Wamendag Roro Temui Importir Pakistan, Asia Selatan Peluang Besar bagi Eksportir Rempah Indonesia

Pertumbuhan impor rempah Pakistan 2023-2024 positif yakni 34,5%. Pada Januari-Oktober 2025, ekspor rempah RI ke negeri itu meningkat signifikan sebesar 42%.

Author Oleh: Rosmery C Sihombing
10 Januari 2026
<p>Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri. (Dok. Kemendag)</p>

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri. (Dok. Kemendag)

SOKOGURU, KARACHI- Indonesia memiliki posisi sebagai salah satu produsen rempah berkualitas tinggi di dunia. Hal itu dapat dilihat dari catatan panjang sejarah yang menempatkan Indonesia sebagai pusat perdagangan rempah-rempah global.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri pada forum business to business (B2B) dengan importir rempah Pakistan di Karachi, Pakistan, Jumat 9 Januari 2026 waktu setempat.

“Indonesia dan Pakistan memiliki keterikatan historis yang kuat dalam perdagangan rempah yang berakar pada budaya, kuliner, dan industri tradisional,” ujarnya dalam keterangan resmi Kementerian Perdagangan (Kemendag), Sabtu, 10 Januari. 

Baca juga: Siap Pasarkan Rempah Bernilai Tambah ke Pasar Dunia, Kemendag Sambut Baik Peta Jalan Hilirisasi Rempah

Kedekatan tersebut, sambung Wamen Roro, yang membuka forum itu,  menjadi modal penting untuk memperkuat kerja sama perdagangan bilateral, khususnya di sektor rempah.

"Bagi Indonesia, Pakistan merupakan pasar yang dinamis dan tumbuh dengan permintaan kuat terhadap rempah, baik untuk konsumsi domestik maupun pengolahan dengan orientasi ekspor. Ini menjadi dasar untuk memperkuat sinergi kedua negara," imbuhnya di hadapan 10 importir rempah Pakistan.

Pada 2024, ekspor rempah Indonesia ke Pakistan mencapai USD16,7 juta. Meskipun tren ekspor 2020-2024 menurun 2,65%, tetapi pada Januari-Oktober 2025, ekspor rempah Indonesia ke Pakistan menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 42%.

Baca juga: Misi Dagang Rempah ‘Where Spices Tell Stories’ ke Belanda Bukukan Potensi Transaksi Rp239,4 Miliar

Capaian itu didukung oleh peningkatan ekspor bunga pala 100%, pala 65%, dan cengkih 49%. Indonesia, ujar Roro lagi, sebetulnya telah menjadi pemasok rempah terbesar ke-5 untuk Pakistan pada tahun 2024. Namun, ia  meyakini masih adanya potensi yang belum dimanfaatkan.

“Angka ini menunjukkan peluang peningkatan perdagangan masih sangat terbuka. Dengan kolaborasi yang lebih erat, kita dapat memperluas pangsa pasar Indonesia sekaligus menciptakan manfaat nyata bagi kedua negara,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, Kemendag bekerja sama dengan Konsulat Jenderal RI di Karachi mengadakan sesi business matching (penjajakan bisnis) pada 6 Januari lalu. 

Baca juga: Gastrodiplomasi Indonesia Lewat Rempah dan Rasa, Enam Kementerian Luncurkan S’RASA

Sepuluh perusahaan dari Indonesia dan delapan importir dari Pakistan bergabung dalam acara yang digelar secara hibrida ini. Kedua belah pihak sepakat untuk tindak lanjut awal dari business matching tersebut dengan pengiriman sampel produk.

Kunjungan kerja Wamendag Roro ke Karachi kali ini kian mempertegas hubungan Indonesia dan Pakistan yang tidak hanya ditopang oleh perdagangan, tetapi juga oleh fondasi diplomatik yang telah terjalin lebih dari tujuh dekade. 

Menurutnya, Pakistan tetap menjadi salah satu mitra utama Indonesia di Asia Selatan, sementara Indonesia juga menjadi pintu gerbang Pakistan ke pasar ASEAN yang lebih luas. 

Latar belakang tersebut merupakan landasan yang kokoh bagi hubungan ekonomi dan komersial Indonesia dan Pakistan untuk tumbuh dan berkembang.

Peluang besar bagi eksportir Indonesia

Asia Selatan, khususnya Pakistan, menawarkan peluang besar bagi eksportir Indonesia. Pakistan sendiri menunjukkan pertumbuhan impor rempah yang positif pada 2023-2024 dengan pertumbuhan 34,5%. Wamendag Roro juga menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mendukung kerja sama bisnis antar-perusahaan dengan Pakistan. 

"Melalui perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri dan kerangka kebijakan yang mendukung, kami siap memfasilitasi pertukaran informasi dan match making para pelaku bisnis," jelasnya.

Lebih lanjut, Wamendag Roro mengajak importir Pakistan untuk melihat Indonesia tidak hanya sebagai pemasok, tetapi sebagai mitra strategis yang mampu mendukung stabilitas pasokan jangka panjang, jaminan kualitas, dan diversifikasi rempah. 

Selain itu, Wamendag Roro menekankan bahwa kemitraan ekonomi yang kuat dibangun tidak hanya melalui perjanjian dan statistik, tetapi melalui kepercayaan, dialog, dan keterlibatan yang berkelanjutan.

"Kami berharap, pertemuan ini dapat memperkuat pemahaman bersama, menginspirasi ide-ide baru, dan membuka pintu untuk berkolaborasi lebih lanjut antara eksportir Indonesia dan importir Pakistan, khususnya di sektor rempah," tutupnya.

Turut mendampingi Wamendag Roro pada kesempatan ituDuta Besar RI Islamabad Chandra W Sukotjo, Direktur Perundingan Antar-Kawasan dan Organisasi Internasional Kemendag Natan Kambuno, dan Konsul Jenderal RI Karachi, Mudzakir.

Antusiasme pelaku usaha Pakistan tercermin dari respons para importir yang hadir. Salah satu perwakilan importir rempah yaitu Ghani Abdullah Kalodi dari Kalodi Group menyampaikan Indonesia dinilai sebagai mitra yang andal dan strategis.

“Indonesia merupakan salah satu pemasok rempah yang konsisten dari sisi kualitas dan keberlanjutan pasokan. Melalui forum ini, kami melihat peluang konkret untuk memperluas kerja sama bisnis jangka panjang dengan eksportir Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar Pakistan,” ujarnya. (SG-1)