Yuliana Membangun Solidaritas Sentra Kaos Suci
Yuliana tidak pernah menganggap pelaku usaha lain sebagai pesaing. Baginya, bisnis adalah membangun keluarga baru, dan sama-sama bisa maju.

Di sepanjang jalan Surapati, Kota Bandung, dapat kita jumpai sederet kios kaos. Kios-kios itu buka sejak pagi hingga malam, menjajakan berbagai jenis kaos, kemeja, jaket, dan pakaian lainnya. Masyarakat umum menyebutnya kios atau toko, tapi warga sekitar Surapati-Cicaheum (Suci) menyebutnya showroom.

Di salah satu showroom itulah kita bisa menemui Yuliana. Setiap hari, Bubu, panggilan akrab Yuliana, beraktivitas di showroomnya di Jl. Surapati No. 102. Mulai dari kaos distro hingga kaos partai berjejer rapi di etalase, menunjukkan bahwa Yuliana bisa membuat pesanan apa saja.

“Bubu mulai usaha sablon tahun 2004. Hampir 20 tahun Bubu makan dari hasil usaha sablon,” terang Yuliana, saat menjelaskan awal mula kariernya, “awalnya terima produksian kaos, tapi sekarang kita kerjain semuanya, ada topi, kemeja, sweater, semuanya,” lanjutnya.

Yuliana berkisah, awalnya ia bukanlah seorang pelaku usaha kaos sablon. Ia memulai usaha kasur kapuk lebih dulu. Usahanya sempat meningkat, tetapi seiring berjalannya waktu, kasur kapuk sudah tidak digunakan oleh masyarakat. Keadaan memaksa Yuliana berganti bidang usaha.

“Pelaku usaha harus ngigelan jaman (mengikuti perkembangan zaman). Yuliana lihat kasur kapuk sudah mulai turun peminatnya, pada ganti ke kasur busa. Akhirnya Yuliana mulai coba usaha kaos,” kisah Yuliana.

Perjalanan Yuliana saat memulai usaha tidak bisa dilepaskan dari sentra kaos suci. Saat Yuliana ingin memulai usaha, ada seorang kawan membantu meminjamkan mesin-mesin produksi, seperti mesin jahit dan mesin obras tiga benang. Dari mesin pinjaman itulah Yuliana bersemangat untuk memulai usaha.

“Saya kerjakan semuanya sendiri dulu, dari mulai jahit sampai jadi. Ngga begitu lama, Bubu punya modal buat beli mesin sendiri. Akhirnya mesin pinjaman tadi dikembaliin,” terang Yuliana, “kalau dikerjain sendiri, Bubu jadi bisa ngerti gimana cara produksi dan berjualan.

Yuliana menerima banyak orderan. Ada yang satuan, lusinan, kodian, hingga ratusan buah. Dalam usahanya, Yuliana tidak pilih-pilih orderan. Baginya, semua orderan sama pentingnya, semua konsumen sama berharganya.

“Semua kerjaan akhirnya jadi promosi. Bukan cuma kerjaan dengan keuntungan besar saja, tapi kerjaan kecil juga jadi promosi. Pernah ada satu orang pesen satu biji kaos. Saya kerjakan sepenuh hati dan akhirnya sang pembeli puas. Eh sampai sekarang masih sering pesen kaos, pesennya ga pernah kurang dari 1000 pcs,” ungkap Yuliana.

Keberhasilan itu diraih Yuliana tidak dalam waktu singkat. Yuliana mempercayai bahwa proses dalam bisnis bukanlah hal yang instan. Sebab bisnis bukan hanya soal jual beli, tapi juga soal menjaga kepercayaan, dan membangun kekeluargaan.

“Bubu tidak akan pernah lupa sama teman Bubu yang pinjemin mesin. Usaha Bubu tidak akan jalan kalau tidak ada dia. Sekarang juga saya bantu setiap orang yang mau mulai usaha. Bubu kasih pinjam alat-alat satu set biar bisa kerja. Nanti kalau sudah bisa menabung dan beli alat sendiri baru dikembalikan,” kata Yuliana.

Yuliana tidak pernah menganggap pelaku usaha sablon lain sebagai pesaing. Yuliana menganggap mereka sama-sama keluarga. Sehingga, Yuliana tidak pernah ragu untuk membantu sesama pelaku usaha sablon.

“Kalau ada orderan banyak, Bubu tidak bisa ambil sendiri, karena setiap tempat produksi punya kapasitasnya sendiri-sendiri. Jadi biasanya kalau ada orderan, Bubu bagikan juga ke pelaku usaha lain. Jadi orderan tetap bisa kekejar deadlinenya,” terang Yuliana.

Begitu juga saat pandemi Covid-19. Saat itu, hampir seluruh bisnis mengalami kemunduran. Tetapi Yuliana berhasil melewatinya dengan menjual masker-masker kain. Tentu pembuatannya tidak dilakukan sendirian. Semuanya melibatkan orang-orang terdekatnya.

“Kita tidak mengalami pandemi ini sendirian. Semuanya terdampak. Jadi untuk keluar dari pandemi pun harus bersama-sama. Alhamdulillah, dengan bikin masker ini jadinya kita bisa bertahan. Hampir tidak pernah tidak ada orderan,” ungkap Yuliana.

Yuliana ibarat ibu bagi anak-anak pelaku usaha sablon di sentra kaos Suci. Nama panggilan akrabnya berawal dari semua orang yang mulai memanggilnya Bubu. Apa yang dilakukan Yuliana mampu meningkatkan ikatan kekeluargaan antara pelaku usaha kaos di sentra kaos Suci, dan menjadikan Suci sentra yang semakin solid.