SOKOGURU, SRAGEN – Sebuah tradisi unik dan penuh makna kembali digelar di Dukuh Tambak, Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Tradisi tahunan bernama Pasar Tambak ini hanya digelar setahun sekali, tepat pada malam Jumat Wage di minggu pertama bulan Suro penanggalan Jawa—yang tahun ini jatuh pada Kamis malam, 10 Juli 2025.
Pasar tiban yang digelar di tanah lapang Dukuh Tambak ini seketika mengubah suasana sunyi desa menjadi pusat keramaian.
Baca juga: The Hallway Space: Oase Kreatif di Tengah Pasar Tradisional Kota Bandung
Ribuan warga dari berbagai penjuru memadati lokasi untuk berbelanja beragam kebutuhan rumah tangga, peralatan pertanian, peternakan, hingga perlengkapan dapur.
Para pengunjung Pasar Tambak di Kabupaten Sragen, Jateng. (Dok.Pemkab Sragen)
Semua Transaksi Dagang Dilakukan Tanpa Tawar Menawar
Namun, yang paling unik—seluruh transaksi dilakukan tanpa tawar-menawar.
Warga percaya, membeli barang di Pasar Tambak tanpa menawar akan mendatangkan berkah bagi pembeli dan pedagang.
Baca juga: Kemeriahan Festival Pasar Rakyat 2024 Warnai Pasar Ngasem Yogyakarta
“Kalau beli tanpa menawar, katanya rezekinya lancar. Ini tradisi warisan leluhur yang kami jaga,” ujar salah satu warga Dukuh Tambak.
Pasar Sekali Setahun, Warisan Budaya yang Dihidupkan Kembali
Tradisi ini juga mendapat apresiasi dari Wakil Bupati Sragen, Suroto, yang turut hadir dan membuka kegiatan budaya tersebut.
Kegiatan Pasar Tambak sebagai Bentuk Kearifan Lokal
“Pasar Tambak bukan hanya kegiatan ekonomi, tapi juga bentuk kearifan lokal yang luar biasa,” jelas Suroto.
“Saya sangat mengapresiasi warga Dukuh Tambak yang terus menjaga warisan budaya ini,” ujar Suroto.
Baca juga: Wow! Pasar Tradisional Kini Bisa Transaksi Nontunai Berkat Teknologi AI dari Kementerian UMKM
Ia juga menekankan pentingnya pelestarian budaya kepada generasi muda agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
“Orang Jawa harus ‘njawani’. Kita tidak bisa meninggalkan tradisi seperti ini. Anak cucu kita harus tahu asal usulnya,” lanjutnya.
Jejak Sejarah dari Pangeran yang Kehabisan Bekal
Menurut cerita turun-temurun, asal-usul Pasar Tambak terkait dengan kisah seorang pangeran yang kehabisan perbekalan saat menyusuri Sungai Bengawan Solo.
Sang pangeran kemudian singgah di Dukuh Tambak, dan peristiwa itu diyakini menjadi cikal bakal munculnya pasar tiban ini.
Sejak itu, tradisi digelar setiap malam Jumat Wage pada minggu pertama bulan Suro sebagai bentuk penghormatan dan harapan akan keberkahan.(*)