SOKOGURU - Babak Baru Ketegangan Iran: Rudal Terberat Siap Meluncur, RI Ikut Pantau?
Situasi di Timur Tengah makin panas setelah Iran tegas menutup pintu damai bagi Amerika Serikat dan Israel.
Konflik ini bukan sekadar urusan jauh di sana, karena dampaknya bisa merembet ke stabilitas ekonomi hingga harga energi di Indonesia.
Agresi militer yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran baru-baru ini memicu gelombang kemarahan besar.
Kini, dunia menanti apakah ketegangan ini akan memicu guncangan suplai minyak yang bakal membebani kantong masyarakat kita di tanah air.
Pemerintah Indonesia sendiri terus waspada, mengingat posisi kita sebagai negara pengimpor minyak bersih.
Jika eskalasi terus meningkat, tekanan terhadap APBN akibat subsidi energi yang membengkak bisa menjadi tantangan nyata bagi pemerintahan Prabowo.
Selain urusan bbm, geopolitik ini juga menguji posisi diplomasi bebas aktif Indonesia.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, sikap Indonesia di forum internasional sangat dinanti dalam merespons hancurnya upaya negosiasi di meja hijau.
Kemarahan Teheran memuncak setelah serangan udara pada Sabtu (28/2/2026) lalu menghantam jantung ibu kota.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan mereka tak sudi lagi kembali ke meja perundingan dengan pihak yang dianggap pengkhianat.
"Agresi seperti yang kita saksikan sekarang dan seperti yang kita saksikan pada bulan Juni tidak akan terjadi lagi," kata Kazem, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (10/3/2026).
Kerahkan Unit Rudal Terberat
Menurut Kazem, jaminan keamanan mutlak menjadi harga mati jika dunia ingin melihat Iran melunak.
Tanpa itu, komentar-komentarnya menunjukkan bahwa Iran lebih memilih menyelesaikan urusan di medan tempur daripada di ruang rapat.
"Jadi, ini adalah syarat utama bagi Iran, dan komentarnya tidak menunjukkan kesediaan Iran untuk kembali ke meja perundingan," tambahnya.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pun mulai tancap gas dengan meluncurkan Operasi Promise 4 yang kini memasuki gelombang ke-33.
Mereka mengancam akan mengerahkan unit rudal terberat dengan bobot satu ton lebih untuk menghantam aset lawan.
Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini menyatakan pasukannya sudah sangat siap untuk melakoni "perang panjang".
Ia mengklaim Iran menyimpan senjata rahasia canggih yang selama ini belum pernah dikeluarkan dari gudang persenjataan mereka.
"Inisiatif dan senjata baru Iran sedang dalam perjalanan. Teknologi-teknologi ini belum diterapkan secara luas," katanya, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (6/3/2026).
Sentimen serupa juga menggema hingga ke Jakarta melalui pernyataan Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi.
Ia memastikan bahwa negaranya sudah kehilangan kepercayaan total terhadap janji-janji manis pihak Barat.
“Kali ini Iran akan membereskan pihak musuh di lapangan perang,” kata Boroujerdi dalam acara doa bersama di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026), dikutip dari Kompas TV.
Boroujerdi membeberkan alasan di balik sikap keras kepala Iran ini. Rupanya, mereka merasa dikhianati karena tetap diserang meski sebelumnya sudah mencoba menempuh jalur diplomasi sebanyak tiga kali.
“Iran sudah tiga kali melakukan negosiasi dan hasilnya iran tetap diserang,” ucap Boroujerdi.
Di sisi lain, Donald Trump justru mengisyaratkan bahwa keputusan untuk menyudahi perang ini ada di tangannya dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Keduanya terus berkoordinasi erat mengenai langkah militer selanjutnya.
“Saya pikir itu keputusan bersama… sedikit banyak. Kami sudah berbicara. Saya akan membuat keputusan pada waktu yang tepat, tetapi semuanya akan dipertimbangkan,” kata Trump pada Minggu (8/3/2026).
Sikap keras kedua belah pihak ini membuat prediksi awal Gedung Putih bahwa konflik hanya berlangsung singkat mulai diragukan banyak pihak. Dunia, termasuk Indonesia, kini hanya bisa bersiap menghadapi dampak panjang dari "perang suci" ini.
