SOKOGURU - Ketika seseorang menulis, “Hari ini resmi nganggur,” di media sosial, unggahan itu biasanya dianggap curhat biasa.
Namun di tangan teknologi, kalimat sederhana itu bisa berubah menjadi sinyal krisis ekonomi.
Inilah yang kini sedang dikembangkan para peneliti. Alih-alih menunggu laporan resmi yang memakan waktu berminggu-minggu, kecerdasan buatan mulai membaca denyut ekonomi langsung dari percakapan digital masyarakat.
Setiap keluhan, sindiran, atau candaan getir tentang pekerjaan menjadi potongan puzzle yang penting.
Salah satu inovasi yang menonjol adalah JoblessBERT. Model AI ini dilatih dengan puluhan juta unggahan media sosial untuk memahami bahasa manusia apa adanya—termasuk ejaan salah, singkatan, hingga slang khas pencari kerja.
Pendekatan ini terbukti efektif. Prediksi tingkat pengangguran bisa diperoleh lebih cepat, bahkan hingga dua minggu lebih awal dibanding data resmi.
Akurasinya pun meningkat signifikan, dengan penurunan kesalahan prediksi lebih dari 50 persen.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PNAS Nexus dan menjadi sorotan karena relevansinya yang sangat nyata.
Saat pandemi melanda, sistem berbasis AI ini sudah menangkap lonjakan kehilangan pekerjaan ketika data pemerintah belum tersedia.
Bagi pemerintah dan lembaga keuangan, teknologi ini menawarkan keunggulan strategis.
Respons kebijakan bisa dilakukan lebih cepat, sebelum dampak krisis meluas.
Bantuan sosial, stimulus ekonomi, hingga kebijakan moneter dapat disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan.
Namun, para peneliti menekankan satu hal penting. AI bukan pengganti statistik resmi. Teknologi ini berperan sebagai alarm dini, bukan hakim akhir.
Di era digital, suara masyarakat tak lagi sekadar riuh di linimasa. Ia menjelma data, dan data itu kini membantu membaca masa depan ekonomi.