SOKOGURU, BANDUNG - Jelang dimulainya kompetisi Super League 2025, tiga raksasa Liga 1 Indonesia—Persib Bandung, Persija Jakarta, dan Persebaya Surabaya—tengah bersaing panas dalam bursa transfer.
Aroma persaingan tak hanya terasa di lapangan, tetapi juga dalam strategi perburuan pemain.
Dalam momen penuh harapan ini, masing-masing klub bergerak nekat, penuh emosi, dan sarat drama, demi menyusun komposisi terbaik untuk musim yang akan datang.
Baca Juga:
Persib Bandung menunjukkan ambisi besar mereka dengan kembali menjalin kesepakatan bersama Frans Putros, bek tangguh Timnas Irak yang sebelumnya sempat gagal merapat ke Bandung akibat perbedaan nilai kontrak.
Namun, pelatih Bojan Hodak yang dikenal gigih akhirnya sukses meyakinkan manajemen untuk merampungkan transfer sang bek.
Kehadirannya bakal memperkuat lini belakang Maung Bandung, dan memunculkan sinyal kuat bahwa Persib siap mengadopsi formasi tiga bek asing musim depan.
Kisah kepulangan Frans Putros penuh dinamika. Awalnya sempat dinyatakan batal, kabar ini bahkan membuat Bobotoh curiga bahwa drama transfer tersebut hanyalah "prank".
Namun kenyataan berkata lain. Transfer tersebut akhirnya diumumkan sebagai done deal, seperti dilansir akun @transfernews_ft1.
Pemain keturunan Irak-Denmark itu membawa pengalaman dari Liga Thailand, dan siap jadi palang pintu baru di Stadion GBLA.
Di sisi lain, Persija Jakarta tak mau kalah berani. Klub berjuluk Macan Kemayoran kembali mengincar pemain asing berkualitas tinggi.
Nama yang mencuat kali ini adalah Ruben Pina, winger eksplosif berambut gimbal asal Tanjung Verde yang musim lalu bermain untuk G.D. Chaves di Liga 2 Portugal.
Dengan catatan 6 gol dan 4 assist dari 30 laga, Ruben Pina berpotensi jadi amunisi baru paling menyilaukan di sektor sayap Persija.
Yang membuat transfer ini semakin panas adalah status bebas transfer Ruben Pina sejak 30 Juni 2025.
Artinya, Persija bisa mendapatkan pemain bernilai Rp10,43 miliar ini secara cuma-cuma.
Baca Juga:
Jika terealisasi, Ruben Pina bakal menjadi pemain termahal ketiga di Liga 1, hanya kalah dari Thijmen Goppel (Bali United) dan Jordi Amat (Johor Darul Ta'zim).
Transfer ini tak hanya strategis, tapi juga menunjukkan keseriusan Persija dalam membangun skuad bertabur bintang.
Sementara dua rival abadi itu saling unjuk keberanian, Persebaya Surabaya memilih bergerak tenang namun pasti.
Tim berjuluk Bajul Ijo sedang menanti datangnya "pujaan hati" baru di lini depan, yakni Mihailo Perovic, striker tajam asal Montenegro.
Negosiasi yang berjalan intens membuat para Bonek semakin tak sabar menanti kedatangannya.
Apalagi, sang pemain sudah menunjukkan sinyal kuat ke Persebaya dengan mem-follow akun Instagram resmi klub serta agen yang sering menangani transfer Bajul Ijo.
Perovic sendiri dikenal sebagai predator di kotak penalti. Statistiknya bersama FK Jezero mencatat 16 gol dari 35 laga.
Ia juga punya akurasi tembakan tinggi dan kemampuan duel udara mumpuni.
Sosok penyerang 28 tahun ini digadang-gadang akan menjadi jawaban atas kebutuhan Persebaya di lini serang, terutama usai kegagalan merekrut nama-nama seperti Jürgen Locadia dan Darryl Lachman.
Atmosfer transfer ini makin dramatis setelah FK Jezero resmi melepas Mihailo Perovic, yang disampaikan lewat unggahan emosional di Instagram resmi klub.
“Terima kasih, Mišo! Terima kasih atas setiap menit, usaha, dan semangat yang kau curahkan di lapangan,” tulis klub asal Montenegro tersebut.
Kalimat yang cukup untuk menggambarkan betapa spesialnya sang pemain, sekaligus isyarat kuat bahwa ia siap memulai petualangan baru bersama Persebaya.
Dari ketiga tim ini, strategi transfer mereka menjadi gambaran nyata betapa panas dan kompetitifnya Liga 1 musim depan.
Persib dengan kekuatan lini belakang barunya, Persija dengan kekuatan sektor sayap penuh bintang, dan Persebaya dengan harapan di jantung serangan.
Tiga kekuatan besar yang saling bersaing, saling mencuri perhatian publik dan tentu saja, memicu gairah jutaan pendukung mereka.
Gerak-gerik transfer ini menunjukkan bagaimana Super League 2025 akan menjadi arena pembuktian tak hanya bagi para pemain, tapi juga pelatih dan manajemen klub.
Keputusan-keputusan besar seperti ini membawa risiko tinggi, namun juga potensi kejayaan yang luar biasa.
Di balik gemerlap nama pemain, terselip harapan, strategi, dan mimpi besar dari tiap-tiap kota yang mereka wakili.
Dengan atmosfer panas ini, publik sepak bola nasional menanti: siapa yang paling siap mencuri start?
Siapa yang hanya jadi pencuri perhatian? Dan siapa pula yang benar-benar membawa pulang gelar?
Yang pasti, drama transfer Liga 1 2025 ini belum usai—dan sorotan akan terus tertuju ke Bandung, Jakarta, dan Surabaya. (*)