SOKOGURU - Tahun 2026 bukan lagi soal ikut-ikutan tren investasi. Pasar sudah berkali-kali memberi pelajaran bahwa euforia cepat sering berakhir pahit.
Di titik ini, banyak investor justru mulai kembali ke tujuan awal: stabilitas arus kas dan ketenangan finansial jangka panjang.
Dividen saham, terutama dari emiten besar yang konsisten membagi laba, perlahan menjadi sandaran.
Baca Juga:
Bukan karena imbal hasilnya selalu tertinggi, tetapi karena ia memberi kepastian—sesuatu yang sering hilang saat pasar bergejolak.
Di sinilah konsep pasif income dan rumus 4% mulai relevan dibicarakan secara serius, bukan sekadar jargon motivasi keuangan.
Waktu Terus Berjalan, Finansial Jangan Diam di Tempat
Banyak orang merasa tahun berganti begitu cepat, tapi kondisi keuangan seperti jalan di tempat. Gaji naik, kebutuhan ikut naik. Usia bertambah, tabungan tidak terasa signifikan.
Doddy, seorang Financially Independent, menggambarkan kegelisahan ini dengan sederhana.
“Dalam salah satu ulasannya di kanal Youtube Doddy Bicara Investasi, Doddy menanyakan
pernah enggak ngerasa waktu jalan cepat, tapi hidup dan keuangan rasanya begitu-gitu aja? Tahun ganti, usia nambah, tapi posisi kita kayak diam di tempat. Menjelang 2026, saya mulai refleksi: sebenarnya arah hidup saya ke mana?”
Refleksi semacam ini sering muncul bukan dari teori, tetapi dari keputusan nyata yang dampaknya langsung terasa.
Dari situlah muncul kesadaran bahwa tidak semua investasi punya pengaruh yang sama terhadap kualitas hidup.
Dividen Bukan Sekadar Angka, Tapi Mesin Uang
Sepanjang 2025, fokus utama Doddy bergeser dari mengejar capital gain ke membangun mesin uang yang menghasilkan arus kas rutin.
“Saya punya mimpi sederhana, suatu hari bisa hidup dari pasif income, bukan cuma dari gaji. Makanya saya mulai serius beli aset yang rutin bagi dividen,” katanya.
Hasilnya cukup konkret. Dari saham perbankan besar seperti BRI dan Mandiri, dividen yang diterima mencapai ratusan juta rupiah dalam setahun.
Menariknya, seluruh dividen tersebut tidak dipakai untuk konsumsi, melainkan diputar kembali ke investasi lain.
Pendekatan ini terdengar klasik, tetapi justru di situlah kekuatannya. Compounding bekerja pelan, tapi konsisten.
Baca Juga:
Ketika Pasar Turun, Dividen Menjadi Penopang Psikologis
Ada satu hal yang sering luput dibahas, dampak psikologis dari investasi.
Saat harga saham terkoreksi, investor yang hanya mengandalkan kenaikan harga cenderung panik. Sebaliknya, mereka yang memiliki arus kas dari dividen biasanya lebih tenang.
“Di tahun ketika banyak saham turun, saya enggak panik. Karena ada cash flow, rasanya lebih seperti nunggu. Bahkan dividen itu bisa dipakai buat nambah posisi saat harga lagi murah,” jelas Doddy.
Di sinilah rumus 4% mulai memainkan peran penting.
Rumus 4%: Menghitung Target dengan Lebih Jujur
Rumus 4% bukan formula ajaib, tetapi alat bantu untuk berpikir realistis. Prinsipnya sederhana, berapa total aset yang dibutuhkan agar kita bisa menarik 4% per tahun tanpa menggerus pokok.
Perhitungannya:
Target pasif income bulanan × 12
Hasilnya dibagi 4%
Contoh:
Target pasif income Rp10 juta per bulan berarti Rp120 juta per tahun.
Dibagi 4%, maka aset yang dibutuhkan sekitar Rp3 miliar.
Angka ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membuka mata.
“Angka ini bikin kita sadar dua hal: seberapa besar pasif income yang ingin dibangun, dan seberapa jauh posisi kita sekarang,” katanya memaparkan.
Tanpa perhitungan, masa tua berisiko menjadi beban—baik bagi diri sendiri maupun keluarga.
Mulai Sekarang, Bukan Nanti
Produktivitas manusia tidak meningkat seiring usia. Jika dana pensiun tidak dibangun sejak dini, bebannya akan terasa justru saat tenaga mulai berkurang.
“Masa depan enggak akan nunggu kita siap. Waktu terbaik memulai memang 20 tahun lalu, tapi waktu terbaik kedua ya hari ini.”
Pesan ini terdengar klise, tetapi sering kali benar justru karena diabaikan.
FAQ Singkat Investasi 2026
Apa itu rumus 4%?
Metode perencanaan keuangan untuk menentukan total aset agar bisa menarik 4% per tahun tanpa menghabiskan dana pokok.
Apakah saham dividen masih relevan di 2026?
Masih. Saham perbankan dan emiten blue-chip yang konsisten membagi dividen tetap menjadi fondasi arus kas di tengah volatilitas.
Harus mulai dengan modal besar?
Tidak. Konsistensi dan reinvestasi dividen, sekecil apa pun, jauh lebih menentukan dalam jangka panjang.
Risiko terbesar jika tidak menyiapkan dana pensiun?
Terjebak bekerja terus di usia tidak produktif karena tidak memiliki aset yang menghasilkan. (*)