SOKOGURU, SEMARANG- Pengusaha madu nasional didorong turut berperan dalam mendukung sekaligus masuk rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pasalnya, madu kaya manfaat, mengandung bioaktif yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh, memperkuat konsentrasi belajar, dan mempercepat pemulihan kesehatan.
Sebab itu, madu layak menjadi bagian penting dalam membangun generasi sehat menuju Indonesia Emas.
Demikian disampaikan Menteri UMKM Maman Abdurrahman dalam sambutannya secara daring pada acara Konsultasi Pemanfaatan Teknologi dalam Rangka Mendukung Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di Semarang, beberapa waktu lalu.
Baca juga: Perluas Lapangan Kerja dan Tingkatkan Daya Saing, Kementerian UMKM Dorong Hilirisasi Nilam
“Penting menjadikan madu sebagai ,alternatif bahan pangan bergizi dalam menu Program MBG. Program MBG tidak hanya bertujuan memastikan asupan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga membuka peluang besar bagi penguatan ekonomi rakyat melalui keterlibatan UMKM penghasil madu dalam rantai pasok nasional,” ujarnya, seperti dikutip keterangan resmi kementerian UMKM.
“Melalui forum ini, kita bersama mendorong madu menjadi bagian dari Program MBG sebagai wujud nyata keterlibatan UMKM dalam program prioritas Presiden,” imbuh Maman.
Menteri Maman menambahkan, pihaknya optimistis dengan hilirisasi yang didukung inovasi dan kolaborasi lintas sektor, madu lokal dapat menjadi produk unggulan yang berdaya saing tinggi, berkontribusi langsung pada program nasional MBG, serta membuka peluang ekspor di pasar global.
Baca juga: Kementerian UMKM: Hilirisasi UMKM tak Lagi Manual, Tekankan Pemanfaatan Teknologi Digital
“Inovasi dan kolaborasi akan menjadi kunci agar madu Indonesia tidak hanya menjadi konsumsi domestik, tetapi juga dikenal di pasar dunia,” ujarnya.
Nilai tambah ekonomi
Sejalan dengan hal itu, Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, menuturkan, madu memiliki potensi besar untuk menjadi komponen penting dalam menu MBG berkat kandungan nutrisinya yang kaya energi, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif.
Baca juga: Kementerian UMKM Terus Mendorong Lebih Banyak UMKM Terlibat dalam Program MBG
“Pengintegrasian madu dalam Program MBG tidak hanya memperkaya kualitas gizi, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi melalui pemanfaatan produk lokal yang berkelanjutan,” kata Temmy.
Namun, ia mengingatkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan dan produksi madu nasional.
Berdasarkan data Kementerian UMKM, kebutuhan madu di Indonesia mencapai sekitar 7.500 ton per tahun, dengan asumsi konsumsi per kapita sebesar 30 gram per tahun, sementara produksi nasional baru sekitar 2.000 ton per tahun.
“Artinya, masih ada ruang besar untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas madu lokal,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Kementerian UMKM terus mengembangkan pendekatan hilirisasi komoditas unggulan melalui program Rumah Produksi Bersama (RPB) atau Factory Sharing, yang telah berjalan di 16 kabupaten/provinsi sejak 2022 hingga 2024.
Melalui program itu, sambungnya, para pengusaha UMKM dapat mengakses fasilitas produksi bersama, pelatihan teknologi, dan sertifikasi mutu untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing produk.
Dalam kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Direktorat Kerja Sama dan Kemitraan Badan Gizi Nasional (BGN), Imam Bachtiar, menegaskan, BGN memberi ruang bagi pemerintah daerah untuk menyesuaikan penyusunan menu MBG dengan potensi pangan lokal yang ada di wilayah masing-masing.
Pemanfaatan bahan pangan lokal seperti madu, sagu, maupun komoditas khas daerah lainnya dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus memberdayakan pengusaha UMKM agar ikut terlibat dalam rantai pasok MBG.
“Apabila potensi lokal di Jawa Tengah, misalnya, adalah madu, hal tersebut dapat dibicarakan dan diusulkan untuk menjadi salah satu menu pendamping MBG,” ujarnya.
Imam menjelaskan, madu berpotensi menjadi bagian dari menu suplemen Program MBG, sepanjang memenuhi standar mutu dan keamanan pangan. Untuk itu, diperlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan agar pelaksanaannya berjalan optimal.
“Sinergi ini penting agar program tidak hanya sukses dari sisi gizi, tetapi juga berdampak ekonomi bagi pengusaha UMKM lokal,” imbuhnya.
Dengan dorongan kuat dari Kementerian UMKM dan dukungan Badan Gizi Nasional, komoditas madu diharapkan dapat menjadi contoh nyata integrasi antara program peningkatan gizi dan pemberdayaan ekonomi rakyat.
Selain memperkuat ketahanan pangan berbasis lokal, langkah itu juga sejalan dengan visi pembangunan nasional untuk menciptakan generasi emas yang sehat dan mandiri melalui sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
MBG adalah salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif. (SG-1)