SOKOGURU, JAKARTA- Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-14 Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dijadwalkan berlangsung di Kamerun, pada 26-29 Maret 2026.
Indonesia menegaskan KTM ke-14 perlu dimanfaatkan sebagai momentum untuk menghidupkan kembali perundingan pertanian WTO yang beberapa tahun terakhir stagnan.
Hal itu disampaikan Menteri Perdagangan RI Budi Santoso (Mendag Busan) saat memimpin Pertemuan Menteri G-33 yang diselenggarakan secara virtual pada Senin, 9 Maret 2026.
Dalam pertemuan itu, Indonesia membahas penguatan konsolidasi reformasi pertanian untuk diangkat di KTM-WTO.
“Indonesia selaku koordinator G-33 mengimbau agar reformasi pertanian WTO tetap berorientasi pada pembangunan. Beberapa aspek seperti ketahanan pangan, kesejahteraan petani kecil, dan agenda pembangunan nasional harus menjadi bagian utama dari arah reformasi tersebut,” katanya pascapertemuan dalam keterangan resmi Kementerian Perdagangan (Kemendag), Selasa, 10 Maret.
Pertemuan Menteri G-33 kali ini mengusung tema G-33 Priorities and Collective Action toward MC- 14 for Advancing Inclusive WTO Agricultural Negotiation.
Baca juga: RI Pertegas Dukungan Kuat bagi Reformasi WTO dan Perdagangan Inklusif di Penutupan G20 TIMM 2025
Pertemuan yang merupakan bagian dari tradisi konsolidasi rutin menjelang KTM WTO itu, sambung Busan, bertujuan untuk menjaga kesatuan posisi dan memperkuat daya tawar negara-negara berkembang. Dengan 47 anggota, G-33 memiliki peran strategis dalam membentuk arah reformasi pertanian global.
Lebih lanjut, ia menyebut, salah satu agenda utama pertemuan adalah penyelarasan Pernyataan Bersama (Joint Ministerial Statement) G-33 yang akan disampaikan pada KTM ke-14 WTO.
Dalam pernyataan bersama tersebut, para Menteri G-33 menegaskan kembali komitmen untuk memperkuat sistem perdagangan multilateral yang berbasis aturan, adil, inklusif, dan transparan dengan WTO sebagai fondasinya.
Baca juga: Mendag Busan Tekankan Pentingnya Reformasi WTO yang Inklusif dan Berorientasi Anggota
“Kami menyampaikan keprihatinan atas terbatasnya kemajuan dalam perundingan di bidang pertanian. Indonesia akan terus mendorong pendekatan yang tegas namun konstruktif agar kepentingan negara berkembang, termasuk isu Public Stockholding for Food Security Purposes (PSH) untuk menjamin ketahanan pangan, Special Safeguard Mechanism (SSM) sebagai instrumen untuk mengatasi lonjakan impor, serta Special and Differential Treatment (S&DT) tetap menjadi bagian dari agenda reformasi pertanian WTO,” imbuh Busan.
Menurutnya, Indonesia bersama negara-negara anggota G-33 akan terus memperkuat koordinasi untuk memastikan isu-isu prioritas negara berkembang tetap mendapat perhatian dalam agenda reformasi pertanian WTO menjelang KTM ke-14.
“Indonesia mengajak seluruh anggota G-33 untuk terus memperkuat koordinasi dan solidaritas menjelang KTM ke-14 WTO. Kepemimpinan aktif Indonesia dalam forum ini menegaskan komitmen nasional untuk memperjuangkan sistem perdagangan multilateral yang lebih inklusif, responsif, dan berpihak pada kepentingan pembangunan, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan petani kecil,” pungkas Mendag Busan.
Kemajuan konkret di bidang pertanian
Sementara itu, Direktur Jenderal WTO, Ngozi Okonjo-Iweala dan para Menteri G-33 menyampaikan apresiasi kepada Indonesia yang telah menyelenggarakan pertemuan, utamanya untuk identifikasi prioritas kelompok dan cara untuk mendorong perundingan pertanian kembali bergulir.
Dalam pertemuan tersebut, para Menteri G-33 juga sepakat untuk menghasilkan kemajuan konkret di bidang pertanian untuk menjaga kredibilitas WTO dan membangun kembali kepercayaan antaranggota.
Menurut Ngozi Okonjo-Iweala, para Menteri G-33 memiliki pandangan yang sama bahwa G-33 memegang peranan penting sebagai kesatuan suara untuk memperjuangkan kepentingan negara berkembang di WTO.
Selain itu, lanjutnya, para Menteri G-33 juga menekankan pentingnya isu ketahanan pangan di masa saat ini sehingga perundingan pertanian dan KTM ke-14 harus merefleksikan isu tersebut dalam hasilnya.
Dalam situasi global yang tidak menentu, katanya, isu ketahanan pangan menjadi salah satu hal fundamental, utamanya bagi negara berkembang. “Untuk itu, kelompok G-33, sebagai suara negara berkembang memerankan peranan penting untuk mendorong isu tersebut dibahas dalam KTM ke- 14 dan perundingan pertanian mendatang. Saya mengapresiasi dan mendukung adanya pertemuan G-33 hari ini untuk kesuksesan KTM ke-14,” tutupnya. (SG-1)