tegas narasi di akun @pantauusaha.
Baca Juga:
Ada rumus penting yang ia bagikan: pastikan cicilan per bulan tidak boleh melebihi 30 persen dari laba bersih agar kondisi keuangan tetap sehat.
"Dan satu lagi yang sangat penting adalah cicilannya tidak boleh lebih dari 30% dari laba bersih kita per bulan, ini untuk eh v atau pendapat aku pribadi ya," tulisnya.
Ia pun menyarankan agar calon pengusaha memulai bisnis dari kecil-kecilan terlebih dahulu dengan modal seadanya, fokus pada kualitas produk agar dikenal luas.
Hal yang paling dilarang adalah meminjam KUR memakai nama usaha orang lain, apalagi jika dananya digunakan untuk kebutuhan konsumtif seperti membeli HP atau motor.
"Satu lagi yang paling haram ya minjam kur pakai usaha teman tapi buat beli handphone beli buat motor terus buat renovasi dapur nah itu sangat haram itu tag teman kalian," pesannya.
Sebagai kesimpulan, KUR adalah alat untuk mengembangkan usaha yang sudah ada, bukan untuk memulai apalagi menyelamatkan usaha yang sedang sekarat atau tidak sehat.
"Yang perlu diingat adalah kur itu bukan untuk memulai usaha, apalagi untuk menyelamatkan usaha, usaha yang belum sehat dikasih hutang biasanya enggak makin kuat tapi makin berat?" pungkasnya. (*)