Inspirasi

Digitalisasi Bisnis, Kunci Keberhasilan Kadar, Petani Kaktus Lembang

Seiring berjalannya waktu, usaha yang lahir dari modal foto ini akhirnya bertransformasi menjadi usaha yang menjanjikan dengan omzet Rp200 juta perbulan.

MENGOLEKSI  tanaman hias makin digandrungi banyak orang. Tak hanya  anggrek dan tanaman yang memiliki bunga warna warni, tetapi kaktus yang dikenal tanaman gurun pun digandrungi banyak orang untuk memperindah tampilan taman atau interior rumah. 

 

Tak peduli tua atau muda, seni memelihara kaktus menjadi suatu gaya hidup yang terus menerus dijaga. Akhirnya, kaktus pun memiliki nilai ekonomi  tinggi, seperti yang dialami petani muda asal Lembang, Kadar Sholih, 27.

 

Memulai usahanya dari rumah, bukan menjadi kendala bagi Kadar. Terletak di kawasan patahan Lembang, di Jalan Bukanagara, Jawa Barat, jalan menuju kediamannya cukup menanjak dan berbatu.  Meski berada di kawasan pegunungan, siapa sangka di daerah dengan suhu yang kerap membuat tubuh menggigil ini, justru kaktus paling berkualitas  berasal dari kawasan ini. 

 

 

Terlahir dari orang tua yang berprofesi sebagai petani kaktus menjadi awal kisah yang memacu Kadar untuk memulai berusaha. 

 

“Sejak SD (Sekolah Dasar), orang tua saya mulai menjadi petani kaktus,” tutur Kadar.

 

Sebelumnya, orang tua Kadar memasarkan kaktusnya pada wisatawan di Maribaya. Kegiatan tersebut berlangsung sampai Kadar lulus SMA. Melihat penjualan yang tak optimal, ia pun merasa resah dan mencari tahu cara paling efektif untuk memasarkan tanaman hias tersebut. 

 

Menjadi karyawan

 

Kebuntuan dalam mengembangkan usaha tak membuat Kadar tinggal diam. Saat itu, di Lembang terdapat pengusaha kaktus yang lebih maju, yakni Eric Kaktus. Kabar yang ia dengar itu membuatnya mengajukan diri menjadi karyawan. 

 

Saat itu, Kadar diajarkan untuk memasarkan kaktus melalui platform Instagram, Kaskus dan Bukalapak. Dari sana ia pun mengerti cara membudidayakan kaktus dengan baik. 

 

Hanya butuh waktu sekitar dua bulan, Kadar makin mafhum untuk membuat strategi pengembangan usaha keluarganya melalui platform online. Dan ia memilih resign dan fokus mengembangkan usahanya.


 

Modal foto

Bermodal foto alakadarnya, Kadar mulai menjajakan produknya melalui media sosial dan marketplace. Brand bernama Xuccuside.id lahir pada 2015. 

“Saat itu, fokus saya menjual kaktus secara borongan/grosir. Jadi yang mau pesan kaktus ada minimal ordernya 100 pcs,” ujarnya. 

 

Kadar tak hanya melihat usahanya berkembang dengan mengandalkan satu platform. Ketika Shopee dan Tokopedia mulai berselancar menjadi marketplace pilihan para pelaku Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), peluang digitalisasi tersebut dilakukan olehnya.

 

Untuk produk yang dipasarkan, yakni kaktus jenis sukulen dan gymno. Penjualan sendiri bisa disiapkan untuk souvenir acara pesta atau memang pure untuk tanaman hias saja. 

 

Seiring berjalannya waktu, usaha yang lahir dari modal foto ini akhirnya bertransformasi menjadi usaha yang menjanjikan. Ia menjelaskan bahwa omzet yang pernah ia terima saat paling besar Rp200 juta perbulan. Omzet terbesar itu didapatkan saat masa pandemi. 

 

 

“Untuk sekarang ya, alhamdulillah masih ngereuyeuh (bertahan). Jadi sempet banyak orang yang akhirnya terjun jualan online, karena saking banyaknya. Banyak juga yang akhirnya membanting harga. Cuman ya, kalo saya tetep mengoptimalkan penjualan lewat beriklan,” jelas pria yang berhasil mengembangkan usaha keluarganya itu.

 

Kadar menjelaskan bahwa kenapa kaktus di Lembang dianggap sebagai Kaktus dengan kualitas terbaik di Indonesia.  Sebenernya tempat yang menjadi sentra penghasil kaktus ada di Sukoharjo, Malang dan tempat-tempat lain di pulau Jawa. Namun, tetap pemasok terbesar mereka dari Lembang. 

 

Kendala

“Saya belum melakukan ekspor, karena memang banyak sekali dokumen yang harus disiapkan. Agak repot juga untuk nyiapinnya,” tambah Kadar. 

 

Minimnya pembudidayaan bibit Gymno di Indonesia membuat Kadar sering impor kaktus jenis tersebut dari Thailand. Karena memang sampai saat ini, Thailand adalah yang terdepan dalam hal pusat kaktus di dunia. 

 

Berkaca dari hal tersebut, Kadar berharap ada peran stakeholder mampu membantu pelaku usaha tanaman hias untuk mengembangkan produk tanaman hias. 

 

“Sampai saat ini, belum ada juga peran pemerintah terkait pengembangan budidaya kaktus di Lembang sebagai kota pengrajin kaktus terbesar,” pungkasnya. (SG-1)