Perang Iran vs AS Mulai Terasa ke Harga Sembako dan BBM RI
Konflik panas antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel ternyata bukan cuma soal adu rudal di Timur Tengah, tapi juga adu nasib ekonomi kita. Kalau tensi di sana nggak turun-turun, siap-siap saja biaya impor energi sampai harga pangan di dapur bisa ikutan melonjak drastis.
Ketua Umum APINDO, Shinta Widjaja Kamdani, memperingatkan bahwa ancaman nyata ada pada jalur perdagangan dunia di Selat Hormuz. Jalur ini ibarat "urat nadi" karena 20% pasokan minyak dunia lewat sana, sehingga gangguan sekecil apa pun bakal bikin pusing tujuh keliling.
"Kekhawatiran pelaku usaha saat ini adalah meningkatnya risk premium harga minyak dan gas, serta kenaikan biaya logistik internasional. Bahkan tanpa penutupan jalur secara fisik, ketidakpastian saja sudah dapat mendorong lonjakan harga energi dan biaya logistik global," ujar Shinta kepada detikcom, Senin (9/3/2026).
Efek domino ini jelas membahayakan HPP (Harga Pokok Penjualan) bahan baku industri di dalam negeri yang masih bergantung pada impor. Kalau harga energi global terus naik di atas asumsi APBN, ruang gerak fiskal pemerintah bakal makin sempit dan megap-megap.
Bukan cuma urusan bensin, Shinta juga menyoroti risiko inflasi pangan yang bakal menyasar masyarakat luas. Ongkos distribusi dan logistik yang mahal otomatis bakal bikin harga bahan pokok di pasar ikutan naik, apalagi kalau nilai tukar rupiah ikut melemah.
"Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat mempercepat kenaikan harga bahan pokok, terutama jika dibarengi gangguan pasokan global atau pelemahan nilai tukar. Oleh karena itu, stabilitas pasokan dan distribusi pangan menjadi aspek krusial yang perlu dijaga jika dampak konflik meluas dan berkepanjangan," imbuh Shinta.
Jika harga energi terus "digoreng" oleh keadaan perang, beban subsidi negara bakal membengkak parah. APINDO menyarankan pemerintah untuk ekstra hati-hati mengelola utang dan memastikan belanja negara tetap sasaran agar pasar tetap percaya pada kita.
Sektor industri padat karya disebut sebagai yang paling rentan terkena hantaman badai ekonomi ini. Dengan margin keuntungan yang sudah tipis, mereka harus berjuang menghadapi kenaikan biaya bahan baku impor sekaligus gangguan pada permintaan ekspor global.
Melihat situasi yang serba nggak pasti, para pengusaha sekarang lebih memilih strategi wait and see sambil melakukan mitigasi. Mulai dari efisiensi biaya produksi, cari sumber pasokan baru, sampai lebih disiplin mengelola risiko nilai tukar valas.
Meski hubungan dagang langsung kita ke Iran atau Israel itu kecil, tapi efek gak langsungnya itu yang ngeri. Perubahan sentimen pasar keuangan global bisa bikin investor lari, dan ujung-ujungnya ekonomi nasional kita yang kena getahnya.
Gak cuma urusan pabrik, sektor pariwisata juga mulai ketar-ketir karena masalah geopolitik ini. Ada risiko pembatalan penerbangan internasional hingga fluktuasi nilai tukar yang bikin turis mikir dua kali buat jalan-jalan jauh.
"Dari sektor pariwisata sendiri apapun yang terjadi sampai hari ini volatilitas di harga energi, nilai tukar dan lain sebagainya sudah pasti itu impact. Kita semua sama-sama paham," ujar Direktur Komersial InJourney, Veronica H Sisilia, Senin (9/3/2026).
Tapi tenang, Veronica optimis kalau wisata domestik kita masih punya taji yang kuat buat bertahan. Belajar dari data akhir tahun lalu, minat orang buat liburan di dalam negeri masih tinggi banget, jadi kita gak cuma bergantung sama turis asing.
"Sudah pasti penerbangan ada cancellation dan lain sebagainya. Itu pasti impact, nggak mungkin nggak impact. Tapi kami believe di sektor industri pariwisata cukup kuat wisata domestiknya created ke apapun yang InJourney siapkan," imbuh Veronica.
Sekarang bola panas ada di tangan pemerintah untuk menjaga stabilitas harga energi dan pangan agar tetap terukur. Perlu kerja sama solid antara kebijakan moneter dan fiskal supaya ekonomi kita gak ikut "meledak" gara-gara konflik di seberang sana. (*)