Menjadi seorang musisi drummer, Yoga Tri Herlambang, 35 tahun, tak menyurutkan hobinya sebagai pecinta kelinci. Bahkan, dengan semangat ketelatenan, ia berhasil mengembangkan budidaya.
Satu set drum menghadap pada kandang kelinci bertingkat. Wajahnya menyiratkan semangat pantang menyerah. Sesekali tangannya terlihat lincah menggebuk drum miliknya. Alat musik drum memang menjadi bagian dari dirinya. Bahkan mengantarkan dirinya dikenal sebagai seorang musisi professional. Namun, ternyata Yoga punya hobi lainnya; memelihara budidaya kelinci yang telah dilakoninya sejak 2004 silam.
“Saya pindah dari Jakarta ke Bandung saat masa pandemi,” katanya saat ditemui di lokasi kandang kelincinya di Punclut, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (27/01/2022). Bagi banyak orang, pandemi Covid-19 memang telah mengubah banyak perubahan. Tak terkecuali bagi dirinya sebagai seorang musisi. Namun, hobinya memelihara kelinci justru menjadi jalan berkah. Di saat masa pandemi ini, dirinya jusru menggeluti dengan serius budidaya kelinci beragam ras. Mulai kelinci hias hingga kelinci pedaging.
“Sejak 2004 saya menekuni kelinci hias jenis Netherland Dwarf,” katanya. Jenis kelinci ini memang menggemaskan dan disukai banyak orang. Bentuknya yang lucu menjadi hobi di kala musim pandemi. Pengalaman ini ia kembangkan pada jenis kelinci lainnya. Dan berhasil mengawinkan beragam ras dengan baik.
Di kawasan Punclut yang sejuk ia berternak kelinci pedaging. Lewat media sosial ia memasarkan produknya hingga dikenal di luar negeri. Dengan kefasihannya berbahasa Inggris, ia berhasil memenuhi permintaan dari luar negeri. Dan mengekspor kelincinya ke berbagai negara, seperti Filipina, Arab Saudi hingga Uni Emirat Arab.
“Ada potensi yang besar baik untuk kelinci hias premium maupun pedaging,” katanya.
Yoga pun menginisiasi The Bachelor Rabbitry. Sebuah korporasi kecil peternakan kelinci untuk mengahasilkan kelinci-kelinci unggul pasar ekspor. Mulai pembibitan, penyilangan hingga mengembangkan anakan yang berkualitas. Hasilnya, permintaan pun membanjiri dari berbagai negara melalui jejaring media sosial, Facebook dan Instagram.
The Bachelor Rabbitry memperkenalkan pengelolaan budidaya kelincinya dengan serius. Ada berbagai fasilitas dan standar kendang kelinci yang baik. Fasilitas dan cara budidaya ini menarik minat pasar internasional. “Saya belajar cara ekspor impor. Banyak tantangan namun saya lakoni untuk memastikan service bintang lima,” katanya sambal tersenyum.
Harga satu kelinci pedaging ada dikisaran $300 sampai $1000. Dan untuk kelinci hias premium bisa mencapai harga lebih dari $1000. Dalam sekali kirim, Yoga mampu mengirimkan 200-500 ekor ke luar negeri. Bahkan pada tahun 2021 dirinya telah melakukan 7 kali pengiriman ekspor.
“Jenis Transylvanian adalah yang paling diminati. Bobotnya berat dan bisa menghasilkan daging yang mantap dan berkualitas,” katanya.
Musik dan beternak kelinci menjadi dua mata koin yang tidak terpisahkan. Bagi Yoga, yang terpenting dari usaha ini, juga bisa menggerakan ekonomi lokal lainnya. Tak salah, jika saat ini, dirinya telah mengajak peternak kelinci lainnya. Dan membentuk kluster peternak kelinci.
“Beternak itu perlu manajemen. Sehingga dari sekedar hobi justru bisa menghasilkan pendapatan yang baik,” katanya tersenyum.
Dan kini, Yoga pun menjadi salah satu ikon anak muda petani milenial dan menjawab tantangan untuk membangun kawasan Kampung Peternak Kelinci Milenial di Jawa Barat. Dengan semangat kebersamaan, pantang menyerah, dan jiwa seninya, ia perlahan mewujudkan mimpinya; menjadi peternak kelinci adalah juara!