SOKOGURU - Menjelang penghujung tahun, suasana di banyak rumah tangga penerima bantuan sosial terasa sedikit lebih ringan.
Harga kebutuhan pokok yang masih naik-turun membuat bantuan pangan tetap menjadi penopang penting, terutama bagi keluarga yang penghasilannya tidak selalu pasti.
Dalam konteks itulah, penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tahap 4 tahun 2025 hadir sebagai penguat napas di akhir tahun.
Pemerintah melalui Kementerian Sosial mempercepat pencairan BPNT tahap 4 agar manfaatnya bisa langsung dirasakan sebelum tahun anggaran berakhir.
Skema ini dirancang tidak sekadar menyalurkan bantuan, tetapi memastikan kebutuhan pangan dasar keluarga penerima manfaat tetap terjaga di momen yang kerap penuh tekanan ekonomi.
Berbeda dengan tahap sebelumnya, BPNT tahap 4 disalurkan sekaligus untuk beberapa bulan.
Artinya, bantuan yang biasanya diterima bertahap kini dikumpulkan dalam satu kali penyaluran.
Pendekatan ini dipilih agar keluarga penerima memiliki ruang lebih longgar dalam mengatur kebutuhan pangan hingga pergantian tahun.
Total bantuan yang diterima setiap keluarga penerima manfaat mencapai Rp600.000. Angka ini berasal dari akumulasi bantuan selama tiga bulan, yakni Oktober, November, dan Desember 2025, dengan nilai Rp200.000 per bulan.
Bantuan tersebut tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, melainkan dialokasikan khusus untuk pemenuhan kebutuhan pangan pokok.
Dalam praktiknya, BPNT digunakan untuk membeli bahan makanan seperti beras, telur, minyak goreng, hingga komoditas pangan lain yang telah ditetapkan dalam program.
Skema non-tunai ini dimaksudkan agar bantuan benar-benar digunakan sesuai tujuan awal, yaitu menjaga ketahanan pangan keluarga rentan.
Meski demikian, tidak semua warga otomatis menerima BPNT tahap 4. Penentuan penerima sepenuhnya bergantung pada validitas data.
Keluarga harus tercatat aktif dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), memiliki data kependudukan yang sesuai dengan KTP, serta tidak berstatus nonaktif atau tidak layak.
Ketidaksesuaian data sering kali menjadi penyebab utama bantuan tertunda atau bahkan tidak cair.
Untuk menjangkau kondisi wilayah yang beragam, pemerintah menyiapkan dua mekanisme penyaluran.
Bagi keluarga yang memiliki akses perbankan, bantuan disalurkan melalui bank-bank anggota Himbara seperti BNI, BRI, Mandiri, dan BTN.
Dana akan masuk ke rekening penerima dan hanya dapat digunakan sesuai ketentuan program.
Sementara itu, bagi keluarga di wilayah 3T atau yang mengalami kendala akses perbankan, penyaluran dilakukan melalui kantor pos.
Penerima akan mendapatkan undangan resmi dan mencairkan bantuan sesuai jadwal yang telah ditentukan, sehingga proses tetap tertib dan terkontrol.
Agar tidak menunggu dalam ketidakpastian, masyarakat disarankan aktif mengecek status bantuan.
Pemerintah menyediakan kanal resmi melalui situs cekbansos.kemensos.go.id maupun aplikasi Cek Bansos.
Prosesnya relatif sederhana, mulai dari memasukkan wilayah domisili hingga mencocokkan nama penerima sesuai KTP.
Menjelang akhir tahun, proses verifikasi data biasanya dilakukan lebih ketat. Kesalahan penulisan nama, alamat, atau NIK bisa berdampak langsung pada pencairan bantuan.
Karena itu, memastikan data tetap valid menjadi langkah penting agar hak bantuan tidak terlewat.
BPNT tahap 4 tahun 2025 menjadi penutup rangkaian bansos sepanjang tahun. Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan banyak keluarga, bantuan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan ruang bernapas agar dapur tetap mengepul dan kebutuhan dasar tetap terpenuhi hingga pergantian tahun. (*)