Lokal Go Internasional: Dari Tagline ke Aksi ala Handoko Hendroyono
Kiprah puluhan tahun di industri iklan tidak membuatnya berpuas hati. Digagasnya Filosofi Kopi dan M Bloc Space adalah buktinya.

Apapun makanannya, minumnya …

Sumber air sudekat…

Tagline di atas sudah jadi top of mind kita semua. Penggagas tagline itu adalah satu orang yang sama dengan penggagas Filosofi Kopi dan M Bloc yang menjadi tren saat ini. Namanya Handoko Hendroyono.

Bermula di kantor Nuvo Advertising, Handoko kemudian melanjutkan kariernya ke Chuo Senko, McCann-Erickson, Matari dan DBB sebelum akhirnya ia bersama partner mendirikan OneComm Indonesia.

Kiprah puluhan tahun di industri iklan tidak membuatnya berpuas hati. Ada dorongan dari masa kecil yang membuatnya sangat dekat dengan dunia UMKM. Tempat itu adalah pasar, di mana Handoko tumbuh dan berkembang.

Di Ponorogo, Jawa Timur, Handoko kecil selalu bersemangat ketika mendekat ke pasar. Lalu lalang manusia, hiruk pikuk pengantaran, penjual dan pembeli selalu menginspirasinya. Ia berkisah, masa kecilnya di pasar ternyata membuat dirinya kembali ke pasar saat dewasa, dengan membuat M Bloc Market.

Dunia iklan dan entertain Jakarta membuatnya menyadari bahwa pergulatan di industri sangatlah bertumpu pada bagaimana menyelesaikan masalah publik. Selain itu penting juga memikirkan cara untuk menyedot perhatian orang, membuat orang tergerak, berkumpul, dan berbondong-bondong membeli produk tersebut.

Tapi kepada siapa iklan itu akan menghasilkan? Hal itu membuat Handoko termenung, mengkaji kembali berbagai persoalan yang nyata di Indonesia.

Ketika Handoko berkeliling Indonesia, ia menyadari betapa kayanya potensi yang dimiliki negeri ini. Baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Tetapi ia menyadari, belum banyak semangat bangsa ini untuk bisa menjadi produsen atau pembuat.

Dari sana, ia ingat apa yang terjadi di Ponorogo berpuluh tahun lalu. Pasar selalu membuat matanya hidup dan banyak cerita. Di sana dia menyelesaikan masalah dalam dirinya, tetapi sekarang dia bisa menyelesaikan yang lebih luas, kompleks dan berdampak untuk orang banyak.

Apa yang selanjutnya dilakukan Handoko adalah kolaborasi antar dua hal itu, membuat sesuatu yang baru, yang menggali potensi Indonesia yang “terbenam” ini.

Meniti Sejarah dan Titian Baru

Handoko memulai bisnis pada tahun 2014 saat melihat momentum brand lokal memiliki kekuatan untuk maju pada tahun 2015. Ini berdasarkan riset dan buku yang ditulisnya bahwa kebangkitan brand lokal bukan lagi jargon semata.

Di sana berkembang ide-ide dari mulai Filosofi Kopi, kedai kopi di mana kolaborasi adalah keharusan. Dengan cerita dari Dee Lestari, Sutradara Angga Sasongko, Aktor Chicco Jerrico dan Rio Dewanto, terciptalah Filosofi Kopi yang membludak di pasaran film Indonesia.

Dari sana Filosofi Kopi menciptakan gerakan-gerakan yang benar berdampak ke masyarakat: lazimnya tempat kopi berdiri di mana-mana.

Kolaborasi selanjutnya adalah bagaimana M Bloc Space dibentuk. Dari tempat yang sudah tak terpakai, terbengkalai, tapi punya nilai sejarah dan arsitektur yang klasik: Gedung Peruri disulap menjadi centra of cultura Jakarta Selatan.

“Place making ini dibuat dalam rangka public merespons sebuah tempat dan akhirnya memberikan energi baru,” kata Handoko.

Penemuan Tagline Baru Yang Menjadi Aksi: Placemaking, dan Jenama Lokal

Jenama Lokal, Jenama Lokal tak berhenti disebut, seakan sudah jadi trademark sendiri untuk Handoko, Placemaking, Ritual Aktivasi menjadi istilah yang tak terpisahkan darinya.

Dibangunnya M Bloc Space yang dilanjut dengan Pos Bloc (Gedung Filateli Jakarta), Fabriek Bloc (ex-pabrik metal Padang), JNM Bloc (Yogyakarta) dan tempat-tempat lain yang menjelang di Indonesia ini adalah aksi “PlaceMaking”.

Intinya, placemaking adalah tempat yang sudah ada atau eksis kemudian direspons oleh partisipasi publik, dan akhirnya membuat nilai ekonomi dan dampak sosial yang baru.

Konsep penciptaan ruang ini bersifat mengajak orang untuk berpartisipasi dan terlibat. Dari pembuatan, dari pengonsepan sampai aktivasinya adalah pelaksanaan kata kolaborasi. M Bloc yang lahir dari berbagai unsur: arsitek, seni, jurnalisme, pengusaha Indonesia menjadikannya ruang yang aktif.

Dari semua kolaborasi, ada satu nilai yang dipegang teguh, JENAMA LOKAL. Mulai dari gerai fesyen, kuliner, kreatif sampai minimarketnya pun lokal semua.

Ini bermula dari kekesalan Handoko akan banyaknya brand asing dan didiskreditkannya UMKM, baik dari pameran ataupun sekadar booth, seringnya buatan asli Indonesia seakan belum terpoles sepenuhnya.

Dari keresahan itu, hadirlah M Bloc Market. Semua yang lokal bukan penghias, tapi menjadi pemain utama. 70% dari produk di sana adalah lokal punya, UMKM yang terkurasi dan dirayakan dengan berbagai ritual sosial yang ada di lokasi tersebut.

Handoko hadir sebagai figur hari ini, setidaknya di titik-titik ruang kreatif Indonesia, khususnya Jakarta. Pergerakan yang dilakukannya menjadi tanda bahwa menjadi muda bukan soal usia, tetapi segarnya ide dan sikap selalu belajar.

Pemerintah, Swasta dan Industri Kreatif

Menurut Handoko ekosistem kreatif perlu dibangun bersama-sama, baik pemerintah atau swasta mesti duduk bersama guna memajukan industri kreatif.

Itulah yang belum terjadi saat ini. Padahal, banyak sekali pihak yang membicarakan UMKM. Tetapi itu semua masih belum terkoneksi. Jadi, ekosistem dan koneksi harus direncanakan dan dibangun bersama-sama oleh pemerintah, swasta, kampus, dan lain sebagainya untuk naik kelas.