Peserta Inacraft Berharap Pengunjung Membeli, jangan Cuma Melihat-Lihat, Target Transaksi Rp102,5 Miliar

Ribuan perajin dari berbagai daerah hadir menampilkan karya terbaik mereka, mulai dari wastra nusantara, fesyen berbasis etnik, aksesoris hingga home decor.

Author Oleh: Rosmery C Sihombing
06 Februari 2026
<p>Eliza pemilik Minara Kerancang Heritage dari Padang, Sumatra Barat yang baru pertama kali ikut Inacraft mengatakan, omzet yang diperoleh hingga  hari kedua pameran Inacraft 2026 di JICC Senayan, Jakarta, sudah melampaui sewa standnya. (Dok. Sokoguru/Rosmery)</p>

Eliza pemilik Minara Kerancang Heritage dari Padang, Sumatra Barat yang baru pertama kali ikut Inacraft mengatakan, omzet yang diperoleh hingga  hari kedua pameran Inacraft 2026 di JICC Senayan, Jakarta, sudah melampaui sewa standnya. (Dok. Sokoguru/Rosmery)

SOKOGURU, JAKARTA- Memasuki hari ketiga, Jumat, 6 Februari 2026, pameran Inacraft 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) semakin ramai pengunjung. 

Selain pengunjung dalam negeri, tidak sedikit pembeli dari negara sahabat memborong aneka produk kriya maupun fesyen.

Ada yang membeli perlengkapan dapur dari kayu, rotan, aksesoris, tenun, batik, perhiasan mutiara, aromaterapi dan lain sebagainya.

Baca juga: Resmikan Inacraft 2026, Menteri Ekraf Riefky: Kepemimpinan Perempuan dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif

Pameran yang diprakarsai oleh Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) bekerja sama dengan Mediatama Event itu memang diikuti oleh total peserta keseluruhan 1.013 stand.

Ketua Umum ASEPHI, Muchsin Ridjan, mengatakan, selama lima hari pameran (4-8 Februari 2026), pihaknya menargetkan nilai transaksi sebesar Rp102,5 miliar selama penyelenggaraan. 

Target ambisius tersebut, menurutnya, sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap produk kerajinan lokal yang berkualitas, berdaya saing global, dan sarat nilai budaya. 

Baca juga: Merayakan Peran Womenpreneurs di Balik Kriya Nusantara, Inacraft 2026 Digelar 4-8 Februari 2026

Ribuan perajin dari berbagai daerah di Indonesia hadir menampilkan karya terbaik mereka, mulai dari wastra nusantara, fesyen berbasis etnik, aksesoris, perhiasan, hingga produk home decor dan kriya berbahan ramah lingkungan.

“Inacraft bukan sekadar ajang pameran, tetapi juga menjadi barometer perkembangan industri kerajinan nasional. Inacraft menjadi ruang pertemuan strategis antara perajin, buyer, pelaku usaha, dan konsumen. Target transaksi Rp102,5 miliar mencerminkan optimisme kami terhadap kebangkitan sektor craft nasional,” ujarnya.

Baca juga: Inacraft 2025 Panggung Kerajinan Nusantara dengan Spirit Ramah Lingkungan, tidak Cuma Jual Produk

Apakah target itu akan tercapai? Tentu tergantung dari hasil transaksi selama lima hari pameran.

Minara Kerancang Heritage milik Eliza dari Padang, Sumatra Barat, misalnya, mengaku omsetnya hingga hari kedua pameran sudah melebihi biaya sewa standnya.

“Alhamdulilah bu. Sudah melampau sewa stand.Saya sewa Rp20 juta untuk lima hari. Saya baru pertama kali ikut Inacraft,” ujarnya.

Eliza menjual produk blus, jaket, kebaya dan rompi yang dibordir dan sulam tangan. Ia menjual produknya mulai harga Rp500 ribu-an hingga Rp3 jutaan.

“Ya, sisa hari berarti keuntungan saya. Dijalani saja. Di sebelah saya yang jual batik lebih ramai lagi pembelinya,” ujarnya sambil menunjuk stand batik.

Eliza yang pensiunan aparatur sipil negara (ASN) itu memulai usahanya sejak enam tahun lalu sebelum ia memasuki usia pensiun.

Dengan 15 perajin, ia mengaku bisa menghasilkan omset Rp200 juta setiap bulan. Semua produk bordirnya sebagian besar dipasarkan dari  pameran ke pameran.

Berbeda dengan Eliza, Farida Songket dari Ogan Ilir, Palembang justru merasa pameran kali ini sepi.

Ketika ditanya berapa pejualan hingga hari ketiga, ia enggan menyebutnya. 

“Sepi bu, tidak tahu ya kalau Sabtu  dan Minggu nanti mudah-mudahan ramai, ujarnya.

Farida yang memulai usaha songket dan kain sutera Palembang itu sejak belasan tahun lalu mengaku sudah beberapa kali ikut Inacraft.

“Di Inacraft tahun lalu, selama pameran lima hari saya meraih omzet Rp200 juta-an lebih,” ujarnya.

Ia berharap sisa dua hari pameran banyak pengunjung membeli produknya. Dalam pameran kali ini, ia memang membawa tenun songket benang emas dan sutera yang sangat halus. Selain itu, ada produk tas tangan terbuat dari songket dan sutera.

Produk Farida memang cukup berkelas dan mewah. Kain sutera dengan warna alam dan naturalnya terlihat indah dan bernilai seni tinggi. 

Untuk kain ia menjual dengan harga Rp2 juta hingga Rp11 juta. Sedangkan tas di bawah Rp 1 juta. 

“Ini buatan tangan semua, satu kain ada yang bisa dibuat 3 bulan lamanya,” ujarnya. (Ros/SG-1)