Kapan Idul Fitri 2026? Ini Prediksi Hilal Syawal 1447 H Berdasarkan Data Hisab dan Rukyat dari BMKG

BMKG rilis data hilal Syawal 1447 H berdasarkan hisab dan rukyat di 37 lokasi. Simak parameter astronomis lengkap untuk penentuan awal Idul Fitri di sini!

Author Oleh: Pipin Lukmanul Hakim
10 Maret 2026
<p>Ilustrasi hilal. Simak prediksi hilal Syawal 1447 H berdasarkan data hisab dan rukyat dari BMKG. Foto: BMKG.</p>

Ilustrasi hilal. Simak prediksi hilal Syawal 1447 H berdasarkan data hisab dan rukyat dari BMKG. Foto: BMKG.

SOKOGURU - Sistem penanggalan Qamariyah atau Hijriyah memegang peranan vital dalam kehidupan umat Islam, terutama untuk menentukan waktu ibadah wajib.

Kalender ini disusun berdasarkan siklus presisi peredaran Bulan mengelilingi Bumi, serta pergerakan keduanya mengitari Matahari.

Mengingat pentingnya penetapan bulan-bulan besar, seperti Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah, akurasi data astronomi menjadi kunci utama.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara konstitusional menyajikan data tanda waktu serta posisi benda langit secara akurat.

Data yang dihasilkan BMKG dapat dijadikan sebagai referensi ilmiah bagi para pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Agama (Kemenag) RI, dalam sidang isbat penentuan awal bulan Hijriah.

Tak hanya mengandalkan metode hisab (perhitungan matematis), BMKG juga terjun langsung ke lapangan untuk melakukan Rukyat (observasi).

BMKG melaksanakan rukyat (observasi) hilal di 37 lokasi di Indonesia, yang dapat disaksikan secara online (live streaming) di kanal https://hilal.bmkg.go.id/ setiap bulan.

Parameter Ilmiah Penentu Awal Syawal 1447 H

Untuk menyongsong fajar Syawal 1447 H, BMKG telah memetakan data komprehensif saat Matahari terbenam sebagai panduan bagi para perukyat di seluruh penjuru negeri.

Informasi ini dirancang untuk meminimalisir kesalahan identifikasi di lapangan. Adapun rincian data astronomis yang disajikan, meliputi:

1.  Konjungsi (Ijtima’) & Waktu Terbenam Matahari

Konjungsi geosentrik atau konjungsi atau ijtima’ adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi. Peristiwa ini akan kembali terjadi pada:

UT: Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 01.23.23

WIB: Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 08.23.23

WITA: Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 09.23.23

WIT: Kamis, 19 Maret 2026 M, pukul 10.23.23

Yaitu saat nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama 358,45°. Periode sinodis Bulan terhitung sejak konjungsi sebelumnya (awal Bulan Ramadan 1447 H) hingga konjungsi yang akan datang (awal Bulan Syawal 1447 H) adalah 29 hari 13 jam 22 menit.

Kondisi Matahari Terbenam

Waktu terbenam Matahari dinyatakan ketika bagian atas piringan Matahari tepat di horizon teramati. Di wilayah Indonesia pada tanggal 19 Maret 2026:

Paling Awal: Pukul 17.48.13 WIT di Waris, Papua.

Paling Akhir: Pukul 18.49.39 WIB di Banda Aceh, Aceh.

Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam tanggal 19 Maret 2026 di seluruh wilayah Indonesia.

Kesimpulan Penentuan Awal Bulan

Berdasarkan hal-hal di atas, secara astronomis:

Metode Rukyat: Pelaksanaan rukyat Hilal penentu awal bulan Syawal 1447 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya adalah setelah Matahari terbenam pada tanggal 19 Maret 2026.

Metode Hisab: Bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Syawal 1447 H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 19 Maret 2026 tersebut.

2. Peta Ketinggian Hilal

Peta ketinggian Hilal untuk pengamat di 60° LU sampai dengan 60° LS saat Matahari terbenam di masing-masing lokasi pengamat di permukaan Bumi pada tanggal 19 Maret 2026.

Pada peta tersebut, tinggi Hilal adalah besar sudut yang dinyatakan dari posisi proyeksi Bulan di horizon-teramati hingga ke posisi pusat piringan Bulan berada.

Tinggi Hilal positif: Berarti Hilal berada di atas horizon pada saat Matahari terbenam.

Tinggi Hilal negatif: Berarti Hilal berada di bawah horizon pada saat Matahari terbenam.

Pada peta ketinggian Hilal saat Matahari terbenam untuk pengamat di Indonesia pada tanggal 19 Maret 2026.

Ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026 berkisar antara 0,91° di Merauke, Papua sampai dengan 3,13° di Sabang, Aceh.

3. Peta Elongasi

Peta elongasi geosentris untuk pengamat di 60° LU sampai dengan 60° LS saat Matahari terbenam di masing-masing lokasi pengamat di permukaan Bumi tanggal 19 Maret 2026.

Pada peta tersebut, elongasi adalah jarak sudut antara pusat piringan Bulan dan pusat piringan Matahari yang diamati oleh pengamat di permukaan Bumi.

Pada peta tersebut ditampilkan pula elongasi geosentris untuk pengamat di Indonesia.

Peta elongasi geosentris tanggal 19 Maret 2026 untuk pengamat antara 60° LU sampai dengan 60° LS.

Peta elongasi geosentris tanggal 19 Maret 2026 untuk pengamat di Indonesia.

Elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026 berkisar antara 4,54° di Waris, Papua sampai dengan 6,1° di Banda Aceh, Aceh.

4. Umur Bulan

Umur bulan untuk pengamat di antara 60° LU sampai dengan 60° LS saat Matahari terbenam di masing-masing lokasi pengamat di permukaan Bumi pada tanggal 19 Maret 2026.

Pada peta tersebut, umur bulan adalah selisih waktu terbenam Matahari dengan waktu terjadinya konjungsi. Pada peta tersebut ditampilkan juga umur bulan untuk pengamat di Indonesia.

Umur Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 19 Maret 2026, berkisar antara: 7.41 jam di Waris, Papua sampai dengan 10.44 jam di Banda Aceh, Aceh.

Akses Terbuka untuk Masyarakat

Masyarakat Indonesia dapat memantau langsung prosesi penting ini secara transparan. Data hilal untuk berbagai kota di Indonesia telah disediakan guna memastikan proses menuju Idul Fitri berjalan selaras antara perhitungan ilmiah dan fakta lapangan.

Langkah ini diambil BMKG sebagai bentuk keterbukaan informasi publik sekaligus edukasi astronomi bagi masyarakat luas dalam memahami dinamika pergerakan benda langit yang menentukan waktu-waktu sakral ibadah. (*)