SOKOGURU - Tren permintaan produk hewan di kancang internasional terus meroket, membuka pintu lebar pagi pelaku usaha peternakan di Indonesia.
Peluang ini tidak lagi hanya didominasi oleh koperasi besar, peternak skala kecil dan UMKM kini memiliki kesempatan yang sama untuk memasarkan produknya ke luar negeri.
Sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru, didukung oleh kekayaan biodiversitas dan sumber daya alam yang melimpah, komoditas ternak lokal memiliki daya saing yang kuat.
Dengan penerapan standarisasi internasional, dan konsistensi kualitas, menembus pasar global bukan lagi hal mustahil.
Berikut ide usaha ternak dengan prospek ekspor menjanjikan sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber;
1. Budidaya Sarang Burung Walet
Sarang burung walet tetap menjadi "emas putih" di dunia ekspor, dengan permintaan utama berasal dari Tiongkok dan Hong Kong. Indonesia memegang peranan vital dalam industri ini.
Berdasarkan laporan Kementerian Pertanian RI bertajuk Analisis Kinerja Perdagangan Sarang Burung Walet Semester II Tahun 2025, "Angka ekspor sarang burung walet dari Indonesia menyentuh angka 80 persen dari total produksi dunia."
Dominasi ini jauh melampaui negara pesaing seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia yang hanya berbagi porsi 20 persen sisanya.
2. Ayam Broiler dan Produk Turunannya
Daging ayam adalah sumber protein paling universal. Peluang ekspor kini tidak terbatas pada ayam hidup, melainkan merambah ke produk olahan seperti nugget, sosis, dan karkas beku.
Pasar di Asia dan Timur Tengah sangat potensial, terutama bagi produk yang telah mengantongi sertifikasi halal dan standar higienitas modern.
Baca Juga:
3. Sektor Kambing dan Domba
Kambing dan domba, khususnya jenis Etawa, menawarkan keuntungan ganda melalui produksi susu premium dan daging berkualitas tinggi.
Pemerintah Indonesia bahkan telah memangkas regulasi yang menghambat untuk mempermudah peternak melakukan ekspansi ke luar negeri.
Agung Suganda, mewakili Balai Veteriner Subang Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), menyatakan bahwa pemerintah terus mengupayakan pengembangan klaster peternakan guna "mendukung potensi ekspor kambing dan domba hingga ke Brunei."
4. Komoditas Udang dan Perikanan Budidaya
Udang tetap menjadi primadona ekspor perikanan. Berbagai jenis seperti vaname, windu, hingga lobster air tawar memiliki basis penggemar yang kuat di Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan RI mencatat bahwa udang menyumbang nilai ekspor sebesar USD 1.397,23 juta pada periode Januari-September 2025.
Amerika Serikat tercatat sebagai mitra utama dengan menyerap 63,1% dari total volume ekspor udang nasional.
5. Peternakan Lebah Madu
Madu organik, propolis, dan royal jelly kini menjadi incaran pasar kesehatan global. Usaha ini sangat cocok bagi UMKM karena tidak memerlukan lahan yang sangat luas.
Kunci sukses ekspor madu terletak pada kemurnian produk dan pengemasan yang memenuhi standar mutu internasional.
6. Budidaya Burung Puyuh
Burung puyuh menawarkan siklus perputaran uang yang cepat. Selain telur dan dagingnya, kotoran puyuh pun bernilai sebagai pupuk organik.
Saat ini, terdapat permintaan yang sangat tinggi untuk telur puyuh dari wilayah Timur Tengah, termasuk Arab Saudi.
Kementerian Pertanian sendiri telah memasukkan burung puyuh dalam peta jalan strategi perluasan subsektor unggas lokal.
7. Bebek Petelur dan Pedaging
Indonesia merupakan salah satu produsen telur bebek terbesar di dunia dengan kapasitas mencapai 13 miliar butir per tahun.
Produk telur asin Indonesia bahkan sudah rutin dikirim ke Singapura sebanyak 100 ribu butir. Selain Singapura, negara tujuan potensial lainnya mencakup Brunei Darussalam, Hong Kong, hingga Korea Selatan.
Strategi Menghadapi Tantangan Pasar Global
Untuk sukses di pasar ekspor, peternak harus siap menghadapi tantangan seperti fluktuasi harga dan ketatnya standar keamanan pangan internasional.
Beberapa langkah strategis yang bisa diambil meliputi:
- Mendapatkan sertifikasi resmi (Halal, HACCP, atau standar ISO).
- Membangun kemitraan dengan eksportir yang sudah memiliki jaringan luas.
- Konsistensi dalam menjaga volume produksi agar pasokan tetap stabil.
- Pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran lintas negara. (*)