Jeritan Koperasi Desa: Kami Butuh Modal Usaha, Bukan Mobil Impor! Mengapa Dipaksakan?

Pengurus koperasi bingung saat tahu dana desa dipakai cicil mobil India. Padahal kapasitas SDM dan modal kerja lebih mendesak. Bagaimana nasib desa ke depan?

Author Oleh: Ratu Putri Ayu
05 Maret 2026
<p>Pengurus koperasi bingung saat tahu dana desa dipakai cicil mobil India. Padahal kapasitas SDM dan modal kerja lebih mendesak. Bagaimana nasib desa ke depan?</p>

Pengurus koperasi bingung saat tahu dana desa dipakai cicil mobil India. Padahal kapasitas SDM dan modal kerja lebih mendesak. Bagaimana nasib desa ke depan?

SOKOGURU - Cicilan Mobil Impor India Pakai Dana Desa, Pengurus Koperasi Justru Kebingungan?

Wacana pengadaan mobil pikap impor asal India untuk Koperasi Desa Merah Putih kini menemui titik terang mengenai asal-usul anggarannya. 

Pemerintah akhirnya buka suara bahwa pengadaan kendaraan operasional ini tidak bersifat hibah murni, melainkan menggunakan skema pinjaman perbankan.

Rasa penasaran warga desa mengenai "hadiah" mobil ini terjawab dengan mekanisme pembiayaan yang melibatkan bank milik negara atau Himbara. 

Nantinya, dana desa yang dialokasikan setiap tahun akan digunakan untuk melunasi cicilan kendaraan tersebut ke pihak bank.

Penjelasan ini diperkuat oleh informasi yang dihimpun dari akun Instagram @kanaldesacom dalam unggahan berjudul "Apakah Koperasi Desa Bisa Mendapat Mobil Picup Impor India Secara Cuma-Cuma?". 

Unggahan tersebut menyoroti mekanisme distribusi kendaraan yang tengah jadi perbincangan hangat di tingkat desa.

Menteri Keuangan Purbaya menegaskan bahwa skema ini telah diperhitungkan secara matang agar tidak mengganggu stabilitas anggaran pusat secara mendadak. 

Beliau memberikan pernyataan resmi mengenai alur pembayaran yang akan dilakukan oleh kementerian terkait.

"Mekanisme ini sama sekali tidak akan membebani keuangan negara karena cicilannya dibayar dengan dana desa yang memang sudah dialokasikan setiap tahunnya," ujar Menteri Keuangan Purbaya.

Proyek ambisius ini kabarnya melibatkan pengadaan sebanyak 105.000 unit kendaraan yang didatangkan langsung melalui BUMN Agrinas. 

Nilai investasinya pun tergolong fantastis, yakni menyentuh angka Rp24,66 triliun untuk seluruh unit yang dipesan.

Proses logistik pun dikabarkan berjalan lancar, di mana sebagian unit mobil pikap tersebut terpantau sudah bersandar di pelabuhan Indonesia. 

Namun, di balik kemegahan angka tersebut, muncul suara-suara sumbang dari para pengurus koperasi di lapangan.

Banyak pengurus koperasi yang merasa "dilangkahi" karena tidak pernah diajak berdiskusi mengenai urgensi pengadaan mobil pikap ini. 

Mereka mengaku terkejut saat mengetahui bahwa dana desa mereka akan terserap untuk cicilan kendaraan operasional tersebut.

"Sejumlah pengurus koperasi mengaku tidak dilibatkan dalam perencanaan pengadaan kendaraan," ungkap perwakilan pengurus yang menyuarakan aspirasi kolektif mereka.

VIDEO MENARIK UNTUK ANDA! Podcast Dari NOL | Pepep St 12 : "Musisi itu pekerjaan bukan Hobi"

YouTube

Bagi sebagian besar koperasi, tantangan nyata yang mereka hadapi saat ini bukanlah keterbatasan armada angkut untuk mobilitas barang. 

Fokus utama mereka justru terletak pada ketersediaan likuiditas atau modal kerja untuk memutar roda ekonomi anggota.

"Mereka menyebut kebutuhan utama koperasi saat ini bukan kendaraan, melainkan tambahan modal usaha dan penguatan kapasitas sumber daya manusia," lanjut pernyataan dari pihak pengurus koperasi tersebut.

Ketimpangan antara kebijakan pusat dan kebutuhan akar rumput ini memicu diskusi panjang mengenai efektivitas penggunaan dana desa. Alih-alih mendapatkan suntikan modal segar, desa justru dibebani kewajiban jangka panjang untuk aset yang belum tentu produktif.

"Nah, menurutmu, apakah pemerintah sudah tepat menentukan program prioritas ini?" tanya seorang pengamat kebijakan publik menanggapi polemik distribusi kendaraan impor ini.

Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah dan pengelola koperasi untuk memastikan ribuan mobil tersebut tidak sekadar menjadi besi tua. 

Efektivitas penggunaan mobil India ini akan menjadi ujian bagi kemandirian ekonomi desa di masa depan.

"Saat ini, sebagian mobil tersebut sudah tiba di Indonesia," tutup keterangan resmi dari pihak kementerian mengenai status terkini pengadaan tersebut. (*)