SokoBisnis

Menperin Agus Pakai Batik di World Expo Osaka, Tegaskan Kecintaannya pada Produk Dalam Negeri

Kemenperin proaktif memacu pengembangan industri batik agar semakin produktif, inovatif, dan kompetitif. Selain warisan budaya, batik juga kekuatan ekonomi.

By Rosmery C Sihombing  | Sokoguru.Id
14 Juli 2025
<p>Menteri Perindustrian (Menperin)  Agus Gumiwang Kartasasmita dalam kunjungan kerjanya ke Jepang untuk menghadiri World Expo Osaka 2025 di Jepang mengenakan batik dan mempromosikan produk dalam negeri. (Dok. Kemenperin)</p>

Menteri Perindustrian (Menperin)  Agus Gumiwang Kartasasmita dalam kunjungan kerjanya ke Jepang untuk menghadiri World Expo Osaka 2025 di Jepang mengenakan batik dan mempromosikan produk dalam negeri. (Dok. Kemenperin)

SOKOGURU, OSAKA- Saat  mengunjungi paviliun China di World Expo Osaka 2025, Jepang,  Menteri Perindustrian (Menperin)  Agus Gumiwang Kartasasmita terlihat mengenakan batik.

Di pameran tersebut, Menperin melakukan pertemuan dengan para pelaku industri asal Negeri Sakura. Ia mempromosikan produk dalam negeri.

Kepada wartawan, Menperin menyampaikan pesan kuat mengenai pentingnya memperkuat kebanggaan nasional terhadap batik sebagai warisan budaya dan kekuatan industri kreatif Indonesia.

Baca juga: Sambut Hari Batik Nasional 2025, Kemenperin-YBI Dorong Perajin Terapkan Inovasi
“Kita harus berani menampilkan batik dalam berbagai event, terutama forum-forum internasional. Apalagi, batik sudah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya milik Indonesia. Sayang sekali kalau tidak kita sosialisasikan secara luas,” tuturnya di Osaka, Sabtu, 12 Juli 2025 waktu setempat.

Kecintaannya pada batik, lanjut Agus, bukan hanya sebagai simbol budaya, melainkan bentuk nyata keberpihakan terhadap produk dalam negeri. 

Sejak menjabat sebagai anggota DPR hingga kini sebagai Menteri Perindustrian, Agus mengaku, selalu memastikan penggunaan batik dalam berbagai acara formal, baik di dalam maupun luar negeri, selama tidak ada ketentuan berpakaian tertentu dari tuan rumah seperti memakai jas resmi.

Baca juga: Gelar Batik Nusantara 2025, Kemenperin dan YBI Angkat Potensi Batik Tulis Merawit Cirebon

“Kita harus bangga dengan apa yang kita miliki. Selain itu, kita juga harus agresif menunjukkan kekayaan budaya kita kepada dunia, termasuk batik. Kita punya kekayaan alam dan kekayaan intelektual yang luar biasa. Jangan disembunyikan, justru harus kita tampilkan dengan percaya diri,” tambahnya dalam keterangan resmi Kemenperin, Senin, 14 Juli 2025.

Menurutnya,  batik bukan hanya indah secara estetika, tetapi juga mendukung ekosistem ekonomi kreatif nasional. “Satu helai batik bisa menghidupi banyak orang di Indonesia, dari pengrajin, desainer, sampai pelaku usaha perdagangan batik,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari komitmen tersebut,tambah Menperin Agus, pihaknya akan menggelar kegiatan Gelar Batik Nasional (GBN) pada akhir bulan ini, bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2025. 

Acara tersebut diharapkan dapat menjadi momentum memperkuat citra batik sebagai simbol kebanggaan nasional yang modern dan relevan bagi seluruh generasi.

Baca juga: Batik Sekar Rinambat Jadi Primadona di ‘Bojonegoro Wastra Batik Festival 2025’, Ramai Diserbu Pengunjung!

“Batik itu jangan dianggap kuno. Batik bisa dipakai oleh semua generasi, termasuk anak-anak muda. Jangan sampai batik hanya diasosiasikan dengan sesuatu yang jadul. Justru harus dibiasakan, agar generasi muda juga bangga mengenakan batik dalam kesehariannya,” ujar Agus.

Menperin juga mengapresiasi upaya sejumlah sekolah yang menetapkan hari khusus bagi siswa untuk memakai batik. Menurutnya, kebiasaan seperti ini sangat positif untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya sejak usia dini.

Dari sisi industri, Menperin menyebutkan bahwa tren perdagangan batik terus meningkat setiap tahun. Namun, diyakininya potensi industri batik masih bisa ditingkatkan lebih jauh. 

Untuk itu, Kemenperin terus mendorong pengembangan industri batik melalui berbagai program pembinaan, penguatan pasar, serta pemanfaatan teknologi.

“Teknologi di sini bukan berarti mengabaikan desain batik itu sendiri, tetapi lebih kepada percepatan proses produksi. Karena itu, kita dorong penggunaan teknologi tanpa meninggalkan nilai artistik batik,” jelasnya.

Menperin menambahkan, kinerja ekspor batik pada triwulan I tahun 2025 mencatatkan nilai sebesar USD7,63 juta atau naik 76,2% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebesar USD4,33 juta. 

Berdasarkan Direktori Sentra BPS tahun 2020, pelaku industri batik di Indonesia berjumlah sekitar 5.946 industri dan 200 sentra IKM yang tersebar di 11 provinsi. 

“Data tersebut semakin menegaskan bahwa batik berperan besar dalam ekonomi Indonesia dan menjadi sumber mata pencaharian khalayak banyak,” ujarnya. 

Oleh karena itu, Kemenperin proaktif memacu pengembangan industri batik agar semakin produktif, inovatif, dan kompetitif.

Dengan semangat ini, Menperin berharap batik tidak hanya menjadi warisan yang dilestarikan, tetapi juga kekuatan ekonomi yang dapat mengangkat kesejahteraan masyarakat dan memperkuat identitas Indonesia di mata dunia. 

“Batik itu keren. Batik itu cool. Mari kita pakai dengan bangga,” tutup Menperin Agus. (SG-1)